• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Saturday, August 30, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Berita Kampus

Hanung Bramantyo Awali Karier dari TV Swasta Sejak Mahasiswa

Ignatius Raditya Nugraha by Ignatius Raditya Nugraha
September 12, 2019
in Berita Kampus, Event
Reading Time: 2 mins read

Sutradara Hanung Bramantyo bercerita mengenai awal perjalanan karier di dunia film dalam acara IMAGO 2019 yang diselenggarakan di Lecture Theatre, Universitas Multimedia Nusantara pada Selasa (10/09/19). (ULTIMAGZ/Anisa Arifah)

0
SHARES
609
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sutradara Hanung Bramantyo membagikan kisah perjalanan kariernya kepada mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dalam gelaran IMAGO 2019. Kisah ini berawal dari keputusannya banting setir dari Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ke Akademi Sinematografi Institut Kesenian Jakarta (IKJ), bertemu Teguh Karya, dan menyutradai film di televisi swasta RCTI sebagai mahasiswa semester dua.

“Awalnya, menurut saya itu [film] adalah produk pop art dan kapitalis, produk yang ujungnya dikapitalisasi. Jadi saya enggak suka,” kata Hanung di Lecture Theatre, Gedung D UMN, Selasa (10/09/19). Sutradara Bumi Manusia itu mencontohkan, tatanan lokasi syuting televisi begitu detail. Sementara itu, lensa hanya mempedulikan close up shoot dan menyelesaikan proses produksi begitu saja.

“Lensa ini sifatnya otoriter sekali, jadi kamu mau menata [lokasi syuting] 180 derajat, lalu gue mau close up shoot ini saja, lalu kamu mau apa?” lanjut Hanung yang merasa produksi film sangat berlawanan dengan seni teater pada waktu itu.

Namun, pemahamannya mengenai film berubah setelah menemui Sutradara Film Legendaris Indonesia Teguh Karya. Waktu itu, Hanung menjadi sutradara magang dan mengamati bagaimana Teguh memproduksi film televisi. Awalnya, Hanung sangat kesal. Ternyata, Teguh tidak mempunyai naskah skenario, bahkan tidak memberi tahu dialog apa pun kepada para aktor yang telah bersiap-siap di lapangan.

Ketika Teguh keluar dari rumah sekaligus lokasi syutingnya pukul delapan pagi, sutradara legendaris tersebut langsung mengatur semua dialog dan posisi kru produksi bagaikan melukis. Sejak itu, Hanung jatuh cinta dengan film.

“Ini ada orang [Teguh] yang memperlakukan akting seperti melukis,” lanjut mantan mahasiswa jurusan ekonomi tersebut.

Setelah itu, Hanung bersikeras menawarkan diri sebagai asisten Teguh, bahkan sebagai pembantu rumah tangga. Namun, Teguh menolak. Menurut Teguh, Hanung harus sekolah terlebih dahulu. Oleh karena itu, Hanung melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa Akademi Sinematografi di IKJ.

Lulusan IKJ tersebut mengakui, ia tidak betah dengan kelas teori pada semester awal perkuliahan. Bahkan, ia bersikeras untuk menjadi sutradara film RCTI walaupun dosennya hanya menawarkan posisi asisten sutradara. Alhasil, dosennya mengalah dan RCTI memperbolehkan Hanung menjadi sutradara dengan satu syarat: Hanung harus diawasi oleh seorang supervisor. Waktu itu, Hanung masih seorang mahasiswa semester dua.

Hanung menceritakan, ia sering dilempari pertanyaan terkait angkatan dan umur saat proses produksi film. Namun, ia mengaku hanya membalas, “Lu mau rating tinggi, enggak?”

“Akhirnya film itu jadi, rating-nya enggak jelek-jelek banget, dan dapat penghargaan bronze saat International Film Festival. Baru setelah ini saya banyak dilirik,” kata Hanung.

Hanung berpesan, proses produksi film ibarat berpacaran. Sutradara harus menemukan produser, penulis skenario, dan editor yang satu visi. Artinya, selama masih satu visi, perdebatan dan perkelahian masih tidak apa-apa. Namun begitu produksi mulai melangkahi prinsip, itu adalah saatnya “putus” dari proses berpacaran tersebut.

“Jawaban saya sesimpel itu, seperti kalian pacaran,” jawab Hanung.

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Anisa Arifah

Tags: 2019bumi manusiaeventfakultas seni dan desainfilmfsdftvhanunghanung bramantyoIMAGOIMAGO 2019produserrctisinetronSutradraTeguh Karyaultimagzumn
Ignatius Raditya Nugraha

Ignatius Raditya Nugraha

Related Posts

Penampilan Jaz pada acara Malam Puncak Maxima 2025 di Universitas Multimedia Nusantara pada Sabtu (23/08/25). (ULTIMAGZ/Tiffany Michiko Putri)
Berita Kampus

Jaz Tutup Malam Puncak MAXIMA 2025 dengan “Dari Mata”

August 27, 2025
sidang terbuka
Berita Kampus

Sidang Terbuka Senat Penerimaan Mahasiswa Baru UMN 2025 Dorong Mahasiswa untuk Terus Berdampak

August 24, 2025
Penjelajahan Hari 2
Berita Kampus

OMB UMN 2025 Tanamkan Kerja Sama Lewat Penjelajahan Hari 2

August 22, 2025
Next Post
UMN Kembali Menangkan Penghargaan Gedung Hemat Energi se-ASEAN

UMN Kembali Menangkan Penghargaan Gedung Hemat Energi se-ASEAN

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × three =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021