SERPONG, ULTIMAGZ.com – Penyebutan nama “Jenny” saat ini kerap diasosiasikan dengan salah satu anggota girl group BLACKPINK Kim Jennie. Hal ini berbeda dari sudut pandang penikmat skena musik rok lokal yang mengenal Jenny sebagai sebuah band.
Jenny berawal dari gagasan Roby Setiawan dan Farid Stevyasta yang sebelumnya sempat tampil bersama di panggung ospek Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sebuah kaset bertuliskan Youth & Young Manhood karya Kings of Leon yang disodorkan oleh Farid menjadi pemantik dinamika band ini pada pertengahan 2003, dilansir dari prodvokatif.wordpress.com.
Baca juga: Kreatif dan Penuh Semangat, Kenali 5 Band Indie Asal Asia Tenggara
Jenny beranggotakan Roby Setiawan sebagai gitaris, Anis Setiaji di drum, Arjuna Bangsawan menjadi bassist, dan Farid Stevyasta menempati posisi vokalis. Band ini tampil di panggung-panggung perguruan tinggi mulai dari ISI hingga kampus lainnya di Yogyakarta.
Mereka tampil dengan membawakan ulang lagu-lagu Pantera, The Ramones, Kings of Leon, The Rolling Stones dan Coldplay, serta The Strokes. Kekhasan pementasan Jenny selalu dipenuhi dengan semangat yang tak memperhitungkan jumlah penonton, penggemar, dan mereka yang mengerti lagunya.
Manifesto yang Menerjang Para Idealis
Setelah tujuh tahun terbentuk, Jenny merilis album pertama dan terakhirnya yang berjudul Manifesto. Album rilisan 2009 ini sebenarnya merupakan pemolesan dari prototipe lagu klasik yang sudah ada sejak 2004.

Dinamika mereka sampai 2009 pada saat itu hanya berfokus kepada membawakan kembali lagu-lagu musisi lain. Namun, tak jarang mereka batal tampil karena band atau seniman yang diprioritaskan, dilansir dari interview bersama IKonserChannel.
Jadi “7 Tahun omong kosong berarti Jenny itu,” ucap sang vokalis dalam wawancara bersama IKonserChannel pada 2022 lalu.
Sepuluh lagu yang ada dalam album ini bukan sekadar racauan keempat bangsat karib ini, melainkan mengandung berbagai kritik dan penggambaran sosial. Misalnya perasaan penyesalan akan cinta dalam lagu “The Only Way”, hubungan antara manusia dan dosa yang berkuasa pada “Matimuda”, berkurangnya pemikiran-pemikiran baru dalam “Manifesto Postmodernisme”, hingga keluhan para kaum buruh serta pekerja tersaji dalam lagu “Menangisi Akhir Pekan” dan “Monster Karaoke”.
Lirik-liriknya menusuk hati disertai alunan nada gitar yang kental dan nuansa rok, hingga dentuman drum yang kencang mewarnai kanvas Manifesto yang memberikan warna selain hitam-putih seperti gambar album tersebut.
Baca juga: Mengenal The Dare, Band Indie Perempuan Asal Lombok
Dua tahun setelah perilisan Manifesto atau tepatnya pada 2011, Jenny merilis hadiah terakhir bagi para teman pencerita, sebutan bagi penggemar Jenny. Hadiah itu adalah single bertajuk “Hari Terakhir Peradaban” yang dirilis secara gratis di laman jennytemanpencerita.blogspot.com sebagai penyambung kabar berpisahnya Anis Setiaji dan Arjuna Bangsawan dari formasi Jenny.
Pasca berpencarnya personel Jenny, Farid dan Roby kembali berkarya dengan menjelma sebagai FSTVLST kala Anis dan Arjuna fokus bekerja dan berkarier. Meski begitu, penonton kerap merasakan nuansa Jenny selama penampilan FSTVLST.
Jenny Kembali Tampil setelah 12 Tahun
Melansir cherrypop.id, kabar yang membawakan euforia bagi para teman pencerita tiba setelah dua dekade band ini dibentuk. Terhitung sejak 2011, sudah 12 tahun Jenny sebagai sebuah persona hilang tanpa jejak. Pada pementasan Cherrypop 2023 di Yogyakarta, mereka kembali muncul ke permukaan dengan membawakan seluruh lagu Manifesto dalam pementasan itu.
Kemunculan band mitos ini kembali membawakan sukacita bagi pendengar skena musik rok. Setelah penampilannya pada 2023, Jenny mulai rutin muncul ke permukaan dalam pementasan. Namun, hanya dua kali dalam setahun dikarenakan masing-masing personel telah memiliki jadwal dan kesibukan tersendiri.

Tak main-main, panggung Jenny yang gaib telah bertransformasi menjadi panggung headline seperti Pestapora. Tahun ini, mereka kembali muncul bersama dengan Majelis Lidah Berduri yang sama-sama sebagai band mitos dalam pertunjukkan Saemen Fest 2025. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah kolaborasi unik antara kedua band ini. Tajuk dari kolaborasi ini adalah “Jenny is a Melancholic Bitch” yang menggabungkan Jenny dan Majelis Lidah Berduri atau lebih dikenal dengan nama Melancholic Bitch.
Pergantian dekade dan berubahnya skena musik rok menemani perjalanan Jenny dan para teman pencerita. Jenny sebagai sebuah persona menolak kematiannya dan bangkit kembali sebagai grup “hampir rock” yang dapat muncul kapan saja dua kali dalam setahun.
Teman bermain diperankan oleh perangkat digital
Playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa
Berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi
Rayakan apa saja hari ini
Baca juga: Kenali PORIS, Kolektif Hiphop yang Membawa Ombak dari Tangerang
Perjalanan yang dimulai dari pertunjukkan kampus, dilanjutkan dengan pertunjukkan gigs, dan akhirnya dikenang sebagai band gaib yang melegenda. Siapkah Ultimates untuk membungkam para arogan dan menerjang para ideal bersama Jenny?
Jika iya, seperti pesan yang selalu mereka sampaikan di setiap pertunjukkan. “Terima kasih telah mengambil keputusan (kembali) untuk mendukung Jenny, selamat menikmati (kembali).”
Penulis: Febrian Dwianto
Editor: Jessie Valencia
Foto: prodvokatif/Anto Wibowo, ULTIMAGZ/Febrian Dwianto, music.apple.com
Sumber: prodvokatif.wordpress.com, cherrypop.id, IKonserChannel





