• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Saturday, May 9, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Iptek

Buruh Garmen Perempuan: Jahitan dan Kisah yang Terpinggirkan

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
May 9, 2026
in Iptek, Perempuan
Reading Time: 3 mins read
buruh

Potret buruh garmen perempuan di Indonesia. (Voaindonesia.com)

0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sari (nama samaran) menghabiskan hari-harinya dengan duduk diam menghadap mesin jahit demi mengejar target 1.200 potong kaus per hari. Dalam tekanan target tersebut, ia bahkan tidak berani untuk sekadar minum atau pergi ke toilet karena takut kehilangan waktu produksi yang berharga. Ia juga harus berada di ruangan panas dengan paparan debu kain tanpa ventilasi yang memadai . 

Karena itu, Sari pernah kehilangan bayi kandungannya akibat kelelahan bekerja lembur dan tidak menerima dispensasi untuk pemeriksaan kehamilan yang layak di pabrik. Kisah Sari, dikutip dari Project Multatuli, menunjukkan bahwa di balik pakaian yang dibeli, ada pengorbanan nyawa dan kesehatan perempuan untuk efisiensi biaya produksi global. 

Baca juga: Mengenal Christina Koch, Srikandi NASA Pengubah Sejarah Antariksa

Industri tekstil bergantung pada tenaga kerja perempuan karena adanya konstruksi sosial yang menganggap perempuan lebih mudah dikendalikan dan bersedia menerima upah rendah. Tekanan ini diperparah dengan lingkungan kerja yang tidak sehat seperti ventilasi buruk, paparan debu kain yang mengancam paru-paru, dan minimnya jaminan kesehatan. Praktik legal yang tidak adil ini tercermin dalam kontrak kerja jangka pendek, membuat buruh terus berada dalam ketidakpastian, dilansir dari projectmultatuli.org.

Industri tekstil juga sering mengabaikan hak-hak reproduksi pekerja perempuan yang diperparah dengan ketiadaan ruang laktasi di lingkungan kerja. Sulitnya akses cuti haid dan melahirkan memaksa mereka untuk tetap produktif di bawah tekanan fisik. Ditambah juga dengan tuntutan dan tanggung jawab domestik tanpa adanya dukungan sistemik. 

Tekanan dari pemilik merek besar untuk menghasilkan produk biaya rendah dalam waktu cepat menekan pihak manajemen pabrik melakukan efisiensi. Ketidakstabilan sistem kontrak kerja hingga pengabaian standar keselamatan merupakan beberapa efisiensi yang merugikan buruh garmen perempuan. Mekanisme outsourcing dan sub-kontrak berlapis juga menjadi celah bagi perusahaan multinasional untuk mengabaikan tanggung jawab, yang berujung pada pelanggaran hak buruh, dilansir dari validnews.id.

Di tengah sistem eksploitatif, perlawanan buruh garmen perempuan tumbuh melalui penguatan serikat pekerja dan advokasi yang dilakukan oleh lembaga. Salah satunya adalah Trade Union Rights Centre (TURC) yang berjuang menuntut transparansi dalam pemenuhan hak-hak normatif. Mereka mengupayakan upah yang layak hingga perlindungan dari kekerasan fisik dan verbal di lantai produksi. Namun, upaya tersebut kerap terhalang oleh ketakutan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak.

Baca juga: Gerwani: Perjuangan Emansipasi dan Bayang-Bayang Sejarah

Di sisi lain, tren ethical fashion (fesyen berkelanjutan) mulai muncul sebagai respons dari dampak buruk industri tekstil. Akan tetapi, praktik ini masih sulit dilakukan karena sebagian besar konsumen masih tergiur oleh harga murah. Hadirnya kritik dari publik dan mayoritas juga kurang efisien karena hanya menyentuh permukaan tanpa memahami kompleksitas struktural yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan desakan publik yang lebih besar untuk memaksa perubahan sistemik di industri ini demi menolong kehidupan pekerja perempuan, dilansir dari dw.com.

Realitas ini mengingatkan Ultimates bahwa pakaian adalah manifestasi dari jam kerja dan kesehatan buruh garmen perempuan yang dipaksa untuk tunduk pada mesin. Perubahan hanya akan datang dari kebijakan yang berpihak pada buruh dan kesadaran konsumen untuk berhenti menormalisasi eksploitasi. Pada akhirnya, tidak ada keindahan dalam gaya yang lahir dari penderitaan.

 

 

Penulis: Jemima Anasya R.

Editor: Celine Valleri

Foto: voaindonesia.com

Sumber: projectmultatuli.org, validnews.id, dw.com.

Tags: anti kekerasanburuhdiskriminasi perempuanEkonomiEkonomi inklusiffashionfashion indonesiafashion industryfast fashionhak buruhhak perempuanindustri tekstilindustrimodekampanye perempuankeamanan perempuankekerasankekerasan pada perempuanmodetekstil
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

Kode busana Met Gala 2026. (Vogue)
Hiburan

“Fashion is Art”: Ketika Met Gala 2026 Gunakan Pakaian sebagai Kanvas

May 6, 2026
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Jumat (01/05/2026). [foto id="384"]
Event

Prabowo Hadiri May Day di Monas: Tekankan Hak-Hak Buruh

May 2, 2026
Christina Koch, NASA, Antariksa
Iptek

Mengenal Christina Koch, Srikandi NASA Pengubah Sejarah Antariksa

April 27, 2026
Next Post
Jajaran rektorat Universitas Multimedia Nusantara pada acara Bincang Hangat 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Keluarga Besar Mahasiswa (DKBM) di Function Hall pada Selasa (05/05/26). [foto id="400"]

Bincang Hangat 2026 bersama Rektorat: Suarakan Aspirasi Mahasiswa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − one =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021