BBC “Extinction: The Facts” Tunjukkan Ancaman Hilangnya Biodiversitas

Poster dokumenter BBC “Extinction: The Facts.” (Foto: bbc.co.uk)
Poster dokumenter “Extinction: The Facts.” (Foto: bbc.co.uk)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – David Attenborough kembali mengangkat isu lingkungan dengan dokumenter berjudul “Extinction: The Facts.” Ditayangkan di BBC, film keluaran tahun 2020 ini menceritakan tentang bagaimana manusia merusak kekayaan alam secara terus-menerus dan berpotensi memusnahkan satu juta spesies flora dan fauna di Bumi.

Kehilangan keanekaragaman hayati tak hanya sekadar kehilangan ‘pemandangan yang indah’ atau ‘hewan yang lucu’, tetapi memiliki jurang yang lebih dalam dari itu. Kehilangan ini dapat mengancam keseimbangan Bumi, dan tentunya akan berpengaruh pada manusia, terutama dalam aspek makanan, air, dan iklim. Selain itu, kehilangan ini juga berpotensi memunculkan pandemi-pandemi baru di masa depan.

Sajikan Kepunahan Lewat Beragam Sudut Pandang

Film ini dimulai dengan testimoni dari David Attenborough dan berbagai ilmuwan terkait dengan skala kepunahan hewan dan tumbuhan akibat dari ulah manusia. Dokumenter ini juga mengomentari waktu kepunahan spesies yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan peristiwa kepunahan sebelumnya.

“Sejak 1970, vertebrata – binatang seperti burung, mamalia, amfibi, dan reptil – telah menurun hingga 60% secara total,” tutur Chief Scientist BirdLife International Stuart Butchart dalam film ini.

Selanjutnya, film ini membawa kita ke benua Afrika, berkenalan dengan James Mwenda, seorang konservasionis yang menjaga dua badak putih utara terakhir yang ada di Afrika. Kedua badak ini merupakan ibu dan anak. Ibunya, yaitu Najin, berusia 30 tahun, sementara anaknya, Fatu, berusia 19 tahun.

Dokumenter ini menceritakan, dahulunya, badak putih utara Afrika dapat ditemukan hingga ribuan di habitat asalnya. Namun, perburuan dan rusaknya habitat menyebabkan spesies ini hanya tersisa 7 di tahun 1990, dan tersisa 2 pada tahun ini.

 “Dan saya pikir mereka merasakannya, gelombang kepunahan yang mengancam ini mendorong mereka. Mereka merasakan bahwa dunia mereka sedang runtuh,” ujar James dalam film ini.

Tak hanya badak putih utara Afrika yang terancam punah, hewan lain seperti trenggiling dan ikan-ikan laut terancam pula. Kebiasaan budaya masyarakat yang memercayai beberapa hewan sebagai obat, pun juga perilaku overfishing yang kian marak dilakukan menjadi sebab lain dari terjadinya kepunahan fauna.  

Selain itu, film ini juga memaparkan bagaimana kebiasaan manusia yang terus-menerus mengambil dari alam, memproduksi barang secara massal dengan menghancurkan berbagai biodiversitas yang ada, dan bagaimana pola konsumsi masyarakat berperan dalam kepunahan flora dan fauna.

Gaungkan Penyelamatan Keanekaragaman Hayati

Secara garis besar, film yang ditayangkan di BBC ini berhasil menunjukkan keparahan dan ancaman dari punahnya keanekaragaman hayati kepada penonton. Film ini juga memaparkan fakta dan narasi dengan cara yang simple tetapi memikat sehingga membuat penonton tertarik untuk menyimak apa yang disampaikannya.

Selain itu, dokumenter ini juga memberikan penyadaran dan solusi kepada seluruh elemen masyarakat, pun juga pengusaha dan pemerintah agar mencari jalan pertumbuhan ekonomi dengan cara yang lebih berkelanjutan. Tujuannya, agar manusia tak lagi menghancurkan alam dan tak lagi memusnahkan biodiversitas yang ada di Bumi.

Alam dan manusia adalah komponen yang saling terkait. Flora dan fauna yang ada di Bumi merupakan salah satu faktor penunjang ekosistem seluruh kehidupan. Ibarat bermain stacko, menghilangkan bagian-bagian penopang kehidupan dapat menyebabkan keruntuhan seluruh ekosistem planet, termasuk manusia. Seperti kata pepatah, alam tidak membutuhkan manusia, tapi manusia lah yang membutuhkan alam.

“If we make the right decisions at this critical moment, we can safeguard our planet’s ecosystems, its extraordinary biodiversity and all its inhabitants.” – David Attenborough, Extinction: The Facts.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Xena Olivia

Foto: bbc.co.uk