SERPONG, ULTIMAGZ.com – Media sosial belakangan ini digemparkan oleh aksi netizen yang menandai kediaman pribadi Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo, di Google Maps dengan nama Tembok Ratapan Solo. Di media sosial, istilah ini menjadi bahan lelucon netizen untuk membuat konten humoris.
Fenomena bermula ketika beredarnya video seorang pemuda yang seolah sedang meratap di depan gerbang rumah kediaman Jokowi. Aksi tersebut seketika menjadi bahan lelucon di berbagai media sosial. Hal ini bukan sekadar humor biasa, melainkan bentuk sindiran kreatif terhadap dinamika politik Indonesia saat ini. Dengan ramainya video pemuda tersebut membuat banyak netizen yang berkunjung dari berbagai daerah untuk berfoto, bersalaman, atau sekedar melihat rumah Jokowi. Kini kediaman Jokowi disebut sebagai tempat hype untuk anak generasi Z.
Baca juga: Pengalihan Isu: Trik Lama dalam Wajah Baru Politik Indonesia
Tidak hanya Tembok Ratapan Solo, netizen juga memberikan nama-nama lain lain seperti, Temple of Solowi, Tembok yang dijanjikan 3000 Tahun yang Lalu, bahkan Sinaoga Yerussolo. Beberapa netizen menilai ini sebagai bentuk sindiran halus, sementara yang lain menganggapnya sebagai kreativitas dan lelucon belaka.
Melansir tempo.co, ajudan Jokowi, Ajudan Komisaris Besar Syarif Muhammad Fitriansyah, mengatakan bahwa pihaknya telah mengetahui perubahan nama kediaman Jokowi yang ada di Google Maps. “Ya, saya sudah tahu,” ujar Syarif melalui pesan WhatsApp saat dikonfirmasi oleh pihak Tempo.
Perubahan nama kediaman ini dianggap biasa saja. Bahkan menurut Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie, fenomena tersebut menunjukkan bukti bahwa Jokowi dicintai oleh masyarakat, dilansir dari news.detik.com.
Label Tembok Ratapan Solo ini merujuk pada Tembok Ratapan di Yerusalem, tempat umat Yahudi menuliskan doa dan keluh kesah. Tembok Ratapan merupakan sisa dinding penopang Bait Suci Kedua yang hancur oleh Romawi pada 70 Masehi. Setelah berabad-abad, tembok tersebut menjadi tempat umat Yahudi berdoa dan meratapi kehancuran Bait Allah, dilansir dari suara.com.
Julukan ini muncul karena banyak orang datang ke rumah Jokowi untuk menyampaikan keluhan atau kekecewaan mereka. Istilah “ratapan” menjadi satir bagi orang yang mengeluh terhadap situasi politik atau kebijakan. Setelah ramai di peta digital dan media sosial, julukan itu semakin dikenal luas oleh banyak orang.
Baca juga: Efisiensi Anggaran Pendidikan: Sudah Efisien atau Sekadar Pemangkasan?
Hingga kini, kediaman Jokowi tetap ramai akan pengunjung yang ingin menyaksikan dan bahkan melakukan lelucon ratapan untuk diunggah di sosial media mereka. Fenomena ini menunjukan kekuatan media sosial dalam meramaikan tren di Indonesia dalam menciptakan tren yang mengaburkan batasan antara dunia nyata dan humor digital.
Bagaimana dengan kalian, Ultimates? Apakah Ultimates ikut meramaikan tren Tembok Ratapan Solo ini, atau hanya sekadar menjadi penonton di balik layar?
Penulis: Suci Alyssa Suherman
Editor: Reza Farwan
Foto: katadata.co.id
Sumber: suara.com, news.detik.com, tempo.co.





