SERPONG, ULTIMAGZ.com — Di antara beragamnya fitur WhatsApp, stiker menjadi salah satu yang paling digemari anak muda karena memungkinkan penggunanya mengekspresikan diri dalam ruang obrolan. Dari sekian banyak jenisnya, stiker dengan sebutan “jomok” menjadi salah satu tipe yang paling populer di kalangan generasi muda saat ini.
Stiker dengan ciri khas pria-pria sedang berpose di depan kamera ini menjadi tren candaan di kalangan anak muda. Julukan “jomok” sendiri merupakan singkatan dari jokes dan homo. Candaan kontroversial yang sudah lama melekat dalam pergaulan digital anak muda di Indonesia.
Asal-Usul Candaan “Jomok”
Meme atau candaan “jomok” sebenarnya sudah lama menjadi tren candaan oleh anak muda Indonesia. Salah satu pencetusnya adalah grup Facebook ‘Sungut Lele Gold Era X Free Fire’ yang sejak lama mempopulerkan konten tersebut (Sembiring & Pratiwi, 2025). Grup ini kerap menyebarkan video atau foto-foto pria berkulit hitam dengan postur tubuh yang berotot berlagak feminim, yang kemudian menjadi ciri khas visual dari candaan ini.
Penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa tren candaan “jomok” berasal dari video pornografi homoseksual. Sosok Pherell L. Brown, seorang kreator konten dewasa, sering menjadi ikon utama dalam candaan ini.
Menurut Putro (2025), anak-anak muda Indonesia, khususnya Jawa Timur, sering menggunakan candaan ini untuk komunikasi dalam aplikasi Whatsapp. Pada akhirnya penggunaan candaan ‘jomok” menyebar ke seluruh Indonesia lewat aplikasi X dan juga Instagram.
Mengapa Stiker “Jomok” Berkembang di Indonesia?
Masifnya persebaran meme “jomok” di media sosial mendorong popularitas candaan ini dalam pergaulan sehari-hari, terutama di kalangan laki-laki. Hal tersebut diperkuat oleh hasil survei yang ULTIMAGZ telah buat dan sebarkan pada (kasih hari, tanggal akhir penyebaran survei, tahun). Berdasarkan hasil survei yang telah dikumpulkan, penggunaan candaan “Jomok” didominasi oleh kelompok laki-laki yang mencapai 64,3%, sementara responden perempuan mencapai 35,7%. Data ini mengonfirmasi bahwa laki-laki merupakan kelompok yang jauh lebih dominan dalam penggunaan candaan tersebut.
Mengutip digitalsociety.id, fenomena ini selaras dengan pandangan Tarleton Gillespie. Gillespie menjelaskan bahwa aturan konten dan sistem moderasi di platform digital sering kali mengalami kesulitan dalam membaca konteks, ironi, maupun nuansa humor yang terdapat dalam suatu unggahan. Akibatnya, banyak konten humor yang sebenarnya mengandung makna tertentu tetap lolos karena dianggap hanya sebagai candaan.
Ada beberapa faktor mengapa candaan “jomok” sering muncul di tongkrongan laki-laki. Salah satu faktor yang memengaruhi munculnya candaan “jomok” adalah budaya pergaulan laki-laki yang sering menggunakan humor sebagai cara membangun keakraban. Dalam banyak kelompok pertemanan, laki-laki cenderung mengekspresikan kedekatan melalui candaan, ejekan ringan, atau humor yang bersifat ironis.
Hal ini didukung dengan survei yang ULTIMAGZ telah buat, mayoritas pengguna stiker “jomok” merupakan kaum lelaki. Para responden juga menyatakan bahwa penggunaan stiker nyeleneh ini juga terjadi karena adanya unsur relevan dengan tulisan-tulisan yang telah ditempel pada gambarnya.
Secara paradoks, mayoritas pengguna stiker berkonotasi homo ini justru mengecam keras atau menolak ideologi homoseksualitas dalam kehidupan nyata. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan visual tersebut bukanlah bentuk dukungan terhadap kelompok terkait. Sebaliknya, tren ini berfungsi sebagai bentuk olokan terselubung yang dikemas melalui candaan.
Mengutip digitalsociety.id, candaan “jomok” adalah homofobia yang dikemas dalam humor. Psikolog Thomas Ford menyebut efek ini sebagai pelepasan prasangka, yang membuat orang menyimpan bias permisif terhadap tindakan diskriminatif selanjutnya.
Perkembangan media sosial juga berperan besar dalam mempopulerkan candaan “jomok”. Meme, video pendek, maupun konten humor yang beredar di internet membuat jenis candaan ini semakin mudah ditemukan oleh pengguna lain. Ketika sebuah meme menjadi tren, pengguna media sosial cenderung mengulang humor tersebut dalam percakapan sehari-hari. Akibatnya, candaan “jomok” tidak hanya sebatas di media sosial, tetapi juga masuk ke dalam interaksi nyata.
Penggunaan candaan “jomok” juga menunjukkan bagaimana humor berkembang mengikuti budaya digital dan pola komunikasi generasi muda. Candaan ini menjadi semacam bahasa informal dalam kelompok pertemanan tertentu. Namun penting untuk tetap memahami konteks dalam menggunakannya, karena tidak semua orang nyaman dengan jenis humor tersebut.
Seringnya candaan jomok digunakan oleh laki-laki dapat dipahami sebagai hasil dari beberapa faktor, yaitu humor dalam pergaulan laki-laki Mengutip digitalsociety.id, candaan “jomok” adalah homofobia yang dikemas dalam humor. Psikolog Thomas Ford menyebut efek ini sebagai pelepasan prasangka, yang membuat orang menyimpan bias permisif terhadap tindakan diskriminatif selanjutnya.
Pengaruh Meme “Jomok” Terhadap Persepsi LGBT
Candaan “jomok” seringkali menampilkan hubungan sesama laki-laki secara hiperbolik untuk tujuan komedi semata. Representasi seperti ini dapat membentuk persepsi orang berorientasi non-heteroseksual sebagai sesuatu yang lucu. Akibatnya, pemahaman masyarakat terhadap Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender and Queer (LGBT) menjadi lebih dangkal karena lebih banyak dipengaruhi oleh stereotip yang muncul dalam media sosial.
Meme “jomok” juga menciptakan ambiguitas bagi masyarakat. Sebagian orang menganggap candaan tersebut hanya sebagai lelucon yang muncul dalam pergaulan atau bagian dari candaan di media sosial. Namun, di sisi lain ada pula individu yang menjadikan candaan tersebut semacam “tameng” untuk menyembunyikan maksud tertentu. Dengan berlindung di balik dalih ‘hanya bercanda’, seseorang dapat menghindari kritik atau penilaian negatif atas pesan yang mereka sampaikan. Ketidakjelasan inilah yang akhirnya mengaburkan batasan antara humor murni dan sentimen yang lebih serius..
Humor, Media Sosial, dan Kesadaran Sosial
Media sosial telah menjadi ruang yang sangat rentan terhadap penyebaran konten negatif, di mana fenomena stiker ‘jomok’ lahir sebagai bentuk humor yang dianggap lazim oleh generasi muda. Namun, tren ini sebenarnya menjadi cerminan bahwa stereotip dan penolakan terhadap kelompok homoseksual masih tertanam kuat dalam budaya digital kita.
Bagaimana dengan Ultimates? Apakah Ultimates pernah menggunakan stiker ini tanpa menyadari makna di baliknya?
Penulis : Jasmine Kurnia Wijaya (Film, 2025) dan Suci Alyssa Suherman (Ilmu Komunikasi, 2025)
Editor : Reza Farwan
Foto : ULTIMAGZ/Charlene Natalie
Sumber : digitalsociety.id, (Sembiring & Pratiwi, 2025), Putro (2025)




