Menaker: Lulusan Sarjana Hanya Penuhi 63 Persen Kebutuhan Industri

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri memberikan sambutan pada Wisuda UMN ke-13 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang, pada Sabtu (30/06/18). (TIM DOKUMENTASI UMN)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan kalau lulusan sarjana yang sesuai dengan kebutuhan industri hanya mencapai 63 persen. Karenanya, ia mengimbau lembaga pendidikan untuk melibatkan industri dalam susunan kurikulum.

“Jadi kalau misalnya ada lulusan seratus, ya itu berarti hanya 30 sampai 40 orang yang match,” ujar Hanif yang membawakan pidato di hadapan 288 orang wisudawan Universitas Multimedia Nusantara (UMN), dalam Wisuda XIII UMN di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang (30/06/18).

Menurut Hanif, meskipun memiliki potensi tenaga kerja yang berkualitas, namun Indonesia masih belum mampu menghadapi perkembangan dunia kerja yang telah memasuki era industri “4.0”. Ia menyebutkan, Sumber Daya Manusia (SDM) ahli saat ini hanya sebatas role model saja, dan belum dapat memenuhi kebutuhan industri secara keseluruhan. Lebih lanjut, Hanif juga mengatakan kalau jumlah tenaga kerja ahli di Indonesia masih rendah.

Sebagai perbandingan, Hanif mengatakan kalau peran industri terhadap perekonomian di negara-negara yang sudah maju mencapai lebih dari 70 persen. Angka tersebut jauh berbeda dibandingkan dengan Indonesia.

“Kalau kita lihat kapasitas training center industry (di Indonesia) itu hanya di kisaran 2000 paling. 2000 per tahun,” tegasnya.

Untuk memajukan industri negara pada beberapa tahun mendatang, Indonesia setidaknya masih membutuhkan sekitar 3,8 juta tenaga ahli. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Hanif pun turut mengenalkan rencana pembaruan sistem pemagangan. Dari sistem itu, ditargetkan akan muncul 1,4 juta SDM skill.

“Ini bukan pemagangan model dulu. Pemagangan yang kita kenal sebagai tukang bikin kopi dan tukang fotokopi, bukan. Karena ini ada sistemnya, ada sertifikasinya, ada mentoringnya, ada desainnya,” jelas Hanif.

Menutup pidatonya, Hanif kembali menekankan agar sarjana muda dan lembaga pendidikan lebih menyiapkan kemampuan diri untuk bersaing dalam industri 4.0, yakni industri yang lebih mengedepankan inovasi dan teknologi.

Dalam Wisuda XIII UMN  ini, terpilih 7 orang mahasiswa terbaik yang mewakili masing-masing program studinya. Mereka adalah:

  1. Febrian Wilson, Teknik Informatika
  2. Sudecanto, Sistem Informasi
  3. Sunderi Pranata, Teknik Komputer
  4. Fransiska Maureen, Akuntansi
  5. Dessy Chandra, Manajemen
  6. Natashia Dova, Ilmu Komunikasi
  7. Edwina Grammy Akoso, Desain Komunikasi Visual

Dari daftar nama tersebut, Fransiska Maureen berhasil menyabet predikat wisudawan terbaik, dengan IPK 3,93. Selain tujuh nama wisudawan terbaik, adapula seorang wisudawan yang mendapat gelar Cendekia Utama, karena prestasi yang dimilikinya baik dalam bidang akademik maupun non-akademik. Ia adalah Sintya Oktaviani, wisudawan dari program studi Informatika.

“Dari semester satu mesti pintar manage waktu. Bikin target,” pesan Fransiska yang tengah menjalani training di salah satu kantor akuntan publik.

 

Penulis: Anindya Wahyu Paramita

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Tim Dokumentasi UMN

  • Anak UMN

    Tentang wisuda cuma 1 beritakah? Padahal penasaran soal lulusan terbaik, cendekia utama, dsb…