4live Beri Sumbangan Lima Juta untuk Yayasan Into The Light

Ketua Pelaksana 4live Malvin Haryanto (kiri) memberikan donasi kepada Task Manager Primary Prevention Into The Light Indonesia Laksamana Maeda. Pemberian donasi ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian acara puncak 4live yang diadakan oleh UMN Medical Center di Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Minggu (18/11/18). (ULTIMAGZ/Devonseta)
Share:

“Berdasarkan rata-rata statistik, dalam sehari setidaknya ada dua hingga tiga orang yang melakukan bunuh diri di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat setidaknya ada 812 kasus bunuh diri di seluruh wilayah Indonesia pada tahun 2015. Angka tersebut adalah yang tercatat di kepolisian. Angka riil di lapangan bisa jadi lebih tinggi” – kumparan.com

 

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Ketua Pelaksana 4live Malvin Haryanto memberikan sumbangan sejumlah Rp5.000.000,00 untuk Yayasan Into The Light melalui Runtastic, puncak acara 4live yang diselenggarakan oleh UMN Medical Center di lapangan parkir UMN, Minggu (18/11/18). Sumbangan tersebut diambil dari keuntungan acara 4live.

“Terima kasih!” seru Aksa Ragih, Task Manager Primary Prevention Into The Light Laksamana Maeda.

Yayasan Into The Light merupakan komunitas anak muda yang berfokus pada Jakarta untuk advokasi, kajian, dan edukasi pencegahan bunuh diri dan kesehatan jiwa remaja, serta populasi khusus lainnya yang berbasis bukti ilmiah dan hak asasi manusia. Komunitas beranggotakan 20-30 orang ini memiliki motto “Hapus Stigma, Peduli Sesama, Sayangi Jiwa.”

Aksa menjelaskan bahwa uang sejumlah lima juta tersebut akan digunakan untuk kebutuhan kampanye dan workshop guna meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan bunuh diri dan pentingnya mengawasi kesehatan jiwa, terutama pada remaja.

“Yang pasti akan kami gunakan untuk membiayai program-program awareness untuk mengadvokasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa bunuh diri adalah sesuatu yang harus kita perhatikan,” jelas Aksa.

Program yang dimaksud ialah meningkatkan kesadaran para penyintas (survivor) agar melakukan seeking help atau mencari pertolongan dengan membuang stigma negatif bunuh diri. Stigma negatif ini sangat berbahaya karena menyebabkan para penyintas semakin menutup diri dan cenderung memperparah keadaan mereka.

Dengan demikian, Aksa menjelaskan bahwa terdapat tiga fokus yang dilakukan Into The Light untuk pencegahan bunuh diri, yaitu Primary Prevention, Crisis Intervention, dan Post-Pension.

“Pertama, Primary Prevention lebih ke arah menerima kampanye-kampanye publik dan advokasi untuk mencegah bunuh diri. Kami sudah bekerja sama dengan Menteri Kesehatan, Dewan Pers, dan organisasi-organisasi terkait,” jelas Aksa.

Sementara itu, Crisis Intervention adalah aksi mengintervensi para penyintas pada saat krisis. Into The Light berusaha membuat ‘ruang aman’ di mana para penyintas dapat berkumpul dan menceritakan pengalaman mereka.

“Yang terakhir, Post-Pension. Post-Pension ini sesuai namanya, yaitu dilakukan setelah ada yang terjadi. Kami mengayomi para keluarga atau penyintas yang pernah tempting atau masih trauma agar terdampingi. Apalagi, membayangkan rasanya mempunyai keluarga atau teman dekat, lalu pergi begitu saja,” tutur Aksa.

Aksa berharap, ke depannya kesadaran masyarakat terhadap pencegahan bunuh diri bisa terus meningkat.

“Saya sudah melihat para penyintas di-judge oleh orang lain. Padahal, mereka sudah di dalam keadaan berat, lalu diberatkan lagi,” tutur Aksa.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Devonseta Aldi Nathaniel