Belajar Eratkan Hubungan Manusia dengan Sesama dan Alam Lewat TEDxUniversitasPrasetyaMulya

TEDxUniversitasPrasetyaMulya 2020 yang dilaksanakan dalam bentuk webminar pada Sabtu (19/09/2020). (Ultimagz)
TEDxUniversitasPrasetyaMulya 2020 yang dilaksanakan dalam bentuk web seminar pada Sabtu (19/09/2020). (Foto: TEDxUniversitasPrasetyaMulya)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pada Sabtu (19/09/2020), seminar tahunan kolaborasi TEDx dan Universitas Prasetya Mulya ke-3 menjelaskan arti yang lebih mendalam dari kehadiran manusia di alam semesta. Lewat Samuel Dwi Kurnia dan Saras Dewi, mereka membagikan ide mengenai hubungan antar sesama dan bagaimana manusia mempengaruhi lingkungan hidup. 

Dimulai dari Samuel, ia menceritakan perjalanannya dari Jakarta ke Yogyakarta yang sudah ia sering lakukan. Namun, ada masa di mana ia tidak ingin membawa uang sepeser pun saat ke Yogyakarta.

 “Karena setiap semester pergi liburan ke Yogya, lama-lama bosen. Naik kereta, pesawat, gitu-gitu aja. Akhirnya, keluar, tuh, ide pergi ke Yogya Rp 0, enggak bawa uang sama sekali,” ujar Samuel lewat konferensi daring. 

Ia ingin membuktikan, sebenarnya masih banyak orang baik di dunia ini. Samuel mau menghapus stereotip mengenai dunia luar yang jahat. Pasalnya, ia percaya bahwa setiap orang pasti mempunyai sisi baik dan buruk.

Dalam perjalanan, ia hampir dimintai uang oleh 3 orang preman di pasar tradisional Cirebon. Namun setelah ia menceritakan perjalanannya dari Jakarta ke Yogyakarta tanpa membawa uang, ketiga preman tersebut malah memberinya uang.

“Preman ini ngebuktiin kalo masih banyak orang baik di luar sana. Ada pepatah don’t judge people by it’s cover, preman ini bukti nyatanya,” ungkap Samuel.

Manusia juga sebaiknya menghilangkan perspektif bahwa orang asing sebaiknya dijauhi. Perjalanan tanpa membawa uang yang dilakukan Samuel tidak memberikannya pilihan untuk menjauhi orang asing.

Selain itu, penting bagi manusia untuk memperlakukan orang lain secara setara. Tidak menempatkan posisi orang lain lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi menempatkan orang lain sebagai teman.

“Orang asing adalah teman yang belum dipertemukan,” simpulnya.

Berbeda dengan Samuel, Saras Dewi membagikan kecemasannya terhadap hubungan manusia dan alam yang semakin rusak. Pengajar mata kuliah filsafat lingkungan hidup di Universitas Indonesia ini terinspirasi dari kakeknya yang melihat, modernisasi dan perubahan terus menggerus lingkungan hidup dan budaya Bali. 

Beliau memaparkan konsep antroposentrisme, yaitu sebuah teori yang memandang bahwa manusia adalah pusat dari kehidupan. Kepentingan manusia merupakan faktor penentu dalam segala keputusan yang terkait dengan ekosistem. Alam mempunyai nilai yang berharga bagi manusia dan pada akhirnya hanya dipandang sebagai sarana kepentingan manusia. 

Cara hidup manusia harus diubah, yang semula menekankan pada ego menjadi eco. Pandangan manusia ada di puncak piramida dan seolah-olah raja harus diubah dengan mengikutsertakan komunitas biotik.

“Saling merawat, saling menjaga agar terbentuk suatu equilibrium atau keseimbangan,” tutur Saras. 

Selain Samuel Dwi Kurnia dan Saras Dewi, ada dua pembicara lain dalam TEDxUniversitasPrasetyaMulya 2020, yaitu Edo Huang dan Aryo Ariotedjo. Lewat tema besar BE:ing, tiap-tiap dari mereka membawakan topik The Perfect Formula in Successful Business dan The Peculiar Relationship We Have with Technology.

 

Penulis: Jessica Elisabeth Gunawan

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: TEDxUniversitasPrasetyaMulya