Upaya Hadapi Perubahan Iklim di Seminar YCTA 2017

Lathifah Al Hakimi diundang dalam acara Youth Collaboration Towards Action (YCTA) 2017 untuk memberikan pengetahuan mengenai perubahan iklim yang terjadi saat ini. Seminar tersebut dilakukan di Usmar Ismail Hall pada Sabtu (18/03/17).
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Youth Collaboration Towards Action (YCTA) 2017 menghadirkan sebuah seminar di Usmar Ismail Hall, Jakarta Selatan, Sabtu (18/03/17). Kegiatan yang mengusung tema Climate Change ini menghadirkan dua pembicara untuk melakukan pembahasan terhadap dua topik yang berbeda.

Salah satu topik yang dibawakan dalam seminar YCTA 2017 bagian pertama adalah Updates on Climate Change and What can We Do as Youths. Pada pembahasan ini, Ketua Umum Youth for Climate Change (YFCC) Indonesia Lathifah Al Hakimi dihadirkan untuk berbagi informasi tentang pentingnya peran pemuda dalam menghadapi perubahan iklim.

Di awal seminar, wanita yang akrab disapa Kimi ini memberikan sedikit penjelasan mengenai perubahan iklim yang terjadi di dunia, khususnya di Indonesia. Menurutnya, salah satu dampak perubahan iklim yang paling dirasakan oleh masyarakat adalah terjadinya perubahan temperatur.

“Secara global, di sini ada perubahan data temperatur dari tahun ke tahun di mana pada dasarnya temperatur itu naik dan turun. Tapi secara rata-ratanya, ketika masuk pada tahun antara 1800 sampai dengan tahun 2000-an, naik dan turunnya itu lebih cenderung mengalami kenaikan secara signifikan,” jelas Kimi sambil memperlihatkan sebuah grafik perubahan iklim kepada peserta seminar.

Kenaikan temperatur akibat perubahan iklim dapat berdampak pada kesehatan manusia. Perubahan cuaca yang ekstrem akan mengakibatkan hujan deras atau pun peningkatan suhu. Ketika cuaca menjadi panas karena perubahan temperatur, persebaran nyamuk di daerah panas akan semakin meluas.

Kimi juga menjelaskan bahwa ada beberapa target yang ditetapkan oleh Indonesia untuk menangani masalah perubahan iklim. Sejauh ini, masalah terbesar yang telah berhasil diatasi adalah masalah limbah. Namun, masih ada satu masalah besar yang belum terselesaikan yaitu masalah kehutanan dan lahan gambut.

“Kehutanan dan lahan gambut ini adalah masalah yang paling besar, tapi sering kita sepelekan. Kita sering melihat di wilayah Sumatera, Kalimantan, di mana geologi Indonesia merupakan daerah yang cukup besar jumlah hutannya malah cepat sekali mengalami pemerosotan. Dan impact dari permasalahan ini tidak hanya di daerah kita, tapi juga mengenai berbagai macam negara yang ada di sekitar kita,” paparnya.

Sebagai pemuda, Kimi membagikan beberapa upaya pengurangan yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah perubahan iklim, misalnya dengan melakukan perubahan pola hidup. Salah satu perubahan pola hidup yang dianjurkan adalah mengonsumsi produk-produk lokal. Dengan mengonsumsi produk lokal, jumlah transportasi yang digunakan untuk pengiriman barang akan berkurang dan bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin sedikit. Berkurangnya bahan bakar dapat juga mengurangi kadar karbon yang mencemari udara.

Selain upaya pengurangan, adaptasi juga perlu dilakukan untuk menghadapi kondisi Indonesia yang saat ini telah mengalami perubahan iklim. Adaptasi tersebut khususnya bisa diterapkan di bidang pertanian.

“Kita bisa mengubah pola tanam dan juga mengubah bibit unggul, jadi kita lebih memprioritaskan pertanian secara intensif, kemudian membiasakan diri dengan makanan pokok lain. Itulah yang perlu ditingkatkan sebagai makanan lokal,” ujar Kimi.

Penulis: Hilel Hodawya

Editor: Kezia Maharani Sutikno

Foto: Elvira Lisa