Railroad Therapy: Lawan Arus, Bangun Harmoni dengan Batu dan Besi

Railroad Therapy
Railroad Therapy melakukan pertunjukan musik jazz pada Sabtu (15/02/20) di gedung Salihara Art Centre, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Mereka merupakan penampil pertama pada festival Jazz Buzz 2020. (Foto: ULTIMAGZ/ Kasyful Haq)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Denting piano didampingi gesekan kontrabas sesekali terdengar snare drum yang dipukul pelan, mengalun membuat melodi lambat dengan kesan sendu. Selang beberapa menit, gitar elektrik dan saksofon mulai bersuara, membuat harmoni jazz-rock bergaya 70-an. 

Adi Wijaya duduk menunduk memainkan piano. Sementara itu, di sisi lain ada Julius Andar Prabowo yang dengan hati-hati membunyikan drumnya. Harly Yoga Pradana meletakkan alat penggesek untuk mulai memetik kontrabas. Tangan kiri Rimanda Sinaga menekan senar gitar berpindah-pindah dari tengah ke ujung, serta Daniel Ryan Aditiya Raharjo meniup saksofon sembari memejamkan mata.

Enam orang pemusik itu adalah band jaz Railroad Therapy yang sedang menampilkan lagu Requiem di teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Band yang terbentuk pada 2013 silam ini, merupakan salah satu penampil dalam acara festival Salihara Jazz Buzz 2020 pada Sabtu (15/02/20). 

Awalnya, Railroad Therapy memilih musik jaz karena ingin melakukan eksplorasi dari bentuk musik yang jarang didengar. Selain itu, mereka juga tidak ingin berada  di dalam arus industri permusikan. 

“Kalau kita selalu mencoba apa yang sudah ada, kita jadi kurang memaknai kemampuan yang kita punya dan jadi enggak kreatif,” ujar komposer sekaligus pemain piano Railroad Therapy, Adi Wijaya.

Walaupun tidak umum, Railroad Therapy menilai musik jaz adalah musik yang luas dan sangat terbuka. Banyak jenis musik yang memiliki dasar jaz di dalamnya, seperti musik tradisi sampai musik psychedelic. Maka dari itu, musik jaz adalah jenis musik yang tepat untuk melakukan eksplorasi. 

“Kami ingin eksplorasi tanpa ada sekat-sekat. Ibaratnya kalau kami berenang kami mau berenang di lautan bukan di kolam berenang, batasnya lebih luas,” jelas pemain kontrabas, Harly Yoga Pradana.

Railroad Therapy memainkan empat lagu pada festival Salihara Jazz Buzz 2020, yakni, Risen, Requiem, Farsifone, dan Life. Empat lagu ini memiliki satu benang merah, nada yang dimainkan memiliki kesan ‘kurang ceria’. 

Pada kenyatannya, benang merah tersebut tidak lepas dari filosofi nama Railroad Therapy itu sendiri. Seperti rel kereta api yang lurus dan bersinergi, Band asal Yogyakarta ini ingin menyajikan harmoni yang jarang ada sebagai terapi kepada pendengar. 

“Kalau biasanya kita mendengar yang berbunga-bunga, kalau di Railroad tidak ada bunga. Hanya ada batu dan besi, no more beauty,” tutup pemain drum dari Railroad Therapy, Julius Andar Prabowo. 

Penulis:  Andrei Wilmar

Editor: Agatha Lintang

Foto: Kasyful Haq