“A 3 Minute Hug” Kisah Nyata Reuni Singkat Keluarga di Perbatasan

film a 3 minute hug
Film dokumenter 'A 3 Minute Hug' yang masih layak untuk ditonton. (Foto: Netflix)
Share:

“Bertemu keluarga melalui perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko demi mendapatkan pelukan hangat selama tiga menit”

SERPONG, ULTIMAGZ.com —  A 3 Minute Hug” menceritakan mengenai keluarga yang tinggal di Amerika Serikat dan Meksiko, kemudian mereka terpisah pada perbatasan antara El Paso, Texas dan Ciudad Juárez. Namun, keluarga-keluarga yang terpisahkan ini hanya bisa bertemu dalam suatu acara reuni singkat atau yang dijuluki “Hugs Not Walls” untuk saling bertemu dan bercakap-cakap hanya dalam tiga menit.

Film berdurasi 28 menit ini merupakan film dokumenter Meksiko yang menggambarkan realita di perbatasan Meksiko-AS. Sebagai awal dari film, menampilkan percakapan melalui telepon antarkeluarga di Amerika dan Meksiko. Keseluruhan percakapan ini mengundang penonton merasakan pemanasan dari emosionalnya. Ditampilkan dengan latar pada malam hari sambil diiringi suara telepon membeberkan perasaan rindu mereka yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu dan tibalah esok harinya dapat bertemu. Ada pula percakapan sedih yang mengungkapkan perasaan seorang pria kepada keluarganya bahwa ia sangat menyayangi dan ingin memeluk ibu dan istrinya untuk selamanya. 

(Foto: Netflix)

Berpisah dan Bersatu Membuat Emosi Campur Aduk

Setelah mendengarkan percakapan dari masing-masing keluarga, alur film ini langsung membawa tampilan suasana keesokannya pada siang hari. Untuk membedakan domisili keluarga yang terpisah itu, keluarga yang berasal dari Amerika Serikat menggunakan kaos biru sedangkan kaos putih untuk yang berasal dari Meksiko. Mereka kemudian dikumpulkan di satu area yang terlihat seperti sungai yang kering. Saat acara ini berlangsung, keluarga diminta untuk melakukan registrasi dan mengantre. Momen inilah yang membuat terharu ketika kedua belah keluarga terpisahkan bisa saling melihat dari jauh dan melambaikan tangan.

(Foto: Netflix)

Adegan paling menyentuh dalam dokumenter ini ada pada bagian saat semua keluarga dipertemukan, saling berpelukkan erat dan diiringi dengan tawa serta tangisan. Ditambah lagi, bubuhan musik orkestra seakan-akan membuat pertemuan singkat ini menjadi sebuah bagian ajaib dengan sinematik yang mendalam. Sang sutradara, Everardo González, membuat momen reuni ini menjadi bagian yang sangat berkesan dan membuat emosi campur aduk.

Latar Belakang Film yang Belum Terjawab

Secara garis besar film yang dirilis pada 2018 ini tidak menceritakan secara rinci maksud ataupun latar belakang keluarga ini terpisahkan. Hal ini membuat penonton menebak-nebak maksud setiap bagian dan setiap menit dalam film ini. Utamanya pada pengambilan peran seorang ayah yang bertemu dengan istri dan bayinya. Adegan ini seakan-akan membuat kita sebagai penonton menebak bahwa keluarga ini terpisahkan karena ayahnya harus bekerja dalam mencari nafkah. 

Meskipun minim percakapan dan berdurasi pendek, tidak membuat kualitas “A 3 Minute Hug” dapat dipandang biasa saja,. Banyak bagian tertentu yang memiliki nilai penting terutama pada penyampaian pesan terhadap rasa kemanusiaan. Reuni keluarga singkat ini menunjukkan hal penting apa yang dapat dilakukan untuk lebih menghargainya, apakah untuk berpelukkan kepada orang yang dicintai, ataukah saling memanfaatkan dengan berkomunikasi, bisa juga saling merasakan emosi senang ataupun sedih. 

Walaupun isi film ini masih memiliki tanda tanya besar dalam setiap maksud ceritanya. Film yang berdampak dengan air mata dan sedikit dialog ini berhasil memenangkan nominasi Ariel Award for Best Documentary Short Film. “A 3 Minute Hug” dapat dinikmati melalui platform Netflix.

 

Penulis: Felisitasya Manukbua

Editor: Abel Pramudya Nugrahadi

Foto: Netflix

Sumber: decider.com, rollingstone.com, unilad.co.uk