ISCC 2018: Majukan Ide Sistem Informasi Kesehatan

Risk Advisory Life Science & Healthcare Lead PT Deloitte Konsultan Indonesia dr. Zamzam Djaelani (kiri) bersama tim mahasiswa perwakilan asal Hong Kong University of Science and Technology yang berhasil menjadi juara pertama dalam Infomation System Case Competition (ISCC) 2018 yang diselenggarakan oleh Binus Internasional, FX Sudirman, Jakarta Pusat (05/10/18). (ULTIMAGZ/Anindya Wahyu Paramita)
Share:

JAKARTA,ULTIMAGZ.com Universitas Bina Nusantara (Binus) International upayakan ide pengembangan teknologi bidang kesehatan lewat Infomation System Case Competition (ISCC) 2018. Kompetisi sistem infomasi yang digelar di kampus Binus International, FX Sudirman, Jakarta Pusat itu diikuti 10 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri.

“Kita setiap tahun itu biasanya mencoba untuk mengatasi problem bisnis, problem finansial. Terus kita realize sepertinya health-tech di luar Indonesia itu sudah sangat berkembang, tapi di Indonesia belum, ” ujar Ketua Acara ISCC 2018 Vivian Caroline Huang, ditemui usai sesi debat, Jumat (05/10/18) lalu.

Bekerja sama dengan Deloitte yang merupakan perusahaan multinasional bidang konsultasi akuntan, ISCC menarik minat mahasiswa asing untuk ikut berpartisipasi. Sementara untuk penilaian ide penyelesaian masalah, ISCC melibatkan perwakilan situs kesehatan KlikDokter.

“Yang masuk semi final sendiri yang internasional ada dua. Satu dari Hong Kong University of Science and Technology, terus ada dari Malaysia, Universiti Putra Malaysia,” tutur Vivian.

Ravangers (kiri), tim perwakilan ITB Bandung yang terdiri dari 3 orang mahasiswa berhasil meraih gelar juara II dalam ISCC 2018.

Menjadi satu dari 10 finalis, tim mahasiswa asal Institut Teknologi Bandung (ITB) mengaku berusaha mencari ide yang dirasa paling dibutuhkan dalam dunia kesehatan di Indonesia. Tim yang menamai diri mereka Ravangers ini berfokus pada pencegahan penyakit jantung dan diabetes yang menjadi penyumbang angka kematian terbesar di Indonesia. Beranggotakan 3 orang mahasiswa, tim ini membuat dua sistem yang masing-masing ditujukan untuk keperluan rumah sakit dan konsumen.

“Dari sisi rumah sakit, kita bantu mereka (tenaga medis) untuk mendata riwayat kesehatan pasien dan bisa bantu mendeteksi potensi penyakit pasien,” jelas Aliyah Sausan Huwel.

Selain membantu mengolah sistem informasi di rumah sakit, Ravangers juga menyiapkan sebuah aplikasi yang dapat diunduh masyarakat untuk membantu mengetahui potensi penyakit jantung dan diabetes. Aplikasi ini menyediakan chatbot yang memungkinkan pengguna untuk melakukan konsultasi kesehatan. Dari segi bisnis, tim ini membuatkan dua sistem dalam aplikasi tersebut, yaitu layanan gratis dan premium (berbayar).

Berkat solusi yang ditawarkan, Ravangers berhasil meraih gelar juara kedua dalam kompetisi tahunan ini. Tim mahasiswa perwakilan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menyusul di posisi ketiga. Sementara itu, gelar juara pertama berhasil diraih oleh tim mahasiswa asal Hong Kong.

 

Penulis: Anindya Wahyu Paramita

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Anindya Wahyu Paramita