• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Friday, September 4, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Opini

Antara Pamer dan Rasa Ingin Tahu: Menyoal Performative Intellectualism

Aurelia Lisbeth by Aurelia Lisbeth
September 4, 2026
in Opini
Reading Time: 4 mins read
Ilustrasi perempuan yang sedang membaca buku di kafe. (Unsplash/@Bundo Kim)

Ilustrasi perempuan yang sedang membaca buku di kafe. (Unsplash/@Bundo Kim)

0
SHARES
9
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Pemandangan seseorang membaca novel klasik di sudut coffee shop, ditemani secangkir amerikano dan pencahayaan yang tampak sempurna untuk diunggah ke media sosial, kini terasa begitu akrab. Di Instagram dan TikTok, kutipan filsuf, rak buku yang ditata rapi, hingga tumpukan bacaan “berat” kerap menjadi simbol kecerdasan. Namun, di balik estetika itu, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: apakah yang ditampilkan benar-benar berangkat dari rasa ingin tahu, atau sekadar performa agar terlihat intelektual?

Fenomena ini dikenal sebagai performative intellectualism, yang belakangan populer melalui istilah performative reading. Dalam beberapa tahun terakhir, budaya BookTok dan klub buku yang dipopulerkan oleh para selebriti ikut mengubah cara buku dipandang. Kini, buku bukan hanya sekadar ruang belajar dan refleksi, melainkan juga penanda status, identitas, dan selera di media sosial.

Baca juga: Performative Male Tunjukkan Pria Lembut yang Mencari Validasi

Ketika Buku Jadi Aksesori

Melansir theweek.com, akar fenomena ini bisa ditelusuri hingga sekitar 2021, saat gelombang klub buku yang dipimpin selebriti bertemu dengan ledakan BookTok. Kombinasi budaya media sosial dan tren membaca kemudian membuat sejumlah judul buku menjelma menjadi komoditas populer. Nilainya tidak hanya semata ditentukan oleh kualitas isi, tetapi juga oleh kemampuannya membangun citra sebagai pribadi yang berwawasan, berkelas, dan intelektual. Selain itu, fenomena ini mendorong orang berlomba menyebut jumlah buku yang telah dibaca dalam sebulan. Akibatnya, membaca perlahan berubah menjadi ajang pembuktian diri, bukan lagi aktivitas personal yang tenang.

Fenomena ini juga menuai banyak kritik. Dalam esainya di theguardian.com, Alaina Demopoulos menyoroti perubahan pandangan terhadap aktivitas membaca. Masyarakat, khususnya generasi muda yang tumbuh bersama budaya visual media sosial kerap menyamakan aktivitas membaca dengan citra intelektual. Menurutnya, seseorang yang terlihat membawa atau membaca buku di ruang publik sering dianggap memiliki selera dan kedalaman berpikir. Padahal, membaca tidak selalu berarti memahami. Di sisi lain, berbagai esai kritis menilai bahwa performative intellectualism telah mereduksi pengetahuan menjadi sekadar estetika. Sehingga buku lebih diperlakukan sebagai simbol identitas daripada sarana untuk memahami gagasan.

Namun, Benarkah Sesederhana Itu?

Menganggap setiap orang yang terlihat membawa buku sebagai seseorang yang sekadar ingin terlihat pintar juga terlalu gegabah. Melansir nbcnews.com, beberapa pembaca yang mendapat tuduhan melakukan performative reading justru mengatakan bahwa buku yang mereka tampilkan memang merupakan bacaan yang mereka sukai. Selwa Khan, salah satu narasumber, bahkan merasa heran karena buku-buku yang dianggap “performatif” ternyata termasuk ke dalam judul yang benar-benar ia nikmati. 

Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan: apakah tuduhan tersebut sebenarnya lebih mencerminkan rasa tidak aman orang lain terhadap aktivitas membaca daripada ketidaktulusan pembacanya? Pada akhirnya, anggapan bahwa seseorang yang membaca di ruang publik pasti berupaya mencari perhatian tidak selalu tepat. Bisa saja, mereka memang menikmati buku yang sedang dibaca.

“Menurut saya media sosial membuat semua orang tampil berpura-pura, disadari atau tidak,” ungkap Khan kepada NBC News.

Tidak hanya dalam hal membaca buku, terdapat pandangan bahwa di era media sosial, hampir semua bentuk ekspresi diri memiliki unsur performatif. Khan berpendapat bahwa ketika seseorang memilih untuk membagikan sesuatu di media sosial, secara tidak langsung ia sedang menampilkan bagian tertentu dari dirinya kepada publik. Hal tersebut tidak selalu berarti bahwa apa yang ditampilkan itu tidak tulus. Dengan begitu, membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang sekadar membangun citra ternyata tidak selalu mudah.

Performatif sebagai Jembatan, Bukan Ujung

Di sinilah pandangan yang lebih adil terhadap fenomena ini perlu dipertimbangkan. Performative intellectualism tidak selalu berarti kepura-puraan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut justru bisa menjadi langkah awal untuk menumbuhkan ketertarikan yang lebih serius terhadap pengetahuan dan aktivitas membaca.

Melansir nbcnews.com, Jafei Pollitt selaku salah satu narasumber yang gemar membaca memberikan pandangan bahwa tidak masalah jika seseorang awalnya membaca karena ingin terlihat pintar. Bahkan, jika motivasinya hanya untuk mendapatkan estetika, aktivitas tersebut tetap membuat seseorang berhadapan dengan kata-kata dan gagasan dalam buku. Menurut Pollitt, yang lebih penting bukan alasan seseorang mulai membaca, melainkan apakah buku tersebut benar-benar dibaca.

“Memang, seseorang bisa saja mulai membaca karena tertarik pada estetikanya, tetapi seiring waktu, ia mungkin mulai benar-benar mendalami bukunya, dan akhirnya menyukai kegiatan membaca,” ujar Pollitt. 

Pola serupa sebenarnya bukan hal baru dalam hidup manusia. Banyak hasrat besar justru berawal dari sesuatu yang terkesan “sok-sokan”. Seseorang bisa saja belajar gitar karena ingin terlihat keren di depan teman-teman, tetapi tanpa sadar benar-benar jatuh cinta pada musik. Ada pula yang mulai ikut lari pagi karena tren di media sosial, lalu menemukan bahwa dirinya menikmati proses itu secara pribadi. Pola yang sama dapat terjadi pada membaca. Seseorang mungkin awalnya membeli buku karena viral di BookTok atau demi menghasilkan konten estetik. Namun, begitu halaman pertama dibuka, tidak ada yang menjamin bahwa ketertarikannya akan berhenti di sana. Rasa ingin tahu yang sesungguhnya justru bisa tumbuh belakangan, dipicu oleh sesuatu yang awalnya hanya soal tampilan.

Baca juga: Strange Pictures: Buku Misteri dengan Kumpulan Gambar Aneh Karya Uketsu

Jadi, Salah atau Tidak?

Performative intellectualism tidak selalu tepat jika langsung dianggap sebagai sesuatu yang negatif atau dangkal. Perbedaan antara sekadar ingin terlihat pintar dan rasa ingin tahu yang tulus sebenarnya dapat dilihat dari apa yang dilakukan setelahnya. Jika seseorang hanya berhenti pada tahap terlihat membaca tanpa benar-benar memahami isinya, aktivitas tersebut memang sebatas pencitraan. Namun, jika ia terus membaca hingga selesai, memikirkan kembali gagasan yang ditemuinya, bahkan mencari bacaan lain karena muncul rasa penasaran, alasan awalnya menjadi tidak terlalu penting. Yang lebih berarti adalah bagaimana ketertarikan tersebut berkembang setelah seseorang mulai membaca.

Pada akhirnya, mungkin bukan tugas kita untuk menentukan siapa yang benar-benar ingin tahu dan siapa yang sekadar ingin terlihat pintar. Sebab, jika fenomena ini mampu mendorong lebih banyak orang untuk membaca, apakah kita masih perlu mempersoalkan dari mana ketertarikan itu bermula?

 

 

Penulis: Aurelia Lisbeth

Editor: Jocellyn Lee Kurnianto

Foto: unsplash.com

Sumber: nbcnews.com, theguardian.com, theweek.com

Tags: BookTokbudaya digitalbudaya membacaestetika bukuFilsafatgenerasi mudaidentitas sosialintelektualismekebiasaan membacaklub bukuliterasimedia sosialnovel klasikpencitraanperformative intellectualismperformative readingrasa ingin tahurefleksi budayatren media sosialvalidasi sosial
Aurelia Lisbeth

Aurelia Lisbeth

Related Posts

karhutla
Opini

Hutan Terbakar, Anggaran Tertukar: Telisik Dana Karhutla Kalimantan

September 3, 2026
Kumpulan karakter protagonis perempuan (pk.ign.com)
Opini

Mengapa Protagonis Perempuan Masih Menuai Kontroversi?

September 2, 2026
Konflik
Opini

Perang Iran–Israel: Penjelasan Konflik dan Dampaknya terhadap Dunia

April 25, 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − five =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021