Sosok Ruhana Kuddus, Jurnalis Perempuan Pertama yang Raih Gelar Pahlawan Nasional

Menjelang peringatan Hari Pahlawan, Presiden Joko Widodo memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Ruhana Kuddus. Ruhana merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia. (Foto: sultrakini.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Sudah menjadi tradisi bagi presiden untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada beberapa tokoh menjelang peringatan Hari Pahlawan. Dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan, Jumat (08/11/19) di Istana Negara, Presiden Joko Widodo memberi gelar pahlawan nasional kepada enam tokoh, salah satunya Ruhana Kuddus.

Ruhana Kuddus merupakan jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Sepak terjang Ruhana di bidang jurnalistik dimulai sejak tahun 1908. Saat itu, ia tergabung dengan surat kabar Poetri Hindia yang kemudian dibredel oleh Belanda. Akhirnya, perempuan berdarah Minangkabau itu mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada 1911. Kelak, Sunting Melayu menjadi cikal bakal koran perempuan pertama di Indonesia dengan Ruhana sebagai pemimpin redaksi.

Keluarga Ruhana merupakan bagian dari pejuang kemerdekaan. H. Agus Salim yang sudah lebih dulu bergelar pahlawan nasional merupakan sepupu Ruhana. Pahlawan nasional Sutan Sjahrir juga termasuk kerabat Ruhana. Selain itu, pujangga Chairil Anwar adalah keponakan dari Ruhana. Oleh karena itu, semasa hidupnya Ruhana juga memperjuangkan kemerdekaan, khususnya bagi perempuan.

Pada masa itu, status perempuan masih terpinggirkan, khususnya di Koto Gadang, Sumatera Barat. Akhirnya, Ruhana membentuk tempat pendidikan perempuan yang dinamakan Pusat Karadjinan Amai Satia pada 11 Februari 1911. Lembaga tersebut mengajarkan perempuan menulis, membaca, berhitung, keterampilan rumah tangga, pendidikan agama, hingga kerajinan tangan. Ruhana berharap, PK Amai Satia bisa melahirkan perempuan yang mandiri, termasuk dalam hal ekonomi.

Tak hanya itu, profesinya yang merupakan wartawan dan pemimpin redaksi membuat Ruhana vokal menyuarakan hak perempuan agar terbebas dari keterbelakangan dan ketidakadilan. Perannya bisa mengubah stigma dunia jurnalistik yang lekat dengan maskulinitas.

Berkat kegigihannya dalam memperjuangkan kaum perempuan, Ruhana menerima berbagai penghargaan. Beberapa penghargaan tersebut di antaranya Bronzen Ster (1941), Penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto (1987), Penghargaan Kebudayaan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (2007), hingga pemberian gelar Pahlawan Nasional (2019).

Selain Ruhana, terdapat enam tokoh lainnya yang mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Presiden Joko Widodo, antara lain Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Sulawesi Tenggara), Prof. Dr. M. Sardjito (DI Yogyakarta), K. H. Abdul Kahar Mudzakkir (DI Yogyakarta), A. A. Maramis (Sulawesi Utara), dan K. H. Masjkur (Jawa Timur). Keenam tokoh tersebut merupakan hasil seleksi dari 20 nama tokoh yang diajukan ke Presiden.

Penulis: Agatha Lintang

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: sultrakini.com

Sumber: antaranews.com, kompas.com, detik.com