Teater KataK Tutup Rangkaian Acara Satu Dekade dengan “Ayana”

Salah satu adegan yang ditampilkan dalam Pentas Satu Dekade Teater Katak bertajuk "Ayana" di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Minggu (01/12/2019). (Sumber: Dokumentasi Teater Katak)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Teater KataK sukes menyelenggarakan Pentas Satu Dekade yang berjudul Ayana di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat pada Minggu (01/12/19).

Disutradarai oleh Rexy Samuel, pementasan yang merupakan produksi ke-61 ini berkisah tentang seorang anak perempuan bernama Ayana. Meski terlahir sehat, ia mempunyai perbedaan fisik pada kulitnya, di mana warnanya dinyatakan lebih putih dibandingkan manusia pada umumnya. Bersama orang tuanya, ia berusaha menyelamatkan keluarganya dari masalah-masalah yang ada akibat perbedaannya.

Terdapat kurang lebih 250 penonton dan tamu undangan yang hadir pada pementasan tersebut, termasuk pelatih teater Venantius Vladimir Ivan dan Michael Devarapriya serta penulis naskah Etha Pelawi. Selain itu, hadir pula dua pendiri Teater KataK Ciptoning Hestomo dan Schoollaus Daleru.

Melalui pementasan yang berlatar belakang di Amerika Latin ini, penonton diharapkan dapat belajar tentang pengorbanan, perjuangan, toleransi, dan kasih.

“Harapannya pementasan ini dapat menginspirasi semua orang dan memberikan nilai positif yang baik dalam kehidupan. Juga, kru maupun pemain yang bertugas semoga bisa semakin berkembang lagi ke depannya.” ujar Pimpinan Produksi Ayana, Fernanda Meita Alam.

Sebelumnya, pementasan berdurasi dua jam ini dibuka dengan pementasan singkat bertajuk Hati yang ditampilkan oleh Perkumpulan KataK .

Menginjak usia ke-10 tahun, Teater KataK sendiri juga menggelar lomba monolog sebagai bagian dari perayaan Satu Dekade Teater KataK . Dengan mengusung tema “Nusantara”, teater yang telah berdiri sejak 2009 ini diharapkan bisa mempererat tali pertemanan dengan komunitas teater-teater lain. Selain itu, mereka juga ingin menyampaikan pesan kepada generasi muda bahwa teater dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan sambil melestarikan budaya yang ada.

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Audrie Safira Maulana

Foto: Dokumentasi Teater Katak