Cermin Kepemimpinan Indonesia dalam Pentas Indonesia Kita

Dua karakter eksekutor yang diperankan Joned dan Wisben Antoro bersiap mengeksekusi mati seorang terpidana dalam salah satu adegan pertunjukan teater Indonesia Kita di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat(10/3). Teater Indonesia Kita kali ini mengangkat cerita tentang kondisi negeri pasca meninggalnya presiden secara misterius.
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Program Indonesia Kita kembali hadir di tahun 2017 dengan pertunjukkan perdana bertajuk Presiden Kita Tercinta. Pertunjukan ke-23 ini diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Jumat (10/03/16) dan Sabtu (11/03/16).

Pertunjukkan dimulai dengan nyanyian seriosa dan tarian kontemporer oleh orang-orang berjubah hitam. Seluruh penonton di Teater Jakarta terdiam dan tenggelam dalam penampilan berkonsep horor itu. Setelahnya, pertunjukan dilanjutkan dengan adegan eksekusi mati seorang warga sipil yang dipenuhi dengan dialog humor dan lelucon dari para aktor, jauh berbeda dengan konsep pada bagian pembuka.

Dalam lakon ini, dikisahkan negara Indonesia sedang mengalami masa kelam di mana presiden baru saja terbunuh dan tidak adanya sosok pemimpin pada saat itu menimbulkan kecemasan rakyat. Akhirnya, terjadilah demonstrasi dan kericuhan dimana-mana. Di tengah situasi yang tidak menentu itu, banyak tokoh yang ingin mengambil alih jabatan presiden untuk kepentingan pribadi. Penasehat pemerintah pun memutuskan untuk melakukan pemilihan presiden yang adil dengan memberi hak pada seluruh rakyat untuk memilih dan dipilih.

Setelah dilangsungkan proses pemilihan yang singkat, terpilihlah seorang pria kampung bernama Marwoto untuk menjadi presiden. Awalnya Marwoto menolak untuk menjadi presiden karena ia sama sekali tidak berambisi untuk memimpin. Namun, berdasarkan undang-undang yang telah dibuat pada masa itu, Marwoto harus menerima tanggung jawab untuk menjadi presiden karena telah dipilih oleh rakyat. Marwoto pun akhirnya setuju dan menjalani kewajibannya menjadi pemimpin negara.

Menjadi presiden di tengah negeri yang sedang dilanda kerusuhan tidaklah mudah bagi Marwoto. Ia harus berhadapan dengan aparat-aparat pemerintah yang tidak menyukai dirinya dan memimpin dengan segala keterbatasannya. Lama kelamaan, ketika ia mulai bisa mengatasi konflik di Indonesia dan semakin dicintai oleh rakyatnya, ia malah merasa asing dan tidak nyaman dengan kekuasaan yang ia miliki.

Presiden Kita Tercinta melukiskan situasi kepemimpinan pemerintahan di Indonesia saat ini namun dikemas dengan latar yang berbeda. Berbagai konflik kepemimpinan dihadirkan di setiap adegan dengan sindiran berbalut komedi yang mengundang tawa penonton. Beberapa aktor lawak yang selalu melontarkan ejekan jenaka antara lain Cak Lontong, Akbar, Marwoto, Trio GAM (Gareng, Wisben, Joned), dan lain sebagainya.

Secara keseluruhan, pentas yang disutradari oleh Agus Noor ini menggambarkan tentang kecintaan pada tanah air dan hubungan antara rasa cinta itu dengan menjadi pemimpin negeri. Penonton disadarkan bahwa kepemimpinan bukanlah hal yang sederhana namun sering kali diremehkan oleh pihak-pihak yang sangat berambisi untuk memiliki kekuasaan.

“Jadi Presiden Kita Tercinta ini pasti akan menggambarkan, melakonkan, mengisahkan tentang pemimpin, kepemimpinan, ambisi kepemimpinan, mencari pemimpin, yang inilah kita semua tahu dalam pilkada kemarin dan hari-hari mendatang ini kita melihat bagaimana orang mimpi, orang ngebet, pingin jadi pemimpin,” jelas Direktur Kreatif Indonesia Kita Butet Kartaredjasa.

Di akhir kata sambutannya, Butet mengatakan bahwa meski dalam Pilkada putaran kedua mungkin tidak seluruh penonton berada di pihak yang sama, tetapi dalam program Indonesia Kita semua mimpi adalah satu yaitu Indonesia.

“Setelah dari sini kita bersama menemukan inspirasi untuk menemukan pemimpin yang terbaik, pemimpin yang senantiasa memihak pada rakyat dan demi kesejahteraan rakyat,” tutupnya.

Penulis: Hilel Hodawya

Editor: Nathania Zevwied Pessak

Foto: Bonaventura Ezra