SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bisakah Ultimates bayangkan apa yang akan terjadi jika seluruh perempuan di suatu negara sepakat untuk berhenti bekerja selama satu hari? Tidak hanya di kantor dan pabrik saja, tetapi juga di sekolah bahkan rumah. Hal tersebut benar-benar terjadi di Islandia pada 1975, menjadikannya sebagai aksi ikonik dalam sejarah Islandia.
Pada 24 Oktober 1975, sekitar 25.000 perempuan memenuhi jalan Reykjavik untuk menyuarakan ketidaksetaraan yang mereka dapatkan dalam bekerja sehari-hari. Aksi tersebut menunjukkan secara langsung dampak dan peran perempuan dalam segi ekonomi maupun kehidupan masyarakat.
Baca Juga: Bohlale Mphalele, Tokoh di Balik Penjagaan Digital Keamanan Perempuan
Aksi itu memberi guncangan bagi sekolah, rumah sakit, dan berbagai sektor penting di Islandia. Banyak laki-laki terpaksa belajar mengurus rumah tangga dan membawa anak mereka ikut bekerja. Momen ini dijuluki sebagai “Long Friday”, dilansir dari nationalgeographic.com. Masyarakat Islandia hingga kini terus mengenang aksi tersebut sebagai ‘kvennafrí’ atau ‘Women’s Day Off’, sebuah aksi yang mengubah wajah kesetaraan gender di sana selamanya.
Di Balik Woman’s Day Off
Ásthildur Ólafsdóttir, salah satu perwakilan di hari itu, membuka pidatonya dengan sebuah fabel tentang keluarga tikus. “Ibu tidak berpikir dan kami pun tidak berpikir. Apakah hanya ayah yang berpikir di sini?” tanya bayi-bayi tikus. “Tidak, tetapi ayah selalu berpikir. Dan dia yang mengurus semua masalah.”
Melalui cerita sederhana itu, ia menggambarkan bagaimana masyarakat telah terlalu lama membiarkan laki-laki mengambil hampir seluruh keputusan dan menentukan peran perempuan. Hal ini terefleksi dalam pilihan yang tersedia.
Melansir dari bbc.com, 60 tahun sejak perempuan memperoleh hak suara, hanya 9 dari mereka yang menduduki kursi parlemen. Perubahan yang stagnan, minimnya kesetaraan upah, sampai suara yang diacuhkan menuntun berbagai perempuan di Islandia untuk berkumpul dan mengambil tindakan.
Melansir jacobin.com, gerakan ini sejatinya pertama kali diinisiasi oleh organisasi feminis Redstockings pada Oktober 1970. Namun, ide tersebut sempat ditolak dan baru kembali mencapai permukaan dalam konferensi menyambut International Women’s Year yang diadakan di Januari 1975.
Aksi mogok yang diajukan itu pun diterima dengan baik oleh perempuan berpenghasilan rendah. Sehingga lahirlah sebuah mosi: seluruh perempuan Islandia harus meninggalkan pekerjaan mereka selama satu hari.
Dukungan yang terus mengalir ini membuat mosi pemogokan kembali diajukan pada Juni 1975. Kali ini, mosi tersebut diwakili oleh delapan perempuan yang dipilih dengan cermat untuk merepresentasikan berbagai latar belakang sosial dan profesi. Mulai dari kalangan liberal dan konservatif, guru, pegawai toko, manajer kantor, hingga ibu tunggal. Semua ini didasari oleh satu tujuan, yaitu memastikan dukungan pergerakan seluas mungkin bagi pergerakan tersebut.
Baca Juga: Roehana Koeddoes, Perempuan Penggerak Pena dan Perubahan
Mosi itu akhirnya lolos, tetapi dengan satu kompromi. Sebagian perempuan dari kubu kanan menilai kata “mogok” atau “strike” memiliki konotasi yang terlalu radikal. Akhirnya, demi menjaga solidaritas spektrum politik, konferensi sepakat mengganti istilah tersebut menjadi “hari libur” atau “Women’s Day Off.”
Hingga saat ini, aksi tersebut terus diulang beberapa kali sebagai pengingat bahwa perjuangan belum usai selama kesenjangan gender masih terasa. Meski kisah yang disampaikan oleh Ásthildur Ólafsdóttir memang belum sepenuhnya terjawab, tetapi “Women’s Day Off” telah membuktikan satu hal: ketika perempuan berhenti, dunia pun ikut berhenti.
Penulis: Annabelle Chloe
Editor: Reza Farwan
Foto: theguardian.com, Icelandic Women’s History Archives
Sumber: theguardian.com, nationalgeographic.com, kvennasogusafn.is, kompas.com, nhk.or.jpn, jacobin.com




