Bahaya Hidroksiklorokuin dan Klorokuin sebagai Obat COVID-19

hidroksiklorokuin
Petugas menunjukkan obat Chloroquine yang akan diserahkan kepada RSPI Sulianti Saroso di Jakarta, Sabtu (21/3/20). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/pras.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Saat ini, para ilmuwan di seluruh dunia sedang mencari jawaban untuk mencari obat dari pandemi COVID-19, penyakit yang mengakibatkan lebih dari 100.000 kematian secara global.  Salah satu jenis obat yang tengah menjadi bahan percobaan adalah obat malaria, yaitu hidroksiklorokuin. 

Berdasarkan riset sebelumnya, hidroksiklorokuin bekerja dengan cara memblokir virus korona dari memasuki sel tubuh. Dilansir dari theconversation.com, gagasan hidroksiklorokuin dengan antibiotik azithromycin disebut efektif mengatasi COVID-19 hangat diperbincangkan akibat studi yang terbit akibat 17 Maret 2020 lalu.

Seorang ilmuwan asal Prancis Philippe Gautret melakukan percobaan terhadap 42 orang. Sejumlah 26 responden mendapat pengobatan, sementara 16 lainnya kontrol negatif. Hasil dari 26 responden yang mendapat pengobatan, 20 di antaranya sembuh. Sementara enam sisanya, tiga orang mengalami komplikasi, satu orang masuk ICU, dan dua lainnya tidak dapat melanjutkan penelitian dengan alasan lain.

Meski hasil yang didapatkan mendukung metode pengobatan ini, ilmuwan menekankan bahwa masyarakat harus melihat bahwa sebagian besar dari studi tersebut hanya memiliki gejala ringan.

Terlebih, 85 persen dari responden tidak mengalami demam. Hal tersebut menunjukkan bahwa virus tersebut sembuh secara alami tanpa intervensi.

Gautret menulis dalam artikelnya bahwa kekurangan dari penelitiannya adalah ukuran sampel yang kecil, tindak lanjut jangka panjang yang terbatas, dan keluarnya enam pasien dalam penelitian ini.

Melalui edition.cnn.com, terdapat indikasi awal bahwa obat ini memungkinkan dalam menyembuhkan atau mencegah COVID-19, belum ada uji klinis yang tuntas dan terdapat kekhawatiran akan dampak hidroksiklorokuin dan klorokuin terhadap jantung.

Saat ini, percobaan klorokuin di Brazil telah dihentikan. Rumah sakit di Swedia telah diperingatkan untuk tidak menggunakan obat tersebut untuk COVID-19. Para kardiolog Amerika juga mendesak dokter untuk berhati-hati terhadap potensi implikasi serius obat tersebut terhadap pasien dengan sejarah penyakit jantung.

Pada umumnya, hidroksiklorokuin dan klorokuin digunakan untuk pasien dengan penyakit malaria, lupus, rheumatoid arthritis (radang sendi kronis), dan penyakit auto imun lainnya. Dikutip dari theconversation.com, efek samping membahayakan hidroksiklorokuin/klorokuin beragam, mulai dari:

  1. Gangguan pada otot jantung dan memperburuk kondisi pasien dengan riwayat penyakit jantung.
  2. Gangguan pada pergerakan otot: sulit bergerak hingga kaku, kejang berlanjut, gerakan menyentak tidak teratur.
  3. Kerusakan retina hingga kebutaan jika menggunakan obat dalam jangka waktu lama (lebih dari lima tahun) dengan dosis tinggi.
  4. Kemungkinan interaksi berbahaya antara klorokuin dengan obat lain, seperti antibiotik, antimuntah, dan antidepresan.

Maka dari itu, penggunaan hidroksiklorokuin harus dilakukan dengan pengawasan ketat, seperti pemeriksaan darah, uji serum elektrolit, uji fungsi hati dan ginjal, uji fungsi mata, serta EKG untuk mengetahui fungsi jantung.

 

Penulis: Xena Olivia

Editor: Agatha Lintang

Foto: Aditya Pradana Putra (ANTARA)

Sumber: edition.cnn.com, washingtonpost.com, suara.com, bbc.com, theconversation.com, ncbi.nlm.nih.gov