Teater KataK Persembahkan ‘Kronika: Jalan Pedang’

“Kronika: Jalan Pedang” merupakan produksi ke-57 Teater KataK yang dilaksanakan di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, Jumat (29/11/18). (ULTIMAGZ/Renate)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Teater KataK kembali mempersembahkan sebuah Pentas Besar Kampus (PBK) yang bertajuk Kronika: Jalan Pedang. Produksi ke-57 Teater KataK ini berhasil ‘memecahkan’ Function Hall Universitas Multimedia Nusantara pada Kamis (29/11/18) dan Jumat (30/11/18).

Dimeriahkan dengan opening performance berjudul Kronika: Kutukan Pedang, pementasan ini mengisahkan pembalasan dendam Guan dengan seutas jalan memilukan yang ia pilih sendiri, yakni jalan pedang. Dibunuhnya ibu dan adiknya, Ah Mao, serta diserahkannya belahan jiwa Guan, Mei, kepada kaisar, membuat Guan berniat untuk mengakhiri dendam ibu dan adiknya kepada Kaisar Xia Jie dan Jenderal Long yang menguatkan tirani pada zaman dinasti Cina tersebut.

Aristotle Rama sebagai Guan (kiri) dan Steffani Liwang sebagai Mei (kanan) pada pementasan hari pertama Kronika: Jalan Pedang di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang, Jumat (29/11/18). (ULTIMAGZ/Renate)

Aristotle Rama, pemain di balik tokoh Guan pada pementasan hari pertama, mengaku selesainya pentas ini adalah suka dan duka terbesarnya.

“Suka karena semua jerih payah dari awal reading, latihan fisik, diet sampai 15 kilogram, belajar menari yang proper, dan kekeluargaan yang telah terbangun selama proses ini akhirnya terbayarkan,” ujar Rama. “Di waktu yang bersamaan jadi duka karena ada perasaan takut semua kekeluargaan itu nantinya hilang.”

Gemuruh tepuk tangan dari sekitar 350 pasang tangan penonton dan beberapa tamu undangan membayar kerja keras yang telah dicurahkan. Barisan pemain dan kru, baik artistik maupun non artistik, menutup rangkaian pementasan tersebut. Berbagai ucapan selamat dan semangat disantunkan penonton usai pentas garapan Theo Layarda tersebut berakhir.

Rama menambahkan bahwa dalam produksi ini, pemain dididik oleh tim penyutradaraan untuk menampilkan hasil yang maksimal.

“Puji Tuhan, aku berhasil turun panggung dengan tidak menyesal,” tutur Rama.

 

Penulis: Maria Helen Oktavia

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Renate