Cara Unik Sampaikan Makna Kehidupan Lewat Pentas ‘White Rabbit Red Rabbit’

Sita Nursanti saat menampilkan teater "White Rabbit Red Rabbit" dalam rangkaian acara SIPFesr 2018 di Komunitas Salihara, Minggu (26/08/18).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pementasan teater “White Rabbit Red Rabbit” yang digelar pada Sabtu (25/08/18) dan Minggu (26/10/18) di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, merupakan salah satu pertunjukan dari rangkaian acara dwitahunan Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest) 2018. Reza Rahadian sebagai penampil di hari pertama dan Sita Nursanti di hari kedua, menarik animo masyarakat untuk melihat pertunjukkan ini.

“White Rabbit Red Rabbit” merupakan sebuah percobaan teatrikal karya Nassim Soleimanpour, seniman teater asal Teheran, Iran. Hal menarik dari setiap pertunjukkan “White Rabbit Red Rabbit” adalah penampil akan membacakan naskah di tengah panggung tanpa latihan dan sutradara, bahkan naskah tersebut masih disegel sebelum dibacakan. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi aktor yang akan menampilkannya.

“Satu hal yang sudah pasti dilakukan adalah tidak ada persiapan karena memang itu yang diinginkan si penulis. Nassim ingin menyampaikan kondisi dirinya dan negaranya melalui si aktor, jadi saya tidak perlu menjadi siapa-siapa,” ujar Sita.

Pertama kali membaca naskah dan langsung memerankannya membuat Sita takut tidak dapat menyampaikan pesan yang terdapat di dalamnya. Namun, sebagai aktor Sita dapat merasakan cara membawakan momen-momen yang akan perankan selanjutnya.

Keunikan lain dari “White Rabbit Red Rabbit” adalah interaksi antara aktor dengan penonton yang membuat penonton memiliki peran dalam adegan-adegan yang diceritakan. Tak jarang terdapat kalimat guyonan yang mengundang tawa dari penonton. Berdurasi 90 menit, pementasan ini mampu membuat penonton larut dalam tiap adegan yang dibacakan meskipun terkadang muncul kebingungan, baik dari aktor maupun penonton.

Teater ini mengisahkan pengalaman pribadi si penulis naskah menyangkut kebebasan, membuat pementasan ini menjadi nyata di mata penonton.

Penulis naskah, Nassim, tidak bisa mendapatkan paspor karena tidak mau mengikuti wamil (wajib militer), meskipun pada akhirnya Nassim tahu bahwa dia memiliki gangguan mata yang membuat pencekalannya dihapus. Sita sebagai aktor melihat Nassim ingin menyuarakan yang terjadi di negaranya dengan cara yang menarik.

“Seni adalah cara yang paling halus untuk menyampaikan pesan kehidupan. Tidak harus dengan berkoar-koar demo,” Sita berpendapat Nassim adalah orang yang cukup pintar dengan mengirimkan karyanya dan meminta orang lain untuk memainkannya sehingga membuat konsep penampilan ini menjadi menarik dan rasa penasaran membuat semua aktor ingin mengerjakannya.

“White Rabbit Red Rabbit” sendiri telah diterjemahkan ke dalam 25 bahasa sejak pementasan perdananya pada 2011. Beberapa aktor ternama dalam dunia film dan teater pernah memerankan naskah ini. Indonesia menjadi negara ke-50 yang menampilkan teater ini.

 

Penulis : Agatha Lintang

Editor : Hilel Hodawya

Foto : Witjak Widhi Cahya (Komunitas Salihara)