Kunci Jadi Jurnalis: Fleksibilitas dan Spesialisasi Kemampuan

(kiri ke kanan) Hafizh Gemilang sebagai moderator dan Ketua Panitia Compress 2017, Adib Hidayat selaku Pemimpin Redaksi Rolling Stones Indonesia, Ardyan Erlangga selaku Managing Editor VICE Indonesia, Ben Latuihamallo sebagai moderator dalam seminar Commpress Kamis (20/04/17) di Lecture Hall.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Acara tahunan Commpress 2017 mengadakan seminar yang kedua di Lecture Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Kamis (20/04/17). Seminar ini menghadirkan Pemimpin Redaksi Rolling Stone Indonesia Adib Hidayat dan Redaktur Pelaksana VICE Indonesia Ardyan Erlangga sebagai pembicara, yang sebelumnya juga telah menjadi pembicara dalam workshop bertajuk ‘Dua Jam Jadi Jurnalis’.

Mengusung tema ‘Bosan Jadi Jurnalis? Coba ‘Jurnalis’ Lain Yuk!’, seminar ini berhasil menarik perhatian banyak pengunjung, baik dari dalam maupun luar UMN. Hal ini terlihat dari jumlah peserta seminar yang cukup banyak dan terdiri atas mahasiswa UMN, mahasiswa non-UMN, dan pelajar berseragam.

Dipandu oleh dua orang moderator, Adib dan Ardyan berbagi pengetahuan mereka tentang dunia kerja jurnalis yang berbeda dari pandangan sebagian besar orang. Peserta dibekali informasi baru bahwa lulusan jurnalistik tidak selalu menjadi jurnalis yang harus meliput peristiwa-peristiwa berat dan serius. Menulis berita ringan untuk spesialisasi tertentu juga merupakan bagian dari pekerjaan jurnalis.

“Kalau kita bicara grup besar seperti Kompas, ada satu masa mereka harus rolling. Ketika satu tahun ini dia pegang ekonomi, tahun depan dia bisa pegang olahraga, berikutnya bisa musik, berikutnya bisa pegang budaya. Wartawannya menjadi sangat ahli di semuanya karena di-rolling,” ujar Adib.

Ia kemudian menambahkan bahwa lulusan jurnalistik tidak bisa langsung memutuskan spesialisasi seperti apa yang akan mereka pilih. Mereka perlu terlebih dahulu fokus kepada gaya penulisannya, baru kemudian subjeknya akan mengikuti dengan sendirinya. Hal yang sama turut diungkapkan oleh Ardyan.

“Coba sebanyak mungkin tema. Wartawan muda itu akan terbantu kalau nggak langsung melakukan spesialisasi. Kamu harus coba tulisan lain yang jauh dari bayanganmu,” tambahnya.

Selain membahas tentang pekerjanan jurnalis, kedua pembicara juga membagikan pandangan mereka tentang pendapat masyarakat yang menganggap bahwa pekerjaan sebagai jurnalis akan segera punah. Menurut Adib, menetapkan sasaran untuk bekerja menjadi wartawan bukanlah yang terpenting, melainkan fokus kepada penulisan.

“Dengan kalian bekal menulis, itu sudah menjadi CV yang akan melekat pada sosok kalian. Banyak tempat pekerjaan yang tidak harus menjadi wartawan tapi membutuhkan skill penulisan yang baik dan benar. Dunia nyata itu sangat keras. Kalian harus memahami bahwa sesudah lulus harus bekerja, walaupun pekerjaannya tidak sesuai dengan bidang kalian.”

Ardyan pun memiliki pendapat yang serupa. Menurutnya, yang terpenting adalah bersikap fleksibel dan memanfaatkan jaringan yang ada ketika bekerja menjadi wartawan. Ada dua pilihan yang bisa diambil oleh lulusan jurnalistik, yaitu menyediakan jalur karir lain setelah sebelumnya membangun jaringan di industri media, atau tetap menjadi jurnalis yang serba bisa dengan menambah keahlian.

“Keuntungan yang paling besar dari wartawan itu networking. Kasih waktu empat atau lima tahun untuk perbanyak networking, kemudian tentukan. Kalaupun mau stay sebagai jurnalis, harus perbanyak skill atau perkuat spesialisasi,” tuturnya.

Penulis: Hilel Hodawya

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Roberdy Giobriandi