SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menstruasi adalah siklus alami yang sudah ada sejak perempuan pertama kali menginjakkan kaki di Bumi. Namun, cara perempuan menanganinya telah mengalami transformasi yang panjang, dari penggunaan serat tumbuhan yang kasar hingga teknologi polimer super serap yang kita kenal sekarang.
Melansir helloclue.com, perempuan menggunakan papirus di zaman Mesir Kuno. Papirus sendiri merupakan tanaman air sejenis gelagah atau rumput yang tumbuh subur di sepanjang tepi Sungai Nil. Papirus akan diolah menjadi bahan kertas kemudian dilembutkan dengan cara direndam untuk dijadikan pembalut darurat.
Baca juga: Toxic Shock Syndrome: Bahaya Menggunakan Pembalut Terlalu Lama!
Di Yunani Kuno, catatan medis Hippocrates menyebutkan bahwa perempuan menggunakan kain linen yang dibalutkan pada potongan kayu kecil, menjadikannya tampon primitif. Sementara itu, bangsa Romawi memiliki preferensi tersendiri dengan memanfaatkan kain atau benang wol sebagai alat penyerap. Intinya, sejak dahulu manusia sudah menggunakan apa pun yang tersedia di alam untuk menyerap darah.
Memasuki abad ke-19 atau era Victoria, menstruasi masih dianggap sangat tabu. Kebanyakan perempuan menggunakan rags (kain perca) yang dicuci dan dipakai berulang kali. Dari sinilah muncul istilah on the rag, ungkapan vulgar untuk menggambarkan perempuan yang marah atau mudah tersinggung karena sedang menstruasi.
Inovasi komersial pertama muncul pada 1888 dengan nama Lister’s Towels oleh Johnson & Johnson. Sayangnya, produk ini gagal total di pasaran karena perempuan merasa malu untuk membelinya secara terbuka. Selain itu, muncul pula sabuk menstruasi, sebuah alat elastis yang harus dikaitkan ke pinggang untuk menahan bantalan kain agar tidak bergeser. Namun, alat ini sangat tidak nyaman untuk digunakan dan sering kali menyakitkan.
Mengutip beautynesia.id, revolusi besar terjadi justru di medan perang. Selama Perang Dunia I, para perawat di Prancis menyadari bahwa cellucotton (kapas selulosa) yang digunakan untuk membalut luka tentara memiliki daya serap yang jauh lebih baik daripada kapas biasa.
Melihat peluang ini, perusahaan Kimberly-Clark meluncurkan Kotex pada 1920. Ini adalah pembalut sekali pakai pertama yang sukses secara komersial. Keberadaannya mengubah hidup banyak perempuan karena mereka tidak perlu lagi mencuci kain kotor dan bisa lebih bebas beraktivitas saat menstruasi.
Baca juga: Menepi Sejenak, Kenali Budaya Slow Living Yang Sekarang Menjadi Impian Orang
Barulah pada 1970-an, inovasi perekat (adhesive) diperkenalkan, yang akhirnya membebaskan perempuan dari sabuk menstruasi yang menyiksa. Lalu, tahun 1980-an membawa kita pada desain pembalut dengan wings (sayap) untuk mencegah kebocoran samping. Saat ini, fokus industri telah bergeser ke arah keberlanjutan. Dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, banyak perempuan beralih ke pembalut kain modern, menstrual cup, atau celana menstruasi yang lebih ramah bumi tapi tetap menggunakan teknologi tekstil tinggi.
Menstruasi tidak pernah menghalangi perempuan untuk beraktivitas karena mereka selalu menemukan inovasi untuk beradaptasi dengan keterbatasan zaman. Hal ini sekaligus menjadi refleksi penting tentang bagaimana kesehatan reproduksi telah berevolusi dari pemanfaatan bahan alam mentah hingga menggunakan teknologi sanitasi modern yang kita nikmati saat ini.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Valleri
Foto: thewomensorganisation.org.uk
Sumber: helloclue.com, beautynesia.id




