SERPONG, ULTIMAGZ.com – Saat ini, dunia hiburan tengah mengalami perubahan besar. Layar lebar bioskop mulai tersaingi oleh layar vertikal di ponsel yang kita genggam setiap hari. Fenomena drama vertikal, yang sering disebut sebagai micro drama, telah menjadi tren global dan mengubah cara masyarakat menikmati serta mengonsumsi cerita.
Jika sebelumnya Ultimates terbiasa meluangkan waktu dua jam untuk menonton film berformat lanskap di layar lebar, kini jutaan orang justru menikmati episode-episode singkat berdurasi sekitar satu menit yang dibuat khusus untuk layar ponsel. Perubahan ini tidak hanya soal peralihan ke rasio 9:16, tetapi juga menandai perubahan besar dalam cara penonton menikmati hiburan dan strategi media untuk menyeimbanginya.
Baca juga: Bed rotting, Perawatan Diri Lewat Tidur Ala Gen Z
Melansir kompas.id, daya tarik utama dari drama vertikal terletak pada kemampuannya untuk memberikan kepuasan instan melalui narasi yang sangat padat. Dalam format ini, tidak ada ruang untuk eksposisi yang lambat atau pemandangan alam yang panjang seperti dalam film-film klasik. Setiap detik sangatlah berharga, konflik harus muncul di 10 detik pertama dan setiap episode biasanya diakhiri dengan cliffhanger yang memaksa penonton untuk terus menggulir ke bawah.
Drama-drama ini sering kali mengadaptasi kiasan atau tropes yang sangat populer di platform cerita digital seperti Wattpad, mulai dari kisah balas dendam, identitas rahasia, hingga romansa antara pengusaha kaya raya dan gadis biasa. Meskipun terkadang terasa klise, intensitas emosional yang ditawarkan sangat efektif dalam menjerat perhatian audiens yang memiliki rentang perhatian semakin pendek, dilansir dari magdalene.co.
Secara teknis, sinematografi drama vertikal menuntut pendekatan yang sangat berbeda dari sinema biasanya. Karena dibuat secara horizontal, fokus utama beralih sepenuhnya pada ekspresi wajah dan bahasa tubuh aktor. Teknik close-up menjadi utama dalam format ini, memungkinkan penonton merasakan kedekatan emosional yang sangat intim dengan karakter. Penempatan teks, penggunaan musik latar yang dramatis, hingga transisi yang cepat menjadi elemen krusial untuk menjaga ritme agar penonton tidak merasa bosan.
Mengutip variety.com, fenomena ini juga mencerminkan pergeseran besar dalam model bisnis industri kreatif. Platform khusus seperti DramaBox atau konten di TikTok dan Instagram Reels telah membuktikan bahwa audiens bersedia membayar atau menonton iklan demi melanjutkan cerita yang membuat mereka penasaran.
Baca juga: Dari Layar Lebar ke TikTok: Gaya Film Wes Anderson Jadi Tren Fotografi
Pada akhirnya, drama vertikal menunjukkan bahwa cerita selalu bisa menyesuaikan diri dengan perangkat yang kita gunakan. Hadir menemani waktu istirahat, perjalanan di transportasi umum, atau momen sebelum tidur. Kehadirannya mengingatkan kita bahwa pada dasarnya manusia akan selalu membutuhkan cerita yang mampu menyentuh emosi, tidak peduli seberapa kecil layar yang dipakai untuk menontonnya.
Penulis: Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Kezia Laurencia
Foto: news.futunn.com
Sumber: kompas.id, magdalene.co, variety.com





