Orkes Sinten Remen Singgung Kelakuan Elit Politik lewat Synchronize Festival 2019

Pemimpin Orkes Sinten Remen Djaduk Ferianto mengkritik bahwa terdapat pasal-pasal yang membingungkan masyarakat dan dikerjakan pada akhir periode jabatan elit politik, pada hari ke-2 Synchronize Festival 2019 di District Stage, Jakarta International Expo Kemayoran (06/10/19). (ULTIMAGZ/Ignatius Raditya Nugraha)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pemimpin Orkes Sinten Remen Djaduk Ferianto menyinggung elit politik yang membuat pasal-pasal membingungkan pada akhir periode jabatannya. Hal itu disampaikan setelah ia mengaku gugup usai menampilkan “Parodi Lagu Anak”. Djaduk menyinggung kelakukan koruptor dan petugas pencari upeti pada hari ke-2 Synchronize Festival 2019 di District StageJakarta International Expo Kemayoran (06/10/19).

“Kamu teriak-teriak, kita masuk penjara. Pasalnya sudah ada, ye. Saya di sini deg-degan,” kata Ferianto kepada para penonton, diikuti oleh tawa terbahak-bahak. “Di zaman sekarang, orang banyak yang omong doang, dipilih lima tahun, mendekati akhir bikin pasal-pasal yang membingungkan kita. Setuju?”

“Setuju!” Seru para penonton. Sebelumnya, reaksi para penoton begitu heboh ketika “Parodi Lagu Anak” menyinggung korupsi dan Dewan Rakyat. Mereka berjoget, berseru, dan tertawa terbahak-bahak, terutama pada lirik sebagai berikut.

“Aku anak Indonesia, jahat dan bejat. Karena papa memberi hasil uang korupsi.” – Orkes Sinten Remen, diikuti reaksi heboh para penonton.

Selain “Parodi Lagu Anak”, Orkes Sinten Remen menampilkan berbagai lagu bernuansa tua melalui keroncong yang progresif atau menyesuaikan zaman, seperti “Kopi Susu”, “Es Lilin”, “Omdo”, “Kerinduan”, dan “Nasi Goreng”. Tak hanya itu, orkes tersebut juga menampilkan lagu berbahasa Belanda, yaitu “Tanjung Perak”. Ferianto menuturkan, hal ini dikarenakan anggota-anggota orkes merupakan generasi tua sehingga masih bisa menyajikan lagu berbahasa Belanda.

“Terimakasih pada Synchronize yang telah mengundang generasi milenia ini pada zamannya [dulu],” tutup Ferianto. Terlepas dari umur para pemain Orkes Sinten Remen, mereka sukses mengundang antusiasme para penonton. Hal ini terlihat dari reaksi penonton yang sedikit kecewa ketika waktu tampil Orkes Sinten Remen telah usai. Kelihatannya, musik keroncong masih mempunyai tempat di hati generasi muda dengan beberapa penyesuaian.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Ignatius Raditya Nugraha