SERPONG, ULTIMAGZ.com – Gisele Pelicot berdiri di ruang sidang Avignon sebagai penyintas yang memilih meninggalkan anonimitas demi mengungkapkan kebenaran pahit. Kisahnya merupakan salah satu kasus kekerasan seksual paling tragis. Setelah membius Pelicot dengan obat penenang yang kuat, suaminya, Dominique, mengundang puluhan laki-laki untuk melakukan serangan seksual di kamar tidur mereka.
Kasus kekerasan seksual ini terkuak pada 2020, ketika Dominique ketahuan merekam bagian bawah rok seorang perempuan di supermarket secara diam-diam . Setelah penangkapan atas aksi tersebut, polisi menemukan bukti rekaman berupa rekaman Pelicot yang dilecehkan oleh sekitar 70 laki-laki berbeda. Semua video dan foto direkam oleh Dominique sendiri dan tindakan tersebut sudah dimulai sejak 2011 silam, dilansir dari nytimes.com.
Baca juga: Roehana Koeddoes, Perempuan Penggerak Pena dan Perubahan
Melansir theguardian.com, keputusan Pelicot untuk tidak anonim menegaskan bahwa “rasa malu harus berpindah pihak” (shame has to change sides) dan membentuk perlawanan sadar. Baginya, penderitaan seorang korban kekerasan seksual acap kali diperparah oleh rasa malu yang seharusnya sepenuhnya ditanggung oleh pelaku.
Pelicot menganggap keputusannya untuk tampil ke publik merupakan sebuah misi. Ia ingin mengungkapkan kejahatan suaminya dan bagaimana sistem hukum membiarkan budaya penyangkalan terhadap kekerasan seksual tetap bertahan. Dengan mengadakan sidang terbuka agar memaksa dunia untuk melihat tindakan kejahatan yang difasilitasi oleh zat psikoaktif (chemical submission), yaitu penggunaan obat-obatan tanpa persetujuan untuk melumpuhkan kemampuan korban dalam melawan, dilansir dari theguardian.com.
Baca juga: Centang Biru X: Tempat Mencari Uang Baru?
Dari itu kasus kekerasan tersebut, Pelicot mengalami benturan antara ingatan positif pernikahan selama 50 tahun dengan kenyataan pahit yang terungkap. Meski mengalami trauma, Pelicot memilih untuk tidak menjadi pribadi yang pahit atau penuh kebencian. Ia membuktikan bahwa seorang penyintas mampu membangun kembali hidupnya melalui optimisme, dilansir dari cbc.ca.
Kisah Pelicot mengingatkan kembali bahwa keberanian sejati adalah keputusan untuk tetap berdiri tegak di tengah kehancuran. Setelah semua peristiwa yang ia alami, Pelicot menerbitkan buku bertajuk A Hymn to Life. Sebagai sebuah pesan bahwa cahaya keadilan hanya bisa bersinar jika seseorang cukup berani untuk menyalakan api kebenaran. Gisele Pelicot telah menyelesaikan tugasnya di ruang sidang, sekarang giliran masyarakat luas untuk memastikan bahwa suara yang telah ia sampaikan tidak kembali senyap.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Reza Farwan
Foto: Barrons.com
Sumber: nytimes.com, theguardian.com, cbc.ca.




