SERPONG, ULTIMAGZ.com – Fenomena remake (pembuatan ulang dengan kisah sama) dan reboot (pengerjaan ulang dengan visi baru) di Hollywood saat ini telah mencapai titik sulit untuk menemukan poster film di bioskop tanpa angka di belakang judulnya atau kata-kata seperti The Beginning di awal film. Namun, di balik rasa jenuh yang sering dikeluhkan penonton, terdapat alasan yang mendalam mengapa daur ulang ini terus terjadi.
Melansir theguardian.com, secara fundamental, dominasi remake adalah strategi manajemen risiko yang ekstrem. Di era modern, biaya produksi sebuah film blockbuster bisa dengan mudah menembus angka $200 juta, belum termasuk biaya pemasaran yang masif. Bagi studio besar, mengeluarkan modal sebesar itu untuk sebuah ide orisinal yang belum teruji adalah sebuah perjudian yang menakutkan.
Baca juga: Memahami Disabilitas Taktampak: Apa Arti di Balik Lanyard Bunga Matahari?
Di sinilah Intellectual Property (IP) atau kekayaan intelektual memainkan peran kunci. Film didasarkan pada franchise yang sudah populer, seperti pahlawan super, buku klasik, atau film lawas yang populer. Franchise ini juga tentu akan mendatangkan banyak penggemar dari berbagai kalangan. Studio tidak perlu lagi bekerja keras memperkenalkan siapa karakternya, mereka hanya perlu meyakinkan penonton bahwa versi kali ini lebih modern atau lebih baru.
Selain faktor finansial, Hollywood juga sangat pintar memanfaatkan nostalgia. Terdapat pola yang berulang setiap 20-30 tahun. Waktu selama ini biasanya cukup bagi anak-anak yang dulu menonton film aslinya untuk tumbuh dewasa, mulai memiliki penghasilan sendiri, lalu merindukan masa kecil mereka. Ketika rasa rindu itu muncul, mereka lebih mudah tertarik menonton remake, reboot, atau sekuel dari film yang mereka cintai dulu. Jadi, industri film sengaja memanfaatkan siklus emosional ini untuk menarik penonton lama kembali ke bioskop, dilansir dari theconversation.com.
Nostalgia memberikan rasa aman yang palsu tapi menenangkan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian. Menonton reboot dari kartun hari Minggu favorit bukan sekadar tentang menonton film, melainkan tentang upaya membeli kembali perasaan bahagia saat kita belum memiliki beban tagihan atau pekerjaan. Studio mengetahui bahwa penonton akan membayar tiket tidak untuk mengharapkan cerita baru, tetapi karena ingin merasakan kembali keajaiban yang sama yang dirasakan berpuluh-puluh tahun lalu.
Baca juga: Dari Lolita Hingga Gyaru: Kenali Dunia Fesyen Alternatif dari Jepang
Mengutip fsunews.com, banyak pengamat berargumen bahwa Hollywood sedang mengalami krisis kreativitas, tetapi kenyataannya jauh lebih rumit. Hollywood tidak kekurangan penulis atau sutradara, mereka justru kekurangan eksekutif yang berani mengambil risiko. Saat ini, proses persetujuan sebuah film (greenlighting) sering kali di proses oleh data dan algoritma daripada intuisi artistik. Misalnya, jika data menunjukkan bahwa penonton lebih banyak menonton konten nostalgia tahun 90-an, studio akan memerintahkan pembuatan ulang film dari era tersebut.
Selama penonton masih memberikan angka box office yang fantastis untuk film-film ini, industri akan terus memberikan apa yang kita minta, meskipun kita sering kali mengeluh tentang kurangnya orisinalitas. Masyarakat, sebagai penonton, diibaratkan sebagai bahan bakar utama dari mesin daur ulang ini.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Velleri
Foto: hollywoodinsider.com
Sumber: theguardian.com, theconversation.com, fsunews.com.




