Bukan Film Romantis Biasa, “Love The Way U Lie” Turut Redam Stigma Budaya Patriarki

review film Love The Way U Lie
Poster film "Love The Way U Lie" yang tayang di Netflix sejak Kamis (20/08/20). (Foto: cinemabravo.com)
Share:

But we can choose to forget those memories and make new ones.” – Sara

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Itulah salah satu bisikan arwah istri kepada cenayang untuk suaminya yang sulit melanjutkan hidup atau move on. Dengan penambahan aspek gaib, film komedi romantis asal Filipina ini menjadi semakin menarik. Namun secara implisit, film “Love The Way U Lie” turut merendamkan stigma negatif dalam budaya yang patriarkis lewat perbuatan dan perkataan para pemain.

Kisah ini bermula saat cenayang bernama Stacey (Alex Gonzaga) dapat menjawab pertanyaan personal Nathan (Xian Lim) dengan tepat. Ternyata hal tersebut berkat mendengar bisikan arwah istrinya Nathan, Sara (Kylie Verzosa).

Melihat Stacey bisa berkomunikasi dengan Sara, Nathan pun menggunakan kesempatan tersebut agar bisa kembali berbicara dengan istrinya yang setahun lalu meninggal karena kecelakaan. Sempat takut dan panik karena dapat mendengar suara arwah, tapi Stacey akhirnya memutuskan untuk menjadi jembatan antara mereka agar Nathan dapat move on.

Tidak semudah itu untuk move on dan menerima cinta yang baru. Selama proses Nathan untuk melepas cintanya kepada Sara, ia sempat terlihat sedih sampai menangis. Adegan tersebut wajar adanya dan tidak harus dipandang tabu. Laki-laki juga butuh menangis karena mereka juga manusia yang dapat meluapkan emosi.

Selain meredam kebiasaan toxic masculinity, film garapan RC Delos Reyes juga memberikan ruang untuk perempuan melakukan pendekatan dan menyatakan rasa cinta lebih dahulu kepada laki-laki. Tidak perlu mengotak-kotakan gender perihal siapa duluan yang harus menyatakan perasaan. Bahkan hal tersebut sudah diatur dalam pasal 19 Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia (UDHR) bahwa semua orang berhak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi.

 “Nathan, can you please move on already? At least do that. So that whoever will love you next, will not feel the pain that I feel now,” ujar Stacey kepada Nathan setelah ungkapan rasa cintanya ditolak.

Dalam film “Love The Way U Lie”, Ultimates akan mendapati penambahan grafik dengan iringan musik yang mendukung sehingga emosi pemain lebih tersampaikan. Misalnya pada saat Stacey bertemu dengan Nathan untuk pertama kali, adegan ditambah dengan grafik gelembung dengan alunan musik senang. Warna gambar dan pemilihan latar tempat juga dapat membuat Ultimates nyaman untuk memandang serta menikmati film berdurasi 99 menit ini. 

Meski memiliki plot film komedi romantis pada umumnya, tetapi “Love The Way U Lie” termasuk film yang bisa meredamkan stigma dalam budaya patriarki. Di mana laki-laki menangis menjadi hal yang biasa dan perempuan boleh saja menyatakan cinta lebih dahulu.

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor: Agatha Lintang Kinasih

Foto: cinemabravo.com