Teater KataK Tanamkan Nilai Patriotisme Dalam “Paman Doblang”

Teater KataK Tanamkan Nilai Patriotisme Dalam Paman Doblang (ULTIMAGZ)
Salah satu adegan dalam Pementasan Virtual Teater KataK "Paman Doblang", Sabtu (23/1/2020). (Foto: Dokumentasi Teater KataK)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Teater KataK menyelenggarakan Pementasan Inagurasi dengan judul “Paman Doblang” pada Sabtu (23/01/20). Pementasan dengan tema patriotisme ini diselenggarakan secara virtual platform KaryaKarsa.

Lakon yang disutradarai oleh Khenny Gracia ini, menceritakan tentang perjalanan Paman Doblang yang akhirnya mendekam di sel tikus. Akibat sikap dan tingkah lakunya yang mengesalkan, inspektur yang menginterogasinya marah dan mengurungnya di sana.

Naskah “Paman Doblang” terinspirasi dari puisi karya W. S. Rendra yang ditulisnya setelah keluar dari penjara. Penulis mengambil dua latar waktu yang berbeda, yaitu pemberontakan pemerintahan Orde Baru pada 1978 dan masa penjajahan Jepang pada 1943.

Melalui pementasan ini, Teater KataK ingin menanamkan nilai cinta tanah air kepada para penonton. Selain itu, mereka juga berharap generasi muda dapat selalu mengambil inspirasi dari kisah pada masa penjajahan Jepang yang direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu adegan “Paman Doblang” yang berlangsung di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara. (Foto: Dokumentasi Teater KataK)

Situasi pandemi yang kurang mendukung proses pra produksi pementasan membuat Teater KataK merasa tertantang. Oleh karena itu, hingga “Paman Doblang” dibuat dengan dengan konsep virtual. Hal ini yang menjadikannya pementasan virtual ketiga unit kegiatan mahasiswa (UKM) tersebut.

”Semoga pementasan Inaugurasi Teater KataK yang berjudul Paman Doblang ini dapat menjadi hiburan bagi para penonton di rumah, dan bisa menjadi penyemangat untuk semua orang agar tetap terus berkarya dan produktif, meskipun berada dalam kondisi serba terbatas karena adanya pandemi saat ini,” ujar pimpinan produksi Ita Cindy Tania. Ia juga menambahkan untuk jangan menjadikan pandemi halangan untuk terus berkarya.

 

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Andi Annisa Ivani

Foto: Dokumentasi Teater KataK