Filosofi Wayang dan Wajah Keamanan OMB 2016

Pengecekan atribut mahasiswa baru (maba) di hari pertama Orientasi Mahasiswa Baru (OMB), Senin (22/8).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Rangkaian kegiatan hari pertama Orientasi Mahasiswa Baru (OMB) 2016 pada Senin (22/8) telah berakhir. 1737 mahasiswa baru (maba) dari sebelas program studi mengikuti kegiatan pengenalan fasilitas dan staff kampus di hari pertama ini.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, OMB tahun ini juga mewajibkan para maba untuk membawa dan mengenakan atribut-atribut seperti tas serut, name tag, dan buku. Identitas kelompok tahun ini dilambangkan dengan papan wayang besar yang dibawa oleh satu orang perwakilan anggota kelompok. Papan wayang dengan namanya masing-masing ini dijadikan sebagai simbol mahasiswa berjiwa muda yang merdeka dan mampu berkarya.

“Nah, wayang itu sebagai identitas atau ciri-ciri dari Indonesia dan di setiap wayang ada filosofi baiknya. Kita berharap mahasiswa baru itu bisa mengambil sisi positif dari perwayangan yang ada di kelompoknya itu,” ujar koordinator divisi acara, Eveline Susanti.

Tidak hanya identitas kelompok berupa wayang yang dikenalkan dalam OMB kali ini, dari divisi keamanan pun mengenalkan nama “Barak” sebagai tempat bagi maba yang melakukan kesalahan seperti terlambat dan kurangnya kelengkapan atribut. Koordinator divisi keamanan, Sheila Amanda menjelaskan bahwa konsep Barak adalah untuk menyadarkan maba-maba akan kesalahan mereka.

“Karena banyak banget hari ini, hari pertama ada barak, mereka itu nggak tahu kesalahannya apa. Padahal kelihatan banget bahwa mereka nggak bawa atribut, tapi mereka masih tetap bertanya salah mereka itu apa,” terang Sheila seusai OMB.

Ia menuturkan setidaknya ada kurang lebih 100 maba yang hari ini masuk ke dalam barak dan diberi peringatan. Beberapa kesalahan yang dilakukan diantaranya adalah warna ikat rambut yang tidak hitam, atasan dan bawahan berwarna yang tidak sesuai dengan yang telah ditentukan, serta terlambat.

Sheila mengaku keamanan tahun ini tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan tahun sebelumnya. Adapun tahun ini, mereka lebih memilih untuk menegur dan memperingatkan maba yang melakukan kesalahan secara personal dan tidak mengumbar kata-kata ke banyak orang ataupun teriakan.

“Jadi misalnya kita mau menegur orang, kita langsung temui orang itu dan kita  tegur secara langsung,” ungkap Sheila.

Tak hanya menjelaskan tentang wajah keamanan saja, Sheila juga turut mengutarakan pendapatnya terkait kualitas maba pada tahun ini. Ia menuturkan bahwa ada penurunan kualitas dari maba tahun ini dibandingkan dengan generasi sebelumnya, seperti kurangnya semangat untuk bekerja keras, kurang mau berusaha hingga kurang mau ikut menghargai dan mendengarkan para panitia. Namun demikian ia menambahkan bahwa hal itu masih bisa diatasi dan dibantu dengan panitia OMB tahun ini.

 

Penulis: Kezia Maharani Sutikno

Editor: Stephani Laurensia

Fotografer: Evan Andraws