Mengenal Insomnia dan Parasomnia di Seminar ALIVE 5.0

Seminar Alive 5.0 "Gangguan Tidur: Insomnia dan Parasomnia)" mengundang narasumber Tretan Muslim (kiri) dan Filo Sebastian (tengah) di Lecture Hall, Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang (22/11/19). (ULTIMAGZ/Renate Pinasthika)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – ALIVE 5.0 mengajak mahasiswa untuk mengenali gangguan tidur melalui seminar dengan tema “Better Sleep, Better Health”, Jumat (22/11/19). Melalui seminar ini, pembicaraan mengerucut pada gangguan tidur yang sering dialami oleh mahasiswa yaitu insomnia dan parasomnia.

Dokter spesialis neurologi Evelyn Johnlin yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar ini bilang bahwa insomnia merupakan gangguan tidur yang memengaruhi kualitas tidur seseorang. Menurutnya, orang yang menderita insomnia akan merasa tidak segar ketika bangun tidur padahal telah menggunakan waktunya untuk tidur. Ia juga menyampaikan bahwa insomnia tak selalu berbicara tentang kurang waktu tidur seseorang.

Dokter spesialis neurologi, Evelyn Johnlin menjadi salah satu narasumber yang hadir dalam seminar Alive 5.0 di Lecture Hall, Universitas Multimedia Nusantara (22/11). (ULTIMAGZ/Renate Pinasthika)

“Kebutuhan tidur manusia bervariasi sesuai umur sehingga tak ada patokan berapa jam seseorang harus tidur serta berhubungan juga dengan genetik,” ujar Evelyn.

Selain itu, Evelyn juga menjelaskan bahwa insomnia ini merupakan gangguan tidur yang paling sering dialami oleh seseorang setelah gangguan obstructive sleep apnea atau yang lebih dikenal dengan mendengkur. Menurutnya, insomnia telah dialami oleh 30% orang dewasa di dunia dan wanita dianggap lebih sering mengalami hal ini. Evelyn bilang penyebabnya bisa dikarenakan obat atau memang ada penyakit medis atau kejiwaan yang dialami oleh setiap orangnya.

“Cara mencegahnya ya sadarilah bahwa penyebab tidak bisa tidur karena apa dan itu yang perlu diperbaiki, misal terlalu banyak minum kafein, alkohol atau merokok sebelum tidur. Jangan selalu pakai cara praktis dengan minum obat tidur karena perlu diingat bahwa itu akan menyebabkan ketergantungan,” tambah Evelyn.

Evelyn juga menjelaskan gangguan tidur lainnya, yaitu parasomnia. Ia bilang parasomnia ini tidak menganggu kualitas tidur seperti halnya yang terjadi pada insomnia. Hanya saja, parasomnia ini membuat kita terbangun dari tidur dengan bisa melakukan aktivitas motorik yang bisa juga melibatkan perasaan seseorang.

“Biasanya ini terjadi pada anak-anak dan disebabkan oleh faktor genetik dan tak begitu membutuhkan terapi khusus. Kita hanya perlu melindungi lingkungan tidurnya agar tidak terjadi apa-apa jika mengalami parasomnia,” tutur Evelyn.

Tak cukup melihat dari sisi medis, penjelasan parasomnia juga dilihat dari sisi spiritual dengan mengundang youtuber yang memiliki konten horor, yaitu Filo Sebastian dan Tretan Muslim. Mereka berdua menyoroti gangguan parasomnia di kategori yang biasa orang sebut ketindihan. Mereka menceritakan pengalaman ketika mengalami ketindihan dan dihubungkan dengan gangguan makhluk lain.

Filo mengatakan bahwa ketindihan seringkali terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan. Di saat lelah itu, ia bilang bahwa energi seseorang akan menurun dan dengan mudah lebih sensitif untuk merasakan energi dari makhluk lain.

“Analoginya ketika kita di kelas dan merasa ada yang teman lihatin dari belakang, itu berarti energi teman tersebut kita rasakan. Nah, kalau kecapekan akan lebih sensitif lagi dengan energi dari makhluk lain,” ujar Filo.

Tretan pun menambahkan bahwa solusi yang bisa dilakukan ialah berdoa sesuai dengan iman kepercayaan masing-masing. Selain itu, perlu ditambah dengan sikap penolakan kuat dari hati bahwa sedang tidak terjadi sesuatu hal apapun.

“Misalnya ketika kita merasakan sesuatu, anggap saja hal tersebut sedang tidak terjadi terhadap kalian. Biasanya makhluk tersebut akan berhenti menganggu ketika seseorang merasa biasa saja dan tidak mengalami ketakutan,” tutur Tretan.

 

Penulis: Adrianus Dwi Octaviano

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Renate Pinasthika