• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Thursday, March 12, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

The Professor and the Madman: Persahabatan di Balik Kata

Jemima Anasya Rachman by Jemima Anasya Rachman
March 12, 2026
in Film, Hiburan, Trailer FIlm
Reading Time: 5 mins read
The Professor and the Madman

Cuplikan dari film the professor and the madman. (itsbetterinthedark.blogspot)

0
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ .com – The Professor and the Madman (2019) adalah sebuah biografi yang menceritakan sejarah tersusunnya kamus Oxford. Karakter utamanya diperankan oleh Mel Gibson (James Murray) dan Sean Penn (Dr. William Chester Minor). Film ini memberikan perspektif emosional mengenai kecemerlangan intelektual yang dapat lahir dari tempat paling gelap.

Produksi film tersebut merupakan proyek panjang bagi Mel Gibson, ia telah membeli hak cipta novel The Surgeon of Crowthorne karya Simon Winchester sejak bertahun-tahun sebelumnya. Awalnya Gibson bermaksud untuk menyutradarai karya ini sendiri, tetapi ia memilih untuk menyerahkan posisi tersebut kepada Farhad Safinia, penulis film Apocalypto , dilansir dari theguardian.com .

Baca juga: Jay Kelly: Mengintip ke Dalam Hidup di Depan Kamera
The Surgeon of Crowthorne berlatar  di Inggris pada abad ke-19, Oxford University Press berjuang untuk menyelesaikan proyek yang telah terbengkalai selama puluhan tahun. Proyek tersebut adalah Kamu menyusun Bahasa Inggris Oxford ( Oxford English Dictionary ) yang melacak sejarah setiap kata dalam bahasa Inggris dan dianggap hampir mustahil.

James Murray merupakan seorang ahli bahasa otodidak yang pintar, meskipun tidak mempunyai gelar akademis formal dari Oxford ketika dipilih untuk memimpin proyek tersebut. Pemilihan Murray sebagai pemimpin proyek, diprotes oleh para akademisi karena mengira sebagai “orang luar”. Mengingat kata jumlah bahasa, Murray mencetuskan ide progresif yaitu menyebarkan selebaran ke seluruh Inggris dan meminta masyarakat umum untuk mengirimkan kata-kata beserta kutipan literatur yang menunjukkan kegunaannya.

Karakter selanjutnya adalah Dr. William Chester Minor, seorang mantan ahli bedah tentara yang menderita skizofrenia paranoia akibat trauma perang. Ketika mengalami delusi, Dr. Minor membunuh George Merrett dan meninggalkan istri Merrett bersama enam cucu dalam kemiskinan. Dr. Minor menemukan selebaran Murray ketika berada di penjara karena pembunuhan tersebut. Setelah itu ia mulai mendedikasikan hidupnya untuk membantu proyek tersebut dengan kecerdasannya yang luar biasa, dilansir dari kompas.com

Dr. Minor mengirim ribuan kata akurat sehingga mempercepat pengerjaan kamus. Dari situ, Murray penasaran dengan kontributor paling produktifnya dan memutuskan untuk mengunjungi Dr. Minor. Murray terkejut saat mengetahui rekan intelektualnya merupakan seorang penembak di rumah sakit jiwa khusus kriminal.
Baca juga: 12 Angry Men: Ketika Satu Suara Mengubah Segalanya

Melansir mentalfloss.com , cerita konflik memuncak ketika Broadmoor melakukan eksperimen medis yang kejam terhadap Dr. Minor untuk menyembuhkan penyakit mentalnya. Murray dan istrinya, Ada, (Jennifer Ehle) berjuang keras untuk menyelamatkan Dr. Minor dari memaksakan tersebut. Melihat sahabatnya diperlakukan layaknya binatang percobaan, Murray menyukai reputasi dan kariernya untuk membebaskan Dr. Minor. Upaya tersebut dilakukan hingga membuat mereka berhadapan dengan tokoh-tokoh petinggi Inggris, termasuk Winston Churchill ketika masih muda.

Meskipun Murray wafat sebelum kamus tersebut selesai sepenuhnya, kolaborasi mereka telah menciptakan karya sastra yang tak tertandingi. The Professor and the Madman adalah pengingat bahwa bahasa memiliki kekuatan untuk memanusiakan seseorang. Kini, berkat dedikasi mereka yang terlihat dalam film tersebut, setiap kata dalam bahasa Inggris memiliki “rumah” dalam sejarah dunia.

 

 

Penulis: Jemima Anasya R.

Editor: Reza Farwan

Foto: Itsbetterinthedark.blogspot

Sumber: Theguardian.com, kompas.com, mentalfloss.com.

 

Tags: aesthetic filmakademikakademisiartikel sejarahbiografibukuenglandkamusmata sejarahoxford universitypendidikanpublikasi akademikSejarah
Jemima Anasya Rachman

Jemima Anasya Rachman

Related Posts

Goodbye Eri
Literatur

Goodbye Eri: Ketika Duka Menjadi Seni

March 11, 2026
George Russell (Mercedes) memenangkan Australia Grand Prix Formula 1 (08/03/2026) (Formula 1)
Hiburan

Era Baru, Dominasi Baru: George Russell Bawa Mercedes Kuasai GP Australia 2026

March 10, 2026
Alternatif
Iptek

Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang

March 10, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − sixteen =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021