“Soundquriang 8” Tampilkan Perjalanan Unik Budaya Musik Indonesia

Soundquriang
"Soundquriang 8" yang bercerita tentang perjalanan sejarah musik Indonesia, dihelat secara daring melalui YouTube. (ULTIMAGZ/Jessica Gabriela Soehandoko)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) Macquarie University bersama dengan Yayasan Happy Hearts Indonesia baru saja menggelar konser amal virtual “Soundquriang 8” pada Minggu (26/09/21). Mengusung tema “Reminiscence of Indonesia”, konser ini menghadirkan perjalanan budaya musik Indonesia dari masa ke masa.

Dengan menyaksikan “Soundquriang 8”, penonton akan dibawa melihat sejarah awal terciptanya musik tradisional Indonesia serta berbagai perkembangannya. Semua dimulai pada tahun 1200 sebelum masehi, ketika masyarakat tradisional Indonesia masih hidup di tengah alam bebas dan sangat menikmati setiap bunyi yang ada, mulai dari suara hembusan angin, gemericik air, hingga bambu yang saling bertabrakan. Berbagai suara alam itulah yang mendorong terciptanya alat musik tradisional Suku Dayak bernama kledi.

Pada perjalanan berikutnya, penonton dibawa masuk ke dalam era Kerajaan Majapahit. Majapahit merupakan salah satu kerajaan di Nusantara yang mewariskan berbagai peninggalan berharga, termasuk alat musik tradisional seperti gamelan. Setelah itu, kedatangan Bangsa Portugis pada 1512 sebagai penjajah pertama Indonesia membawa budaya baru bagi musik Indonesia, yakni berupa musik fado yang kemudian mempelopori lahirnya musik keroncong. 

Setelah Indonesia menyatakan kemerdekaannya, musik Nusantara pun memasuki era baru yang lebih berjiwa bebas. Pada era inilah lahir musik dangdut yang dipelopori oleh sang musisi dangdut legendaris Indonesia, Rhoma Irama.

Cerita perjalanan budaya musik Indonesia tersebut juga dibalut dengan penampilan-penampilan apik dari 100 lebih pemuda Indonesia yang sangat berbakat. 

“Melibatkan lebih dari 100 pemuda Indonesia berbakat, kami bermaksud untuk menampilkan keberagaman genre musik dan budaya negara kita tercinta, Indonesia,” ungkap Adeline Subhyakto selaku Project Manager “Soundquriang 8”.

Sebagai pembuka, Alouisia Choir tampil menyanyikan lagu Serenata Jiwa Lara karya trio komposer musik Laleilmanino. Ada juga penampilan dari SQ Band yang membawakan lagu-lagu daerah Indonesia seperti Kampuang Nan Jauh Di Mato dan Gemufamire. Persembahan tersebut semakin unik karena dibalut dengan alunan musik tradisional Indonesia seperti gamelan dan angklung, hasil kolaborasi dengan Seke Gamelan Dharma Putra Balinese Community dan Angklung Narifirison IPC Randwick Sydney. Selain itu, “Soundquriang 8” juga turut dimeriahkan oleh tiga musisi Indonesia, yakni Raisa, Rizky Febian, dan Misellia Ikwan.

“Soundquriang 8” merupakan konser amal virtual yang ditujukan untuk mengatasi masalah pendidikan Indonesia yang masih terus berlanjut secara khusus di wilayah pedesaan, yaitu keterbatasan fasilitas. Seluruh hasil donasi dari konser ini akan diberikan kepada Yayasan Happy Hearts Indonesia untuk membangun kembali fasilitas sekolah dan meningkatkan sistem pendidikan di pedesaan.

“Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk kontribusi kami untuk Indonesia dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah sosial yang sedang berlangsung, seperti ketimpangan pendidikan,” ujar Adeline.

Tak hanya itu, acara ini juga digelar sebagai peringatan Hari Perdamaian Dunia yang jatuh pada 21 September. Presiden PPIA Macquarie University Dian Novita mengatakan bahwa para penyelenggara ingin menyalurkan pesan perdamaian kepada para penonton melalui “Soundquriang 8”.

“Acara ini kami selenggarakan sekaligus untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia, dengan harapan dapat menyalurkan pesan perdamaian kepada kalian semua,” kata Dian.

“Kami percaya bahwa musik telah menyatukan kita semua dan menjadi instrumen yang kuat bagi umat manusia untuk menyebarkan pesan perdamaian,” lanjut Adeline.

Penulis: Christabella Abigail Loppies

Editor:

Foto: Jessica Gabriela Soehandoko