‘Tak Ada Debat’ pada Debat Paslon Organisasi Kampus Hari Pertama

(dari kiri atas) Pasangan calon ketua Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika ke-1, ke-2, dan (kiri bawah) ke-3, (kanan bawah) serta para paslon ketua dan wakil ketua Himpunan Mahasiswa Sistem Komputer juga saling beradu visi misi pada Senin (22/10/18). (ULTIMAGZ/Robin)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Debat antar kandidat pasangan calon (paslon) pemimpin Himpunan Teknik Informatika (HIMTI) dan Himpunan Mahasiswa Sistem Komputer (HIMASIKOM) membuka bulan demokrasi hari pertama, Senin (22/10/18).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, debat diartikan sebagai pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing. Namun dari hasil pemantauan jalannya kedua debat tersebut, tidak terlihat adanya debat antar kandidat mengenai adu visi dan misi. Padahal, para paslon diharapkan dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk saling adu pendapat tentang program kerja masing-masing.

“(Paslon) kasih jawaban, terus paslon lain menanggapi. Tapi malah tidak ada perbedaan pendapat. Misalnya paslon 1 kasih jawaban, terus paslon 2 bilang juga setuju,” ujar Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Joshua Situmorang yang ditemui Ultimagz usai debat berlangsung.

Hal serupa juga dirasakan oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) Sistem Komputer Hargyo Tri Nugroho yang menilai jalannya debat cenderung normatif. 

“Saya melihat ini lebih seperti diskusi panel dibanding debat,” ungkap Hargyo sebelum meminta masing-masing kandidat menyebutkan kelemahan lawan pada salah satu sesi debat.

Ada pun beberapa daftar pertanyaan yang diajukan mengarahkan paslon untuk menjawab secara normatif seperti yang diungkapkan Hargyo. Salah satu pertanyaan pada debat HIMASIKOM yakni, “Bagaimana cara kalian mengatasi perbedaan?” mengarahkan kedua paslon memberikan jawaban generik. Hal serupa terjadi ketika moderator menanyakan fungsi wakil ketua pada setiap paslon, para paslon cenderung memaparkan fungsi wakil secara umum.

Menurut Ketua KPU Steffie Lienanta, pertanyaan yang diajukan oleh moderator debat pada masing-masing kandidat merupakan hasil akumulasi pertanyaan dari publik (civitas academica). KPU menyebarkan formulir daring kepada publik untuk mengirimkan pertanyaan bagi para paslon. Pertanyaan tersebut kemudian disaring oleh setiap panrek dan diteruskan kembali ke KPU. Namun, KPU mengakui belum ada regulasi yang mengatur porsi dan bobot pertanyaan dari panrek dan mahasiswa.

Selain itu, terdapat perbedaan antara dua debat himpunan hari Senin. Pada debat HIMASIKOM, terdapat sesi tanya jawab bagi hadirin. Kaprodi dan seorang mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya pada paslon. Namun, hal serupa tidak terjadi dalam debat HIMTI. 

Dalam pelaksanaannya, debat juga terlihat sepi. Tidak banyak civitas academica yang menonton secara langsung debat yang diadakan di Studio TV, Gedung B Lantai 6 tersebut. Meski demikian, KPU juga menyiarkannya secara langsung melalui Instagram.

“Ini jam-jam lagi banyak kelas, kita enggak bisa menyalahkan juga. Harapannya yang barusan kita lakukan (debat) itu bisa dilihat lagi,” ungkap Calon Ketua HIMASIKOM nomor urut 2 Felicia Karissa saat diminta pendapat tentang sepinya hadirin yang menyaksikan debat hari itu.

Menanggapi hal tersebut, Steffie menjelaskan pemilihan waktu penyelenggaraan debat dilakukan atas permintaan para Kaprodi. Kehadiran Kaprodi menjadi penting lantaran akan saling berkolaborasi selama setahun ke depan.

Menemui sejumlah hambatan pada pelaksanaan debat hari ini, pihak KPU menyatakan akan melakukan evaluasi kembali untuk memperbaikinya dalam penyelenggaraan debat yang masih berlangsung hingga Jumat (26/10/18) mendatang.

 

Penulis: Anindya W. Paramita, Nadine K. Azura, Ivan Jonathan

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Robin Colinkang