Indonesia Kita: “Orang-Orang Berduit” Cerminkan Masyarakat Budak Uang

(Dari kiri) Cak Lontong, Desy JKT 48, dan Alexandra Gottardo menjadi lakon pada pementasan ke-30 Indonesia Kita yang berjudul "Orang-orang berduit". Pementasan ini dilakukan di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki pada Jumat dan Sabtu 5-6 Oktober 2018.
Share:

“Dengan kekayaan, kalian bisa mengatur kekuasaan, membeli kebenaraan, membiayai kebencian atau membuat sejarah kalian tampak megah. Tapi ada yang tidak bisa dibeli dengan duit kalian!” –Butet Kartaredjasa, Agus Noor, dan Djaduk Ferianto.

JAKARTA, ULTIMAGZ.COM – Indonesia Kita menggelar pentas pertama teater edisi ke-30 dengan tajuk “Orang-Orang Berduit” pada Jumat (05/10/18) lalu di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Lakon ini mencerminkan realita kehidupan masyarakat Indonesia yang menjadi budak uang.

Teater ini menceritakan dua orang kaya, Nyonya Yu Ningsih dan Tuan Butet yang saling menginginkan koper merah satu sama lain. Sang nyonya bersuamikan 4 orang dan memiliki seorang asisten yang setia dengan dirinya, Merry. Yu Ningsih di awal pementasan memberi perintah kepada Merry untuk menjaga koper merahnya agar tak hilang atau diambil orang lain. Hal sama dilakukan Tuan Butet yang meminta seorang tunawicara berpenampilan layaknya iblis untuk menjaga koper miliknya.

Cak Lontong dan Akbar kembali hadir dalam pementasan kali ini, masing-masing berperan sebagai si kaya dan si miskin. Akbar ingin membantu Cak Lontong keluar dari kemiskinan serta tekanan ekonomi yang dihadirkan istri (Alexandra Gottardo) dan anaknya (Desy JKT48). 

“Memang betul kebahagian tidak terukur dari uang, tapi saya sebagai ibu rumah tangga uang juga penting untuk memberi kebahagiaan keluarga. Dua-duanya sangat penting kalau dimaknakan dalam keseimbangan, kalau tidak ada uang dalam keluarga pasti akan terjadi perselisihan dan argumentasi,” terang Alexandra mengenai realita hidup berumah tangga. “Enggak mungkin dong orang tua mau miskin terus dan membuat anaknya menderita. Cinta dan uang berperannya berbeda, tapi keduanya memiliki makna yang bagus.” 

Lakon yang penuh lawakan satir dan kritik sosial ini kembali sukses membuat penonton tertawa. Hanya dengan latihan selama tiga hari, para pemain mampu menghadirkan pementasan yang apik. Improvisasi jenaka di panggung selalu dibumbui dengan lawakan khas Indonesia Kita yang dihubungkan dengan isu-isu terkini, seperti kasus berita bohong Ratna Sarumpaet. 

“Orang-Orang Berduit” menjadi penutup dari tema “Budaya Pop: Dari Lampau Ke Masa Now” yang digunakan dalam beberapa pementasan terakhir. Adapun, Indonesia Kita akan kembali melakukan ‘ibadah’ budaya lagi pada 23-23 Maret 2019 dalam lakon bertajuk “Kanjeng Sepuh”.

 

Penulis: Theresia Amadea

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Robin Colinkang