SERPONG, ULTIMAGZ.com – Di akhir abad ke-19, dunia jurnalistik menjadi bidang pekerjaan yang didominasi laki-laki. Penulis perempuan biasanya dibatasi ruang geraknya. Namun, Elizabeth Cochrane Seaman, atau yang lebih dikenal dengan nama pena Nellie Bly, menolak untuk mengikuti batasan tersebut. Tidak hanya menulis berita, ia menciptakan sejarah melalui keberanian yang melampaui zamannya.
Melansir thecity.nyc, keberanian Bly mencapai puncaknya pada 1887 ketika ia menerima tugas berisiko dari Joseph Pulitzer di surat kabar New York World. Tugasnya cukup mengerikan, yaitu berpura-pura sakit jiwa untuk masuk ke Rumah Sakit Jiwa Perempuan di Pulau Blackwell’s demi menginvestigasi tuduhan penganiayaan pasien. Setelah berlatih di depan cermin, Bly berhasil menipu para dokter dan benar-benar dirawat di sana selama sepuluh hari.
Baca juga: Black Dahlia: Bayangan Sensasi Media terhadap Kasus Tragis
Apa yang ia temukan di balik tembok dingin Pulau Blackwell’s Island sangat memilukan. Dalam laporan berserinya yang kemudian dibukukan menjadi Ten Days in a Madhouse, Bly menggambarkan kondisi yang sangat tidak manusiawi. Mulai dari banyaknya makanan busuk, dinginnya air mandi, hingga kekerasan fisik dan verbal dari para perawat.
Laporan ini menjadi sensasi nasional. Ia memaksa publik dan pemerintah untuk tidak mengabaikan isu kesehatan jiwa. Hasilnya? Dewan juri melakukan investigasi besar-besaran dan meningkatkan anggaran untuk perbaikan fasilitas kesehatan jiwa secara signifikan.
Baca juga: Tragedi Junko Furuta: Luka Kolektif Jepang di Akhir 1980-an
Tidak berhenti di situ, Bly kembali membuktikan kehebatannya dengan melakukan perjalanan keliling dunia selama 72 hari. Namun, warisan terbesar Bly tetaplah keberaniannya dalam jurnalisme investigasi. Ia membuktikan bahwa perempuan juga memiliki kapasitas pikiran dan fisik untuk melakukan pekerjaan lapangan yang berat, mengutip daily.jstor.org.
Hingga saat ini, Nellie Bly menjadi simbol bahwa sebuah narasi bukan sekadar rangkaian kata di atas kertas atau layar. Ia menunjukkan bahwa menjadi perempuan tangguh berarti berani mengungkap hal-hal yang lama disembunyikan, bahkan ketika hal itu menuntut kita menghadapi sisi dunia yang gelap dan penuh risiko.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Valleri
Foto: nashuproar.org
Sumber: daily.jstor.org, thecity.nyc.




