• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Friday, February 20, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan

Perjalanan Jenny: Distorsi Band Hampir Rock

Jessie Valencia Tannuwijaya by Jessie Valencia Tannuwijaya
December 24, 2025
in Hiburan, Musik
Reading Time: 5 mins read
Visual Jenny dalam acara Hingar Bingar Hampa di Hosel Bistro, Mlati, D.I. Yogyakarta, Sabtu (21/12/24). (prodvokatif/Anto Wibowo)

Visual Jenny dalam acara Hingar Bingar Hampa di Hosel Bistro, Mlati, D.I. Yogyakarta, Sabtu (21/12/24). (prodvokatif/Anto Wibowo)

0
SHARES
124
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Penyebutan nama “Jenny” saat ini kerap diasosiasikan dengan salah satu anggota girl group BLACKPINK Kim Jennie. Hal ini berbeda dari sudut pandang penikmat skena musik rok lokal yang mengenal Jenny sebagai sebuah band. 

Jenny berawal dari gagasan Roby Setiawan dan Farid Stevyasta yang sebelumnya sempat tampil bersama di panggung ospek Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Sebuah kaset bertuliskan Youth & Young Manhood karya Kings of Leon yang disodorkan oleh Farid menjadi pemantik dinamika band ini pada pertengahan 2003, dilansir dari prodvokatif.wordpress.com.

Baca juga: Kreatif dan Penuh Semangat, Kenali 5 Band Indie Asal Asia Tenggara  

Jenny beranggotakan Roby Setiawan sebagai gitaris, Anis Setiaji di drum, Arjuna Bangsawan menjadi bassist, dan Farid Stevyasta menempati posisi vokalis. Band ini tampil di panggung-panggung perguruan tinggi mulai dari ISI hingga kampus lainnya di Yogyakarta. 

Mereka tampil dengan membawakan ulang lagu-lagu Pantera, The Ramones, Kings of Leon, The Rolling Stones dan Coldplay, serta The Strokes. Kekhasan pementasan Jenny selalu dipenuhi dengan semangat yang tak memperhitungkan jumlah penonton, penggemar, dan mereka yang mengerti lagunya. 

Manifesto yang Menerjang Para Idealis

Setelah tujuh tahun terbentuk, Jenny merilis album pertama dan terakhirnya yang berjudul Manifesto. Album rilisan 2009 ini sebenarnya merupakan pemolesan dari prototipe lagu klasik yang sudah ada sejak 2004. 

Gambar album pertama Jenny Manifesto. (Apple Music)
Gambar album pertama Jenny Manifesto. (music.apple.com)

Dinamika mereka sampai 2009 pada saat itu hanya berfokus kepada membawakan kembali lagu-lagu musisi lain. Namun, tak jarang mereka batal tampil karena band atau seniman yang diprioritaskan, dilansir dari interview bersama IKonserChannel.

Jadi “7 Tahun omong kosong berarti Jenny itu,” ucap sang vokalis dalam wawancara bersama IKonserChannel pada 2022 lalu.

Sepuluh lagu yang ada dalam album ini bukan sekadar racauan keempat bangsat karib ini, melainkan mengandung berbagai kritik dan penggambaran sosial. Misalnya perasaan penyesalan akan cinta dalam lagu “The Only Way”, hubungan antara manusia dan dosa yang berkuasa pada “Matimuda”, berkurangnya pemikiran-pemikiran baru dalam “Manifesto Postmodernisme”, hingga keluhan para kaum buruh serta pekerja tersaji dalam lagu “Menangisi Akhir Pekan” dan “Monster Karaoke”.

Lirik-liriknya menusuk hati disertai alunan nada gitar yang kental dan nuansa rok, hingga dentuman drum yang kencang mewarnai kanvas Manifesto yang memberikan warna selain hitam-putih seperti gambar album tersebut.

Baca juga: Mengenal The Dare, Band Indie Perempuan Asal Lombok

Dua tahun setelah perilisan Manifesto atau tepatnya pada 2011, Jenny merilis hadiah terakhir bagi para teman pencerita, sebutan bagi penggemar Jenny. Hadiah itu adalah single bertajuk “Hari Terakhir Peradaban” yang dirilis secara gratis di laman jennytemanpencerita.blogspot.com sebagai penyambung kabar berpisahnya Anis Setiaji dan Arjuna Bangsawan dari formasi Jenny. 

Pasca berpencarnya personel Jenny, Farid dan Roby kembali berkarya dengan menjelma sebagai FSTVLST kala Anis dan Arjuna fokus bekerja dan berkarier. Meski begitu, penonton kerap merasakan nuansa Jenny selama penampilan FSTVLST. 

Jenny Kembali Tampil setelah 12 Tahun

Melansir cherrypop.id, kabar yang membawakan euforia bagi para teman pencerita tiba setelah dua dekade band ini dibentuk. Terhitung sejak 2011, sudah 12 tahun Jenny sebagai sebuah persona hilang tanpa jejak. Pada pementasan Cherrypop 2023 di Yogyakarta, mereka kembali muncul ke permukaan dengan membawakan seluruh lagu Manifesto dalam pementasan itu. 

Kemunculan band mitos ini kembali membawakan sukacita bagi pendengar skena musik rok. Setelah penampilannya pada 2023, Jenny mulai rutin muncul ke permukaan dalam pementasan. Namun, hanya dua kali dalam setahun dikarenakan masing-masing personel telah memiliki jadwal dan kesibukan tersendiri. 

Ilustrasi teman pencerita yang memakai baju “Who the F*** is Jenny”. (ULTIMAGZ/Febrian Dwianto)
Ilustrasi teman pencerita yang memakai baju “Who the F*** is Jenny”. (ULTIMAGZ/Febrian Dwianto)

Tak main-main, panggung Jenny yang gaib telah bertransformasi menjadi panggung headline seperti Pestapora. Tahun ini, mereka kembali muncul bersama dengan Majelis Lidah Berduri yang sama-sama sebagai band mitos dalam pertunjukkan Saemen Fest 2025. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah kolaborasi unik antara kedua band ini. Tajuk dari kolaborasi ini adalah “Jenny is a Melancholic Bitch” yang menggabungkan Jenny dan Majelis Lidah Berduri atau lebih dikenal dengan nama Melancholic Bitch. 

Pergantian dekade dan berubahnya skena musik rok menemani perjalanan Jenny dan para teman pencerita. Jenny sebagai sebuah persona menolak kematiannya dan bangkit kembali sebagai grup “hampir rock” yang dapat muncul kapan saja dua kali dalam setahun. 

Teman bermain diperankan oleh perangkat digital

Playlist andalan bagai ayat-ayat dalam doa

Berteriak, soraki laju lagu tangisi melodi

Rayakan apa saja hari ini

Baca juga: Kenali PORIS, Kolektif Hiphop yang Membawa Ombak dari Tangerang

Perjalanan yang dimulai dari pertunjukkan kampus, dilanjutkan dengan pertunjukkan gigs, dan akhirnya dikenang sebagai band gaib yang melegenda. Siapkah Ultimates untuk membungkam para arogan dan menerjang para ideal bersama Jenny? 

Jika iya, seperti pesan yang selalu mereka sampaikan di setiap pertunjukkan. “Terima kasih telah mengambil keputusan (kembali) untuk mendukung Jenny, selamat menikmati (kembali).”

 

Penulis: Febrian Dwianto

Editor: Jessie Valencia

Foto: prodvokatif/Anto Wibowo, ULTIMAGZ/Febrian Dwianto, music.apple.com

Sumber: prodvokatif.wordpress.com, cherrypop.id, IKonserChannel

Tags: Bandband indonesiaFSTVLSTIndonesiaJennyrockskenayogyakarta
Jessie Valencia Tannuwijaya

Jessie Valencia Tannuwijaya

Related Posts

Lukisan Le Soir, oleh Charles Le Brun, menggambarkan Morpheus (dewa mimpi) beristirahat di gua dikelilingi bunga poppy. (1669) (Louvre)
Hiburan

Bukan Hanya 12 Dewa Olimpus, 3 Dewa ini Juga Tidak Kalah Keren!

February 18, 2026
Sampul buku Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury. (source.com/photographer)
Literatur

Fahrenheit 451: When Reading Becomes the Crime

February 13, 2026
Tampilan Joseph Zada dalam cuplikan terbaru (Lionsgate)
Film

Sunrise on the Reaping: Kembalinya Serial Populer Hunger Game

February 11, 2026
Next Post
Momen kebersamaan saat menikmati tontonan bersama di tengah dekorasi hangat khas Natal. (crosswalk.com)

Hangatkan Akhir Tahun, Ini 3 Film Natal untuk Temani Liburan

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eleven + thirteen =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021