Charity Night “Flies With INARA”, Tetap Semangat Tempuh Pendidikan Saat Pandemi

pendidikan saat pandemi (ultimagz)
Indra Dwi Prasetyo selaku Managing Director IDN Next Leader (kanan atas) menjelaskan pentingnya peranan pembuat konten di era sekarang dalam acara INARA 2.0 Charity Night “Flies With INARA” pada Senin (09/11/20) via Zoom. (ULTIMAGZ/Titus Chrisna Yoga)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Bertemakan Kita Cuman Punya Jarak, malam puncak INARA 2.0 Charity Night “Flies With INARA” mengundang Direktur Utama IDN Next Leader Indra Dwi Prasetyo dan Webtoon Creator “Sepulang Sekolah” Koi. Pada Senin (09/11/2020), kedua narasumber tersebut berbagi tips agar tetap semangat tempuh pendidikan saat pandemi Covid-19 .

Pasalnya, INARA 2.0 melihat bahwa Indonesia masih berjuang dengan pemerataan pendidikan. Akses dan fasilitas pendidikan di kota besar sudah mendukung serta memadai, tapi kondisi pada daerah masih tertinggal.

Koi bercerita bahwa ia pernah berkunjung ke salah satu sekolah di Kalimantan yang tidak mempunyai toilet. Ketika ditanya bagaimana jika ada yang ingin buang air, maka pihak sekolah pun menyarankan untuk mencari tempat tertutup. 

Masih dari pulau yang sama, Indra membagikan kisah mengenai “Sekolah Jauh” di Kalimantan Barat. Sekolah ini terbagi-bagi, misalnya kelas 3 dan 4 SD ada di kecamatan A, sedangkan kelas 5 dan 6 ada di kecamatan B. Tidak ada lahan yang cukup untuk membangun sekolah secara utuh. Akibatnya anak-anak harus menempuh jarak yang terpaut jauh dari rumah, bahkan harus tinggal di rumah kos untuk bersekolah. 

Dengan hadirnya pandemi Covid-19, semakin terlihat kurangnya pemerataan pendidikan dan teknologi di Indonesia. Sebagai pembuat konten edukasi, Koi menyayangkan minimnya materi edukasi di Indonesia. Menurutnya, konten edukasi dapat menjadi pilihan tambahan bagi proses belajar mengajar dalam jaringan (daring) atau online.

“Coba dulu digerakin bareng-bareng, gak akan ketinggalan banyak masalah konten dan ada banyak tools (alat) untuk pendidikan online,” ujar komikus “Sepulang Sekolah” ini.

Dari sisi akademis, menurut Indra, kualitas akademik saat pandemi akan menurun, baik siswa dalam proses belajarnya maupun guru dalam mengajarnya. Dampaknya diperkirakan sampai 4 tahun ke depan. Maka dari itu, dibutuhkan penyesuaian pendidikan pasca pandemi.

“Harus ada kurikulum darurat, kurikulum yang disesuaikan. Kalau kurikulumnya gak diturunkan, gak di-adjust (disesuaikan), pasti akan berdampak,” tambah Indra melalui aplikasi Zoom. 

Namun, pandemi seharusnya tidak menjadi halangan untuk tetap berkarya dan belajar. Koi memberi saran untuk tetap menyebarkan sikap positif selama pandemi. Menurutnya, kreativitas yang dibatasi akan membuat sesuatu lebih bagus.

“Terima keadaan, jangan banyak ngeluh. Dengan mengeluh, kita menyebarkan negativity (negativitas) ke orang lain yang tadinya gak mau ngeluh, jadi ikutan ngeluh. Akhirnya bukannya menolong, malah memperburuk keadaan,” ujarnya dihadapan 400-an partisipan.

Indra mengajak peserta gelar wicara untuk bersyukur karena masih bisa hidup selama pandemi Covid-19 ini. Ia juga mengingatkan, pandemi bukan ajang hebat-hebatan atau perlombaan siapa yang paling produktif, melainkan lakukan yang terbaik dan jadilah diri sendiri.

“Dengan kalian tenang dan bahagia secara mental saja itu sudah cukup. Sepatu kita beda-beda. Kita gak bisa paksain kaki kita ke kaki orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah nikmati kaki kita sendiri. Kalau kita gak bisa, jangan memaksakan diri. Kalo kalian ngerasa kuliah kalian dengan Zoom segala macem cukup, ya sudah, cukup,” tutup Indra kepada mahasiswa UMN yang hadir dalam malam puncak INARA 2.0 Charity Night “Flies With INARA”.

 

Penulis: Jessica Elisabeth Gunawan

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: Titus Chrisna Yoga