Dewasa Ala Semar Lewat Lakon “Kanjeng Sepuh”

(Dari kiri) Akbar, Cak Lontong, dan Marwoto berlakon dalam pementasan ke-31 Indonesia Kita berjudul "Kanjeng Sepuh" di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu (23/03/19). (ULTIMAGZ/Devonseta)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pementasan Indonesia Kita kembali hadir dengan lakon Kanjeng Sepuh di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Sabtu (23/03/19). Pada pementasan pertamanya tahun ini, penonton diajak untuk merefleksikan bagaimana menjadi seseorang yang dewasa di era sekarang. Hal ini berkaca pada situasi politik Indonesia yang kerap menimbulkan banyak perpecahan di kalangan orang yang dianggap dewasa.

Di dalam pementasan, pemain sekaligus sutradara Kanjeng Sepuh Sujiwo Tejo mengatakan bahwa menjadi seorang dewasa tetap perlu memiliki jiwa anak-anak. Sosok dengan karakter tersebut ditampilkan pada pementasan ini dalam tokoh Semar. Ia digambarkan sebagai seorang tua yang masih memelihara sifat anak-anak yang riang dan usil.

Kemunculan karakter Semar bagi Sujiwo Tejo merupakan pertama kalinya sepeninggal sosok Gus Dur. Pria yang juga rutin menulis dalam rubrik mingguan Jawa Pos ini sudah tidak pernah memakai karakter Semar setelah mantan Presiden RI keempat tersebut wafat. Baginya, belum ada sosok yang menggantikan Gus Dur sebagai Semar dalam kehidupan nyata di negeri ini.

“Saat ini belum ada sehingga Semar-nya dalam khayalan saja. Pada kondisi ini, ketika antem-anteman kubu 1 dan kubu 2, saya jadi berpikir bahwa jiwa kanak-kanak yang ada dalam diri Semar perlu ditumbuhkan lagi,” ujar Sujiwo Tejo saat ditemui usai pementasan.

Sujiwo Tejo juga menambahkan, walaupun jiwa anak-anak itu dirasa penting, tetapi tetap ada batasan yang harus diperhatikan. Satu hal yang tidak bisa diambil dari sosok anak-anak ialah tanggung jawab. Seorang dewasa tetap harus memiliki tanggung jawab yang dewasa dengan imajinasi dan sifat pemaaf yang dimiliki oleh anak-anak.

“Yang bisa kita serap dari anak-anak itu kecenderungan untuk selalu ingat semua hal itu main-main. Nah, mereka lupa bahwa sebenarnya Pilpres ini permainan sehingga sekarang jadi pada fanatik,” tambah pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini.

Pada pementasan kali ini, penonton terpaksa harus kehilangan celotehan khas dari Butet Kartaredjasa yang juga merupakan penggagas pementasan Indonesia Kita. Butet sedang jatuh sakit pada pementasan hari pertama sehingga terpaksa harus istirahat pada pementasan hari kedua. Hanya saja, hal tersebut masih bisa tertutupi dengan duo Cak Lontong-Akbar yang selalu melemparkan guyonan sarkastis yang khas dan kebolehan bermain peran dari Wulan Guritno.

 

Penulis: Adrianus Dwi Octaviano

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Devonseta Aldi