SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sari (nama samaran) menghabiskan hari-harinya dengan duduk diam menghadap mesin jahit demi mengejar target 1.200 potong kaus per hari. Dalam tekanan target tersebut, ia bahkan tidak berani untuk sekadar minum atau pergi ke toilet karena takut kehilangan waktu produksi yang berharga. Ia juga harus berada di ruangan panas dengan paparan debu kain tanpa ventilasi yang memadai .
Karena itu, Sari pernah kehilangan bayi kandungannya akibat kelelahan bekerja lembur dan tidak menerima dispensasi untuk pemeriksaan kehamilan yang layak di pabrik. Kisah Sari, dikutip dari Project Multatuli, menunjukkan bahwa di balik pakaian yang dibeli, ada pengorbanan nyawa dan kesehatan perempuan untuk efisiensi biaya produksi global.
Baca juga: Mengenal Christina Koch, Srikandi NASA Pengubah Sejarah Antariksa
Industri tekstil bergantung pada tenaga kerja perempuan karena adanya konstruksi sosial yang menganggap perempuan lebih mudah dikendalikan dan bersedia menerima upah rendah. Tekanan ini diperparah dengan lingkungan kerja yang tidak sehat seperti ventilasi buruk, paparan debu kain yang mengancam paru-paru, dan minimnya jaminan kesehatan. Praktik legal yang tidak adil ini tercermin dalam kontrak kerja jangka pendek, membuat buruh terus berada dalam ketidakpastian, dilansir dari projectmultatuli.org.
Industri tekstil juga sering mengabaikan hak-hak reproduksi pekerja perempuan yang diperparah dengan ketiadaan ruang laktasi di lingkungan kerja. Sulitnya akses cuti haid dan melahirkan memaksa mereka untuk tetap produktif di bawah tekanan fisik. Ditambah juga dengan tuntutan dan tanggung jawab domestik tanpa adanya dukungan sistemik.
Tekanan dari pemilik merek besar untuk menghasilkan produk biaya rendah dalam waktu cepat menekan pihak manajemen pabrik melakukan efisiensi. Ketidakstabilan sistem kontrak kerja hingga pengabaian standar keselamatan merupakan beberapa efisiensi yang merugikan buruh garmen perempuan. Mekanisme outsourcing dan sub-kontrak berlapis juga menjadi celah bagi perusahaan multinasional untuk mengabaikan tanggung jawab, yang berujung pada pelanggaran hak buruh, dilansir dari validnews.id.
Di tengah sistem eksploitatif, perlawanan buruh garmen perempuan tumbuh melalui penguatan serikat pekerja dan advokasi yang dilakukan oleh lembaga. Salah satunya adalah Trade Union Rights Centre (TURC) yang berjuang menuntut transparansi dalam pemenuhan hak-hak normatif. Mereka mengupayakan upah yang layak hingga perlindungan dari kekerasan fisik dan verbal di lantai produksi. Namun, upaya tersebut kerap terhalang oleh ketakutan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak.
Baca juga: Gerwani: Perjuangan Emansipasi dan Bayang-Bayang Sejarah
Di sisi lain, tren ethical fashion (fesyen berkelanjutan) mulai muncul sebagai respons dari dampak buruk industri tekstil. Akan tetapi, praktik ini masih sulit dilakukan karena sebagian besar konsumen masih tergiur oleh harga murah. Hadirnya kritik dari publik dan mayoritas juga kurang efisien karena hanya menyentuh permukaan tanpa memahami kompleksitas struktural yang ada. Oleh karena itu, dibutuhkan desakan publik yang lebih besar untuk memaksa perubahan sistemik di industri ini demi menolong kehidupan pekerja perempuan, dilansir dari dw.com.
Realitas ini mengingatkan Ultimates bahwa pakaian adalah manifestasi dari jam kerja dan kesehatan buruh garmen perempuan yang dipaksa untuk tunduk pada mesin. Perubahan hanya akan datang dari kebijakan yang berpihak pada buruh dan kesadaran konsumen untuk berhenti menormalisasi eksploitasi. Pada akhirnya, tidak ada keindahan dalam gaya yang lahir dari penderitaan.
Penulis: Jemima Anasya R.
Editor: Celine Valleri
Foto: voaindonesia.com
Sumber: projectmultatuli.org, validnews.id, dw.com.


![Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monumen Nasional, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Jumat (01/05/2026). [foto id="384"]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/TEMPLATE-WATERMARK-UMAGZ-1-2-350x250.png)

![Jajaran rektorat Universitas Multimedia Nusantara pada acara Bincang Hangat 2026 yang diselenggarakan oleh Dewan Keluarga Besar Mahasiswa (DKBM) di Function Hall pada Selasa (05/05/26). [foto id="400"]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/24_20260509_125734_0001-75x75.png)
