Gaung Kebebasan Berpakaian dan Pelecehan Seksual di Women’s March Jakarta 2019

Seorang aktivis yang turut menyuarakan aspirasi dalam acara Women's March Jakarta dengan rute dari Hotel Sari Pasific, Sarinah hingga Taman Aspirasi pada Sabtu (27/04/2019). Dalam suaranya, aktivis tersebut menyuarakan kebebasan berpakaian wanita. (ULTIMAGZ/Gabriela Vivien).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com Setelah mengalami pengunduran jadwal dari Maret ke April, Women’s March Jakarta kembali hadir pada Sabtu (27/04/19). Pawai yang dimulai dari depan Hotel Sari Pan Pasific hingga Taman Aspirasi Monas ini menyuarakan beragam tuntutan terkait kesetaraan hak perempuan Indonesia.

Meski tuntutan yang digarisbawahi adalah soal penyegeraan pengesahaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), tetapi beberapa peserta pawai turut memperlihatkan permasalahan lain yang sering luput dari perhatian masyarakat Indonesia. Salah satunya yaitu terkait kebebasan berpakaian dan pelecehan seksual. Kebebasan berpakaian perempuan Indonesia masih terbilang rendah. Bahkan menurut Descha, salah satu peserta Women’s March Jakarta, kebebasan berpakaian di Indonesia sama sekali tidak ada. Untuk terjun ke ruang publik, perempuan diharapkan mengenakan pakaian yang tertutup karena dianggap mampu menjaga si perempuan.

“Enggak ada kebebasan di Indonesia. Lu mau pakai (baju) yang minim, dihujat. Lu mau pake niqab, dihujat katanya teroris. Kalau pakaian minim katanya cewek enggak benar. Jadi, lu mau pakai apa lu salah,” kata peserta yang membawa poster bertuliskan ‘the problem is not your clothes but the pervert’ itu.

Poster-poster yang dibawa oleh para aktivis dalam acara Women’s March Jakarta 2019. (ULTIMAGZ/Gabriela Vivien)

Seorang peserta Women’s March Jakarta bernama Ghea menyatakan bahwa pakaian yang sopan tidak membuat perempuan terbebas dari pelecehan seksual. Ia bercerita pernah mendapat pelecehan seksual ketika mengenakan kaus Barong Bali yang menurutnya tidak menunjukkan kesan seksi.

Hal senada disampaikan oleh peserta pawai lainnya, Neysa. Menurutnya, terlalu berlebihan jika berpakaian sedikit terbuka masih dianggap tabu, padahal hal tersebut tidak bermaksud untuk ‘memancing’ tindak pelecehan seksual.

“Kalau misalnya ada pelecehan seksual atau perkosaan terus yang pertama ditanya itu pasti ‘memang ceweknya pakai baju apa?’ Padahal, aku sendiri berpengalaman waktu itu berseragam tapi di-catcall dan saat itu aku pakai kerudung,” katanya.

Ruang publik menjadi arena yang seolah menyeramkan bagi perempuan. Hal ini didukung laporan yang dibuat oleh Thomson Reuters Foundation pada 2014, transportasi umum sebagai salah satu area publik Indonesia menduduki posisi kelima terburuk di dunia. Bahkan berada di posisi dua Asia setelah New Delhi.  

Baik Descha, Neysa, ataupun Ghea adalah sedikit contoh dari para peserta Women’s March yang ingin menekankan bahwa pencegahan terjadinya pelecehan seksual tidak bisa dititikberatkan pada pakaian, melainkan melalui pengubahan pola pikir. Dengan diangkatnya permasalahan ini melalui poster-poster para peserta Women’s March, diharapkan dapat menyebarluaskan polemik yang sebenarnya terjadi.

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Anindya Wahyu Paramita

Foto: Gabriela Vivien