Tari Likurai, Ritual Prajurit Perang untuk Menjunjung Persahabatan

Ekspresi para penari yang sangat mengayati tarian ibuibu belu bodies of borders, acara Gladi Resik ini berlangsung pada Rabu (05/02/19) di Komunitas Salihara, Jakarta Selatan. (ULTIMAGZ/Kevin Oei jaya)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Lampu ruang pentas gedung teater Salihara dimatikan untuk mengawali pertunjukkan malam itu. Selang beberapa waktu, lampu di depan panggung menyala, diikuti enam orang perempuan yang menunjukkan diri di depan penonton. 

Mereka berjalan mengelilingi panggung tanpa suara. Tiba-tiba, satu diantara penampil tersebut memecah keheningan, bernyanyi dengan lantang. Tihar (kendang kecil) pun dikeluarkan dari dalam kain warna-warni yang membungkus tubuh mereka. Keenam penampil masih berjalan dan menyanyi bersahut-sahutan.  

Seperti itu gambaran kecil dari pertunjukkan ‘IBUIBU BELU: Bodies of Borders’. Selaku koreografer, Eko Supriyanto ingin menampilkan kedekatan budaya dari masyarakat yang sudah dipisahkan secara politik. 

“Mereka dipisahkan antara Indonesia dan Timor Leste, padahal kan mereka satu keluarga. Ini yang menjadi subjek utama saya sebenarnya, batas itu bisa disatukan oleh tarian Likurai,” ujar Eko kepada Ultimagz, pada Kamis (06/02/20). 

Tarian Likurai sendiri dilakukan oleh masyarakat Timor yang terbelah ketika Timor Leste memerdekakan diri dan meninggalkan NTT untuk bagian Indonesia. Oleh karena itu, pada awalnya tarian ini bertujuan untuk menyambut pahlawan perang yang pulang. 

Setelah tidak ada lagi peperangan, tarian ini mengalami alih fungsi untuk upacara adat, menyambut tamu penting, bahkan pertunjukan seni dan budaya. 

Umumnya, tarian Likurai hanya diiringi ritme dari Tihar dan hentakan kaki para penari. Namun, Eko melakukan sedikit modifikasi. Pendiri sekaligus Direktur Artistik dari EkosDance Company ini menambahkan nada yang saling bertabrakan untuk menggambarkan kekacauan. 

“Nada itu untuk menggambarkan bahwa semuanya indah, tapi tahu sendiri waktu perebutan Indonesia dan Timor Leste berantakannya seperti apa, bagaimana mau enggak chaos kalau kita ngomongin masalah batas?” jelas Eko. 

Pertunjukkan di gedung teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu berangkat dari Festival Likurai yang diikuti enam ribu penari. Kemudian, Eko secara intens melatih enam penari non-profesional dari Belu. 

Menariknya, enam penari tersebut tidak punya latar belakang menari sama sekali. Dua orang di antara mereka adalah guru sejarah dan guru agama. Namun, latihan keras membuahkan beberapa panggung bergengsi untuk mereka, seperti HUT ke-74 Republik Indonesia dan Pembukaan Asian Games pada 2018.

Dengan usaha mempersatukan nilai sejarah dari kehidupan masing-masing penari, Eko juga memilih satu orang warga negara Timor Leste untuk menjadi bagian dari pertunjukkan. 

“Saya mengajak satu penari dari Timor Leste untuk bisa bergabung dengan kita. Pada akhirnya, kita bisa bicara kalau sudah tidak ada lagi batas sekat di antara kita, dua keluarga sudah menjadi satu.” 

Pertunjukkan ‘IBUIBU BELU: BODIES OF BORDERS’ menggambarkan persahabatan dua daerah yang secara tubuh sudah terpisah oleh politik, tetapi bisa bersatu dengan tarian ritual penyambutan pahlawan perang. 

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Agatha Lintang

Foto: Kevin Oei Jaya