Jimmy Silalahi: Wartawan Tak Bisa Disamakan dengan Buruh

Jimmy Silalahi ketika memaparkan tanggapannya mengenai kesejahteraan wartawan pada acara seminar Commpress 2016 bertajuk "Kesejahteraan Terbatas di atas Kertas?", Selasa (26/4), di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN).
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi pada seminar Commpress 2016 bertajuk “Kesejahteraan Terbatas di Atas Kertas?” mengatakan bahwa wartawan tidak bisa disamakan dengan buruh. “Wartawan adalah profesi yang mulia sama seperti dokter dan guru. Tidak main-main kalau ingin jadi wartawan,” jelas Jimmy pada seminar yang diadakan di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Selasa (26/4) lalu tersebut.

Dengan pernyataan tersebut, menurutnya, wartawan tidak bisa hanya mendapat Upah Minimum Regional (UMR) seperti layaknya buruh. “Ada standar kompetensi bagi wartawan supaya nilai jual mereka semakin tinggi. Sekarang juga sudah ada kekhususan penambahan ilmu yang ketika melamar kerja nanti, menjadi nilai tambah ketika akan melamar di media tempat berkerja,” tambah Jimmy.

Terkait kesejahteraan wartawan di Indonesia sendiri, Jimmy mengatakan bahwa banyak wartawan yang belum sejahtera karena media sendiri tidak mampu menggaji mereka secara layak.

“Pada tahun 2018, dunia penyiaran akan masuk era digitalisasi dimana satu saluran bisa dipecah menjadi 12 saluran baru. Pertanyaan terbesar sekarang, masih banyak media, bahkan baru 30% di antaranya yang benar-benar mempunyai concern untuk menyejahterakan karyawannya,” ungkapnya.

Bagi Jimmy, kemampuan finansial media berpengaruh pada tingkat kesejahteraan wartawannya. “Bagaimana bisa gaji wartawan kalau medianya tidak sehat?” ujarnya.

Sebagai anggota Dewan Pers, ia mengakui bahwa ada sanksi yang diberikan kepada media bila tidak menggaji karyawannya secara layak. Namun, Dewan Pers lebih mengedepankan penegakkan etika terhadap media dan wartawan.

 

Penulis: Josephine Valencia
Editor: Alif Gusti Mahardika
Fotografer: Benedict Wiyanjaya