• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Wednesday, September 2, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Opini

Mengapa Protagonis Perempuan Masih Menuai Kontroversi?

Suci Alyssa Suherman by Suci Alyssa Suherman
September 2, 2026
in Opini
Reading Time: 6 mins read
Kumpulan karakter protagonis perempuan (pk.ign.com)
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sudah banyak gim yang tersebar dengan berbagai genre, mulai dari gim dimainkan dengan santai hingga gim yang memberikan pengalaman ketegangan. Namun, apakah Ultimates sadar  bahwa kebanyakan  gim menjadikan laki-laki sebagai protagonis atau karakter utama? 

Tentunya ada beberapa gim yang menjadikan perempuan sebagai protagonis, tetapi 69,3% gim memiliki protagonis laki-laki dan hanya 6% gim yang memiliki perempuan sebagai  protagonis, dikutip dari telcomagazine.com. Padahal, gim merupakan media hiburan yang dapat dimainkan oleh siapa saja, tanpa memandang gender. 

Baca juga: Pelecehan Verbal Dianggap Banal, Sejak Kapan Komentar Seksual ‘Cuma Bercanda’?

Lantas, ketika sebuah gim menghadirkan protagonis perempuan, mengapa peminat atau penjualannya terkadang dianggap berbeda dibandingkan gim dengan protagonis laki-laki? Apakah protagonis perempuan benar-benar kurang diminati atau justru ada pengaruh pandangan misoginis di dalam industri dan komunitas gim? 

Misoginis Dalam Kultur Gim

Mengutip alodokter.com, misoginis merupakan istilah untuk orang yang memiliki kebencian terhadap perempuan secara ekstrim. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, misogini tidak selalu ditunjukkan melalui kebencian secara langsung. Sikap tersebut juga dapat muncul dalam bentuk stereotip, prasangka, maupun anggapan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. 

Dalam konteks industri gim, misogini tidak selalu muncul secara terang-terangan. Pandangan tersebut juga dapat terlihat dari anggapan bahwa karakter laki-laki lebih cocok menjadi protagonis karena dianggap kuat, berani, dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Sebaliknya, protagonis perempuan masih kerap dipandang sebagai karakter yang lebih lemah, mudah bergantung pada karakter lain, dan kurang meyakinkan ketika ditempatkan sebagai tokoh utama dalam gim. 

Anggapan tersebut dapat membentuk standar yang berbeda bagi karakter laki-laki dan perempuan. Ketika karakter laki-laki digambarkan kuat dan agresif, sifat tersebut sering dianggap sebagai bagian dari karakter pahlawan. Namun, ketika karakter perempuan memiliki sifat yang sama, mereka justru dikritik karena dianggap kasar, terlalu maskulin, atau tidak sesuai dengan stigma perempuan. Contohnya dapat dilihat dari karakter Aloy dari Horizon Series dan Abby dari The Last of Us Part ll. 

Tidak hanya dari karakter di dalam gim, pandangan tersebut juga dapat terlihat dari respons sebagian komunitas pemain. Kehadiran protagonis perempuan terkadang dipertanyakan hanya karena jenis kelaminnya, sementara protagonis laki-laki dianggap sebagai pilihan yang lebih “normal”. 

Bahkan, ketika karakter perempuan mendapat kritik, pembahasannya sering kali berfokus pada gendernya, bukan pada kualitas karakter itu sendiri. Padahal, sebuah karakter seharusnya dinilai dari bagaimana cerita, kemampuan, dan perkembangannya dibangun dalam gim, bukan hanya karena karakter tersebut merupakan perempuan atau laki-laki.

Dari sini bisa dilihat bahwa masalah protagonis perempuan dalam gim bukan cuma soal jumlahnya yang sedikit, tetapi juga bagaimana karakter tersebut dipandang oleh para pemain. Kalau karakter perempuan terus dianggap lebih lemah atau kurang cocok menjadi tokoh utama, anggapan ini bisa memperkuat stereotip bahwa laki-laki lebih pantas menjadi sosok pahlawan, sedangkan perempuan hanya cocok berada di posisi sebagai karakter pendukung. 

Dibenci Karena Tidak Sesuai Stereotip Perempuan?

Gim Horizon Zero Dawn memperkenalkan Aloy sebagai seorang pemburu yang tumbuh di lingkungan yang keras. Sejak kecil, ia digambarkan sebagai sosok yang mandiri, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dan terbiasa menghadapi berbagai tantangan tanpa harus selalu bergantung pada orang lain. Seiring berjalannya cerita, Aloy berkembang menjadi salah satu karakter utama yang memiliki peran besar dalam mengungkap misteri dunia di tempat ia tinggali. 

Salah satu hal yang sering menjadi bahan perdebatan justru bukan kemampuan atau perjalanan ceritanya, melainkan penampilannya. Sebagian pemain mempermasalahkan wajah, rambut, hingga penampilan Aloy yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan tertentu. Kritik tersebut bahkan sempat berkembang menjadi perdebatan mengenai apakah Aloy seharusnya dibuat lebih menarik secara fisik.

Mengutip forbes.com, sejak perilisan Horizon Forbidden West, Aloy menjadi sasaran kritik dari sebagian pemain yang menilai dirinya “tidak cukup menarik” atau “terlalu jelek” dibandingkan karakter perempuan lain dalam gim. Perdebatan tersebut semakin ramai setelah muncul meme yang mengubah wajah Aloy menjadi lebih menyerupai model Instagram, sehingga memperlihatkan bagaimana standar kecantikan tertentu turut memengaruhi penerimaan terhadap karakter perempuan di industri gim. 

Padahal, Aloy memang tidak dirancang sebagai karakter yang hanya mengandalkan penampilan. Desainnya dibuat sesuai dengan kehidupannya sebagai seorang pemburu yang hidup di alam liar. Rambut yang dikepang, pakaian yang berfungsi sebagai perlindungan, serta penampilannya secara keseluruhan lebih banyak menggambarkan latar kehidupannya dibandingkan sekadar memenuhi standar karakter perempuan yang terlihat seperti model. 

Ketika dibandingkan dengan Kratos dari seri God of War, misalnya, justru memiliki banyak karakteristik fisik yang jauh dari gambaran laki-laki yang “sempurna”. Ia memiliki bekas luka, tato, wajah yang keras, janggut, serta terlihat semakin tua dan lelah dalam seri God of War. Namun, berbagai ciri tersebut tidak membuat karakternya kehilangan daya tarik di mata pemain. 

Perbandingan ini menjadi menarik ketika melihat kontroversi mengenai penampilan Aloy. Sebagian pemain justru mempermasalahkan detail wajah Aloy, termasuk rambut-rambut halus di wajahnya, karena dianggap membuatnya kurang feminin atau kurang menarik. Kritik semacam ini menunjukkan bahwa karakter perempuan masih dapat menghadapi tuntutan visual tertentu agar dianggap menarik. 

Bukan berarti semua kritik terhadap Aloy dapat disebut misoginis. Pemain tetap bisa memiliki alasan yang valid untuk tidak menyukai karakter tersebut, misalnya karena dialog, keputusan yang dibuat, atau cara cerita mengembangkan kepribadiannya. Jika kritik  terhadap karakter mulai berfokus pada tuntutan bahwa seorang protagonis perempuan harus terlihat lebih cantik, feminin, atau menyenangkan agar dapat diterima, memperlihatkan bahwa sifat misogini masih erat di komunitas gim. 

Pentingnya Penulisan Karakter Perempuan yang Kuat

Perdebatan mengenai karakter perempuan dalam gim sebenarnya bukan hal yang baru. Ada yang melihatnya sebagai bentuk representasi yang lebih luas, tetapi ada juga yang mempertanyakan apakah karakter tersebut memang dibuat dengan baik. 

Dalam sebuah diskusi di Reddit.com, mengenai protagonis perempuan, beberapa pengguna berpendapat bahwa masalahnya bukan terletak pada jenis kelamin karakter, melainkan pada bagaimana karakter tersebut ditulis dan dikembangkan. 

Latar belakang karakter merupakan hal yang penting. Sebuah karakter yang memiliki masa lalu yang berat atau penuh perjuangan memang dapat membuat cerita menjadi lebih menarik. Namun, latar belakang yang kuat tidak akan cukup jika hanya digunakan sebagai alasan untuk membuat karakter terlihat hebat. 

Menjadi karakter perempuan yang kuat tidak otomatis membuat sebuah karakter menjadi bagus. Sama seperti karakter laki-laki, karakter perempuan juga tetap membutuhkan perkembangan karakter, konflik, kelemahan, dan alasan yang jelas di balik tindakan mereka. Hal tersebut akan membangun relevansi kedekatan dan pemahaman pemain dengan karakter yang dimainkan.

Masalahnya muncul ketika karakter laki-laki dan perempuan mendapatkan standar penilaian yang berbeda. Karakter laki-laki yang keras, percaya diri, atau bahkan arogan sering dianggap sebagai sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan atau badass. Namun, karakter perempuan dengan sifat yang sama bisa lebih mudah disebut menyebalkan, sombong, atau terlalu agresif. Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa gender dapat memengaruhi bagaimana seorang karakter diterima oleh pemain, dikutip dari theguardian.com. 

Perubahan tersebut kemudian membuat istilah “strong female character” menjadi menarik untuk dibahas. Menurut theguardian.com, istilah tersebut sering digunakan untuk menggambarkan protagonis perempuan yang memiliki kemampuan dan tidak hanya berfungsi sebagai “hadiah” bagi karakter laki-laki. Namun, istilah ini juga dapat menjadi terlalu menyederhanakan karena seolah-olah karakter perempuan harus selalu digambarkan kuat untuk dianggap sebagai karakter yang baik. 

Baca juga: Not All Men: Antara Pembelaan Diri atau Pengabaian Realita?

Kritik terhadap karakter perempuan seharusnya tidak berhenti pada label “karakter perempuan yang kuat” atau “karakter perempuan yang lemah”. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah karakter tersebut memiliki cerita yang kuat, motivasi yang jelas, dan perkembangan yang membuat pemain memahami perjalanan mereka. 

karakter yang kuat bukan hanya karakter yang mampu mengalahkan musuh, tetapi karakter yang mampu membuat pemain memahami siapa dirinya dan mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan. 

 

 

Penulis: Suci Alyssa Suherman

Editor: Reza Farwan

Foto: pk.ign.com 

Sumber: telcomagazine.com, alodokter.com, theguardian.com, Reddit.com,  forbes.com  

Tags: Gamegimhorizon seriesmisoginisperempuanprotagonis perempuan
Suci Alyssa Suherman

Suci Alyssa Suherman

Related Posts

Konflik
Opini

Perang Iran–Israel: Penjelasan Konflik dan Dampaknya terhadap Dunia

April 25, 2026
Ilustrasi anti kekerasan seksual yang terinspirasi dari karya “Tangan Bicara, Pelaku Tak Berdaya” oleh Diani Apsari. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)
Lainnya

Pelecehan Verbal Dianggap Banal, Sejak Kapan Komentar Seksual ‘Cuma Bercanda’?

April 20, 2026
Seseorang menyukai video fan edit ship K-pop di media sosial. (ULTIMAGZ/Iskandar Gautama)
Budaya

Idola Bukan Karakter Fiksi: Menimbang Etika Shipping Culture K-pop

March 18, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − eleven =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021