SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada (28/02/26) lalu, Israel dan Amerika Serikat (AS) meluncurkan serangan gabungan terhadap Iran. Krisis ini telah menimbulkan banyak korban dan dampak bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Berikut hal-hal yang perlu Ultimates ketahui mengenai konflik tersebut.
Latar Belakang: Teman yang Menjadi Lawan
Konflik antara Iran dan Israel bukanlah hal baru. Rivalitas kedua negara telah berlangsung selama puluhan tahun dan berakar pada perbedaan kepentingan geopolitik, serta ideologi di kawasan Timur Tengah. Namun, sejak Revolusi Iran pada 1979, hubungan mereka berubah drastis. Hal ini disebabkan oleh rezim baru Iran yang menentang Israel dan pengaruh Barat di Timur Tengah. Oleh karena itu, Israel memandang Iran sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap keamanan nasionalnya, dilansir dari britannica.com.
Baca juga: Rusia dan Ukraina Perang, Apa Dampaknya untuk Indonesia?
Konflik terkini mulai terjadi ketika protes antipemerintah berskala nasional meletus di Iran pada akhir Desember 2025. Protes ini didorong oleh krisis ekonomi, anjloknya nilai tukar rial, dan lonjakan harga barang. Protes tersebut menjadi konflik dengan skala terbesar sejak Revolusi Iran dan menyebar ke lebih dari seratus kota di seluruh penjuru negeri. Pemerintah Iran meresponsnya dengan represi yang diwarnai kekerasan sehingga menimbulkan sekitar 33.000 korban jiwa, dilansir dari theguardian.com.
Melansir apnews.com, penggunaan kekerasan yang berlebihan oleh pemerintah memicu harapan di antara sebagian warga Iran akan adanya intervensi dari AS. Sebelumnya, pada (13/01/26), Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungannya terhadap demonstran antipemerintah Iran. Sepuluh hari setelah pernyataan tersebut, Trump mengumumkan bahwa armada AS sedang menuju ke Timur Tengah. Pejabat AS dan Eropa mengajukan tiga tuntutan utama kepada Iran, yaitu menghentikan seluruh pengayaan uranium, membatasi program rudal balistik, serta mengakhiri dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan regional, seperti Hamas, Hezbollah, dan Houthi.
Untuk menjawab tuntutan tersebut, Iran dan AS mengadakan perundingan nuklir tidak langsung di Muscat, Oman. Selama proses berjalan, AS meningkatkan tekanan militer dengan mengerahkan kapal induk USS Gerald R. Ford ke kawasan Timur Tengah. Melansir aljazeera.com, Negosiasi berakhir dengan Iran menyetujui pengawasan penuh dari International Atomic Energy Agency (IAEA). Iran akan berhenti menimbun dan menurunkan tingkat pengayaan uranium.
Namun, pada (27/02/26), IAEA menemukan uranium dengan tingkat pengayaan tinggi di sebuah fasilitas bawah tanah Iran yang tidak terdeteksi. Temuan ini menimbulkan kecurigaan baru di kalangan pemerintah AS dan sekutunya mengenai transparansi program nuklir Iran. Penemuan tersebut memperdalam ketidakpercayaan yang sudah lama ada di antara kedua pihak dan menjadi salah satu faktor yang mempercepat eskalasi konflik di kawasan.
Serangan Militer 28 Februari
Melansir kompastv.com, pada (28/02/26), militer AS dan Israel melancarkan serangan udara dan rudal yang menargetkan pangkalan militer, fasilitas pertahanan, serta struktur kepemimpinan Iran dalam operasi militer bersama ‘Lion’s Roar’. Serangan ini memicu balasan dari Iran yang melancarkan gelombang rudal balistik dan drone ke wilayah Israel, pangkalan militer AS, dan negara sekutu di kawasan Teluk.
Melansir time.com, Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan puluhan pejabat tinggi lainnya dilaporkan tewas dalam serangan tersebut. Hal ini meninggalkan kekosongan kekuasaan di Tehran, ibu kota Iran. Sehubungan dengan ketidakpastian pemerintahan tersebut, administrasi Trump telah secara terbuka menyatakan dukungan terhadap pergantian rezim di Iran.
Hingga Minggu (07/03/2025), jumlah korban tewas di Lebanon meningkat menjadi 217 jiwa, dilansir dari cnbcindonesia.com. Selain itu, dilaporkan bahwa serangan udara Israel menghantam pinggiran selatan Beirut, tempat Hizbullah atau kelompok militan yang didukung Iran berkuasa. Akibat serangan tersebut, Dewan Pengungsi Norwegia mengatakan 300.000 orang di Lebanon terpaksa mengungsi dan mempertanyakan legalitas perintah Israel.
Dampak Konflik di Timur Tengah
Dengan eskalasi konflik di area Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia telah menyatakan bahwa Indonesia bersikap netral dan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif, dilansir dari tempo.co. Meskipun demikian, konflik ini tetap berdampak besar kepada masyarakat sipil di Indonesia, terutama dalam bidang ekonomi.
Berdasarkan pengalaman dari berbagai konflik yang pernah terjadi di Timur Tengah, seperti Krisis Minyak 1973 dan Perang Teluk Persia, ketegangan di kawasan ini hampir selalu berdampak pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan emas di pasar global. Hal ini disebabkan oleh Timur Tengah yang menjadi salah satu wilayah dengan cadangan minyak bumi terbesar di dunia. Ketika konflik mengganggu proses produksi, distribusi, atau jalur perdagangan energi, rantai pasok global dapat terganggu. Akibatnya, harga energi meningkat dan ketidakpastian di pasar keuangan global bertambah. Dalam jangka pendek ini, dampak konflik sudah mulai terlihat melalui kenaikan harga BBM non-subsidi di Indonesia setelah eskalasi ketegangan terjadi.
Dalam perspektif geoekonomi, sumber daya energi menjadi instrumen kekuatan strategis dalam hubungan antarnegara. Ketegangan seperti peningkatan pengayaan uranium oleh Iran serta respons militer dari Israel berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia, terutama jika jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz terganggu. Jalur ini merupakan salah satu rute utama distribusi minyak dunia sehingga setiap gangguan yang terjadi dapat berdampak luas terhadap perekonomian global.
Baca juga: Desas-desus Perang AS–Iran, Apa Nasib Indonesia?
Mengutip cnbc.com, Goldman Sachs memperkirakan bahwa apabila Selat Hormuz tertutup selama beberapa minggu dan harga minyak dunia naik dari sekitar $70 menjadi $85 per barel, tingkat inflasi di kawasan Asia dapat meningkat sekitar 0,7 persen. Kenaikan harga energi tersebut juga dapat memengaruhi kebijakan ekonomi, seperti penundaan kebijakan penurunan suku bunga di bank sentral beberapa negara Asia, termasuk Indonesia guna mengendalikan tekanan inflasi.
Melihat potensi dampak tersebut, pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi apabila konflik terus berlanjut. Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah menyiapkan skenario fiskal darurat serta mengevaluasi kembali program-program pemerintah yang membutuhkan anggaran besar. Dengan meninjau prioritas pengeluaran negara secara lebih cermat, pemerintah dapat memastikan bahwa ruang fiskal tetap tersedia untuk menghadapi potensi tekanan ekonomi akibat ketidakpastian global.
Penulis: Belva Putri Paramitha
Editor: Jocellyn Lee Kurnianto
Foto: reuters.com
Sumber: britannica.com, theguardian.com, apnews.com, aljazeera.com, kompastv.com, time.com, cnbcindonesia.com, tempo.co, cnbc.com, bbc.com.




