• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Monday, April 20, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Lainnya

Pelecehan Verbal Dianggap Banal, Sejak Kapan Komentar Seksual ‘Cuma Bercanda’?

Belva Putri Paramitha by Belva Putri Paramitha
April 20, 2026
in Lainnya, Opini
Reading Time: 4 mins read
Ilustrasi anti kekerasan seksual yang terinspirasi dari karya “Tangan Bicara, Pelaku Tak Berdaya” oleh Diani Apsari. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

Ilustrasi anti kekerasan seksual yang terinspirasi dari karya “Tangan Bicara, Pelaku Tak Berdaya” oleh Diani Apsari. [foto id="384"]

0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com– Pelecehan seksual sering kali dibayangkan sebagai sesuatu yang ekstrim, Seperti kasus besar, kejadian yang jelas terlihat, atau tindakan yang sulit dibantah. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, bentuk-bentuk yang lebih halus, seperti dalam bentuk pelecehan verbal, lebih sering terjadi. Ironisnya, karena dianggap “tidak terlalu parah”, hal-hal tersebut kerap diabaikan.

Pelecehan seksual tidak selalu berbentuk fisik. Menurut Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), pelecehan seksual verbal termasuk dalam non-fisik. Tindakan ini ditujukan terhadap tubuh, keinginan seksual, dan/atau organ reproduksi dengan tujuan merendahkan harkat dan martabat seseorang berdasarkan seksualitas dan kesusilaannya.

Baca juga: Not All Men: Antara Pembelaan Diri atau Pengabaian Realita

Realitas di lapangan menunjukkan bahwa sekat antara “humor” dan “pelecehan” terlihat abu-abu dalam interaksi sosial kita. Ketika seorang perempuan atau pria menerima komentar sugestif mengenai bentuk tubuhnya, reaksi yang paling sering muncul bukanlah permintaan maaf dari pelaku. Sebaliknya, pelaku justru membela diri dengan mengatakan, “Jangan terlalu serius, itu cuma bercanda.”

Narasi “cuma bercanda” ini merupakan bentuk gaslighting kolektif yang memaksa korban untuk meragukan ketidaknyamanan mereka sendiri. Mengacu pada data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2025, kekerasan seksual di ruang publik dan lingkungan kerja masih didominasi oleh tindakan-tindakan non-fisik. Ketidakmampuan masyarakat untuk membedakan antara komplimen dan pelecehan berakar pada kurangnya pemahaman tentang persetujuan. Sebuah komentar hanya bisa dikategorikan sebagai pujian jika pihak penerima merasa dihargai, bukan justru merasa terancam, terhina, atau terobjektifikasi.

 

Akar Normalisasi: Budaya Perkosaan di Tingkat Dasar

Untuk memahami mengapa komentar seksual dianggap normal, kita perlu meninjau konsep “Pyramid of Violence” yang sering digunakan dalam sosiologi untuk menjelaskan budaya perkosaan (Rape Culture). Pada dasar piramida tersebut, terdapat perilaku-perilaku yang dianggap normal, seperti lelucon seksis, siulan di jalanan (catcalling), dan objektifikasi verbal. Meskipun tidak melibatkan kontak fisik, perilaku-perilaku di tingkat dasar ini menciptakan fondasi yang memungkinkan terjadinya kekerasan yang lebih ekstrem.

Grafik the Pyramid of Violence. (mfj.se)
Grafik the Pyramid of Violence. (mfj.se)

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Women Quarterly (2019) oleh Nadia R. Alvi dkk., menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap lelucon seksis di lingkungan sosial dapat menurunkan empati terhadap korban kekerasan seksual yang lebih berat. Dengan kata lain, saat kita memaklumi komentar seksual sebagai “candaan antarteman,” secara tidak sadar kita turut membangun ekosistem yang permisif terhadap degradasi martabat manusia. 

Di Indonesia, hal ini diperparah dengan stigma “baper” (bawa perasaan) yang kerap diberikan kepada mereka yang berani bersuara atau menunjukkan keberatan terhadap komentar yang melecehkan. Menurut laporan Safenet (2021) mengenai kekerasan gender, pelabelan ini merupakan mekanisme pembungkaman yang bertujuan untuk mendelegitimasi pengalaman korban dan melanggengkan impunitas bagi pelaku pelecehan verbal di ruang publik maupun digital.

Ketidaktegasan dalam memutus rantai pelecehan verbal ini pada akhirnya melahirkan fenomena locker room talk. Istilah ini merujuk kepada percakapan antarpria di ruang-ruang privat seperti ruang ganti, grup WhatsApp eksklusif, atau tongkrongan malam yang berpusat pada perbincangan vulgar mengenai wanita. Peneliti Debbie Ging (2019) dalam studinya mengenai maskulinitas digital, menjelaskan bahwa ruang-ruang privat seperti grup WhatsApp kini menjadi tempat modern untuk mengobjektifikasi dan menghancurkan martabat terhadap perempuan dilakukan tanpa filter.

 

Mitos Ruang Privat: Mengapa “Hanya di Sini” Tetap Tidak Benar

Ilustrasi pelaku kekerasan seksual yang mendapat kecaman dari masyarakat. (ULTIMAGZ/Febrian Dwianto)
Ilustrasi pelaku kekerasan seksual yang mendapat kecaman dari masyarakat. [foto id=”400″]
Salah satu topik paling lazim dalam locker room talk adalah perbincangan mengenai jumlah orang yang pernah diajak berhubungan seksual. Namun, terdapat sebuah logika yang tidak konsisten dari pembicaraan tersebut. 

Di satu sisi, ada sebuah perayaan maskulinitas toksik, di mana pria sering kali menjadikan jumlah pasangan seksual sebagai lencana kehormatan atau bukti “keperkasaan”. Sosiolog Michael Kimmel (2008) mengidentifikasi fenomena ini sebagai homosocial enactment, sebuah “parade” maskulinitas yang dilakukan pria demi mendapatkan validasi dari sesama pria untuk menambal ego yang rapuh. Namun, di sisi lain, pria-pria yang sama justru paling kencang menghakimi perempuan dengan label “tidak perawan” atau “sudah rusak” atas riwayat seksual yang serupa.

Jika pria merasa bangga memiliki banyak pasangan seksual, tetapi pada saat yang sama mereka menuntut perempuan untuk tetap “murni”, dengan siapa sebenarnya “penaklukan” itu dilakukan? Pola pikir ini menciptakan sebuah jebakan mustahil bagi perempuan. Mereka diposisikan sebagai objek yang harus bersedia melayani hasrat, tetapi dihukum secara sosial setelah melakukannya.

Terdapat sebuah pembelaan terhadap fenomena ini bahwa percakapan vulgar di ruang tertutup adalah hak privasi yang tidak merugikan siapa pun. Namun, argumen ini runtuh ketika kita menyadari bahwa bahasa adalah cermin sekaligus pembentuk pola pikir. Menurut teori Language and Power  oleh Norman Fairclough, bahasa merupakan praktik sosial yang membentuk identitas dan relasi kuasa. Ketika seseorang memosisikan perempuan sebagai objek pemuas di ruang privat, ia sedang melatih otaknya untuk melihat manusia lain sebagai komoditas.

Tidak adanya korban di ruangan tersebut tidak menghapus fakta bahwa devaluasi terhadap martabat manusia telah terjadi. Pikiran yang terbiasa mengobjektifikasi di ruang privat tidak serta-merta berubah menjadi sikap yang menghormati di ruang publik. Justru, ruang-ruang privat ini berfungsi sebagai tempat uji coba bagi pelaku untuk memperkuat opini, sikap, dan tindakannya. Menganggap locker room talk sebagai hal yang biasa adalah bentuk pengkhianatan terhadap integritas diri. Jika penghormatan terhadap orang lain bergantung pada siapa yang melihat, itu bukan lagi prinsip, melainkan sekadar akting sosial.

Baca juga: Idola Bukan Karakter Fiksi: Menimbang Etika Shipping Culture K-pop

Pelecehan seksual verbal mungkin dianggap “cuma bercanda”. Namun, hal tersebut merupakan bentuk kekerasan yang perlahan-lahan mengikis martabat manusia. Perubahan besar tidak selalu dimulai dari meja sidang atau ketukan palu hakim, melainkan dari keberanian untuk mengubah narasi di meja-meja kopi, di grup pesan dengan teman, dan di dalam pikiran kita sendiri.

Pada akhirnya, menjadi manusia yang terhormat bukan ditentukan dari berapa banyak “penaklukan” yang bisa dipamerkan. Menghargai orang lain tidak perlu terlihat oleh kasat mata. Tubuh seseorang tidak selayaknya menjadi omongan tongkrongan. Setujukah, Ultimates?

 

 

Penulis: Belva Putri Paramitha

Editor: Reza Farwan

Foto: ULTIMAGZ/Gabri Perboire, ULTIMAGZ/Febrian Dwianto

Inspirasi ilustrasi: “Tangan Bicara, Pelaku Tak Berdaya” oleh Diani Apsari @dianiapsari

Sumber: UU TPKS, Komnas Perempuan, Fairclough, N. (2013). Language and Power. Routledge., Alvi, N. R., dkk. (2019). “Sexist Humor and Rape Myth Acceptance.” Psychology of Women Quarterly., Kimmel, M. (2008). Guyland: The Perilous World Where Boys Become Men. HarperCollins., Safenet. (2021). Bangkitnya Kekerasan Berbasis Gender Online: Laporan Pemantauan Hak-Hak Digital Indonesia., Ging, D. (2019). Alphas, Betas, and Incels: Theorizing the Masculinities of the Manosphere. Men and Masculinities,.

Tags: KasusKomentar pelecehankorban pelecehanlocker room talkmaskulinitasmaskulinitas beracunpelaku pelecehanpelecehanPelecehan Seksualpelecehan seksual verbalrape culturerape jokesSeksisme
Belva Putri Paramitha

Belva Putri Paramitha

Related Posts

Theresa Kachindamoto
Iptek

Theresa Kachindamoto: Kepala Suku yang Membatalkan Ribuan Pernikahan Dini

April 9, 2026
Poster Spider-Man: Brand New Day (Marvel Studios)
Film

Tom Holland Kembali Berayun, Trailer Spider-Man: Brand New Day Raih 718 Juta Views dalam Sehari

March 29, 2026
Potret Nellie Bly saat melakukan perjalanan 72 hari, 1889-1990. (nashuproar.org)
Iptek

Mengenal Nellie Bly, Jurnalis Investigasi Pertama

March 25, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021