Terlahir untuk Ciptakan Karya

Diskusi terbuka dengan Direktur Pemberitaan Metro TV Tommy Suryopratomo sedang berlangsung di Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), Tangerang, Sabtu (6/2). Diskusi tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa UMN yang tergabung dalam komunitas Pojok Sastra.
Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com – Tepat pukul satu siang, anak-anak dan beberapa orangtua sibuk menikmati atraksi jet ski yang ditampilkan di Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci), Tangerang. Selang beberapa menit, seseorang mengumumkan bahwa perlombaan mewarnai untuk anak-anak akan segera dimulai. Pada waktu yang sama, beberapa anak muda pun tampak bersiap mengenakan life vest atau jaket pelampung, lalu menyeberangi Sungai Cisadane untuk segera memulai diskusi terbuka.

Diskusi tersebut diselenggarakan oleh mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang tergabung dalam komunitas Pojok Sastra. Diskusi pun berlangsung di ruang terbuka yang bekerja sama dengan acara ‘Pameran Lukisan & Pagelaran Seni Budaya Nusantara’. Mengangkat tema ‘Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial’, pembahasan berfokus pada permasalahan lingkungan, salah satunya adalah air bersih.

“Kenapa tema ini, karena kami merasa mahasiswa hari ini terlihat ngantuk, dalam artian kurang bergairah. Jujur, saya pribadi sangat rindu sama mahasiswa zaman seperti Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan lain-lain. Saya kurang merasakan nuansa romantisme menjadi mahasiswa hari ini, terutama lingkungan terdekat saya,” kata Ketua Pojok Sastra, Yudisthira Swarabahana, Sabtu (6/2).

Direktur Pemberitaan Metro TV Tommy Suryopratomo selaku pembicara menjelaskan tiga hal dalam kesempatan tersebut. Hal pertama yang disampaikan, yakni bagaimana mahasiswa dan masyarakat dapat bersama-sama menjaga lingkungan, terutama air bersih. Menurut Tommy, 60% penduduk di Indonesia tidak memperoleh air bersih yang dapat dimanfaatkan. Di Jakarta pun mayoritas warga membeli air PAM, karena tidak dapat menikmati air bersih.

Tommy memberi gambaran bahwa di negara-negara lain, seperti Amerika, Republik Rakyat Tiongkok, dan Korea, banyak rumah yang dibangun menghadap sungai. Hal itu dilakukan agar membangun awareness untuk tidak mengotori sungai, sehingga warga dapat melihat pemandangan yang indah saat keluar rumah.

“Kalau membiarkan air tercemar, itu dapat membunuh kehidupan kita. Air adalah kehidupan, karena itu penting untuk dijaga,” ujar Tommy.

Kedua, bagaimana mahasiswa dapat peduli terhadap lingkungan. Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) harus dilakukan seminimal mungkin, karena masyarakat akan dituntut untuk mengurangi CO2 di masa mendatang.

Ketiga adalah bagaimana membangun kepedulian terhadap sesama, baik mahasiswa maupun masyarakat. Pendidikan dan keterampilan, menurut Tommy, merupakan modal untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Sebanyak 75% orang Indonesia mengenyam pendidikan hanya pada tingkat SMP ke bawah.

Dengan demikian, mahasiswa di era ini diharapkan dapat berkontribusi atau melakukan sebuah aksi, sehingga masyarakat yang membutuhkan memiliki kompetensi. Salah satunya adalah dengan mendorong orangtua untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak atau memberikan pelatihan keterampilan yang sesuai dengan minat.

“Kita ini termasuk kelompok orang yang beruntung. Mahasiswa adalah kekuatan perubahan. Kita harus membangun peradaban yang aman, nyaman, dan peduli dengan sesama,” jelasnya.

Selain diskusi, acara ini sekaligus menjadi ajang peluncuran buku kumpulan puisi Pojok Sastra yang berjudul Mahasiswa Sebait Lagi.

Asah pemikiran dari hati

Usai berdiskusi dengan Tommy, peserta dan anggota Pojok Sastra kembali melanjutkan pembahasan tentang mahasiswa, media, dan teknologi. Interaksi pun berjalan sekitar dua jam.

Pojok Sastra lahir dari ‘celetuk’ untuk membangun sebuah komunitas yang ‘ngobrol’ dan memiliki konten saat Yudisthira sedang bercakap tentang sastra, novel, dan filosofi. Filosofi kata ‘Pojok’ menjelaskan agar tidak meremehkan orang-orang yang termajinalkan atau terpinggirkan. Tidak hanya itu, penggunaan kata ‘Sastra’ menggambarkan bahasa sansekerta, diartikan sebagai sebuah teks yang berisi instruksi.

“Kita mau ngomongin isu yang luas, bukan hanya musik atau novel, tapi semua hal yang fundamental, seperti agama, filsafat, dan sosial. Bahkan, musik dan agama pun merupakan sastra,” ujar Yudisthira.

Hingga saat ini, Pojok Sastra beranggotakan 37 mahasiswa UMN dari angkatan 2013, 2014, dan mayoritas 2015. Terbentuk sejak 2015 silam, setiap minggu Pojok Sastra mengadakan sebuah pertemuan di lantai tiga gedung C UMN. ‘Piknik Sastra Bersama Senja’ merupakan acara pertama sebelum senja yang dilanjutkan dengan membaca buku, diskusi, dan ditutup doa dalam puisi.

Pembahasan yang pernah diangkat dalam diskusi, di antaranya tentang peran kata bagi manusia, toleransi beragama, dan kehendak bebas atau determinisme. Selain itu, program lain yang direncanakan adalah menggelar kegiatan sosial diskusi terbuka setiap enam bulan sekali atau per semester.

“Diskusi terbuka ini acara di mana kita terjun ke masyarakat, nyobain seperti tadi belajar menggambar sama anak-anak pemulung setiap enam bulan dan pembicara dari luar. Karena gue selalu berpikir, dari kegelisahan, dari pikiran, jatuh ke sastra, jatuh ke perbuatan,” tuturnya.

Berangkat dari diskusi tersebut, lanjut Yudisthira, mahasiswa diharapkan dapat mengasah pemikiran, memiliki gairah, dan berkeinginan untuk belajar bersama-sama.

“Pengennya santai. Mereka datang karena merasa Pojok Sastra bermanfaat. Gue gak mau anak UMN atau anak lain datang ke Pojok Sastra cuma mau absen, SKKM, atau dapat nilai. Gue mau mereka datang ke Pojok Sastra dari hati,” harapnya.

Penulis: Lani Diana

Fotografer: Lani Diana