Menguak Rahasia Jamur dalam “Fantastic Fungi”

Menguak Rahasia Jamur dalam Fantastic Fungi
Cover Film “Fantastic Fungi.” (Foto: fantasticfungi.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – “Fantastic Fungi” merupakan dokumenter yang menceritakan bagaimana jamur berperan di kehidupan manusia. Film berdurasi 81 menit ini disutradarai oleh Louie Schwartzberg dan memilih Brie Larson sebagai pengisi suaranya.

Film keluaran tahun 2019 ini dimulai dengan kisah Paul Stamets, seorang peneliti jamur yang memiliki banyak penemuan berharga terkait jamur dan manfaatnya bagi kesehatan. Selain itu, film ini juga menunjukkan bagaimana jamur berperan dalam beragam lapisan kehidupan, mulai dari tanaman hingga manusia. Jamur memiliki sifat menghancurkan, pun juga menopang sebuah ekosistem.

Berisikan narasi tentang bagaimana jamur ada di sekitar kita, film ini membawa penonton masuk ke dalam magisnya kehidupan jamur. Sebuah koloni yang tak terlihat, tetapi menyimpan beragam keajaiban. Salah satu keajaibannya adalah bagaimana kemudian jamur dapat saling terhubung antara satu dengan yang lainnya, pun juga menghubungkan dirinya dengan makhluk hidup di sekitarnya.

Mycelium, salah satu komponen utama jamur, memiliki cara kerja yang sama dengan neuron dalam otak manusia, yakni sebagai jalur pengantar. Mycelium mengantarkan air dan nutrisi untuk pepohonan dan jamur lainnya, tetapi juga berperan sebagai medium komunikasi antar makhluk, dilansir dari smithsonianmag.com.

Film ini juga mengangkat kasus jamur kontroversial, yakni jamur yang mengandung psilocybin, salah satu zat halusinogen. Zat ini mampu memberikan rasa euforia dan distorsi sensorik yang umum terjadi pada obat halusinogen, seperti LSD, dilansir dari medicalnewstoday.com. Film ini menggambarkan psilocybin sebagai salah satu zat yang berpotensi untuk mengurangi rasa cemas seseorang, khususnya pasien kanker, dalam memikirkan kehidupan dan kematian.

Psilocybin merupakan zat yang berpotensi tinggi untuk disalahgunakan dan saat ini tidak diterima penggunaannya dalam perawatan medis di Amerika Serikat. Namun, peluang psilocybin dalam penelitian masih terbuka, melihat John Hopkins University melakukan penelitian terhadap zat itu.

Melansir drugs.com, peneliti John Hopkins University memberikan psilocybin dosis kecil kepada 51 orang dewasa dengan kanker stadium lanjut, diikuti dengan dosis yang lebih tinggi lima minggu kemudian, dengan tindak lanjut selama 6 bulan. Hasilnya, sekitar 80 persen peserta mengalami kelegaan yang signifikan secara klinis dari kecemasan dan depresi mereka yang berlangsung hingga enam bulan.

Secara garis besar, film ini berhasil membawa penonton masuk dalam pesona misteri jamur yang disuguhkannya. Mulai dari kemampuan mycelium sebagai medium komunikasi antar tanaman, hingga kontroversi psilocybin di berbagai negara dunia dan potensinya untuk kesehatan mental.

Namun, alur dalam film ini belum begitu runut sehingga penonton tidak sepenuhnya hanyut dalam jalan cerita yang disuguhkan. Walaupun begitu, film ini memberikan informasi yang mampu membuka mata masyarakat terkait dengan kontroversi jamur dan manfaatnya dalam bidang kesehatan.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Xena Olivia

Foto: fantasticfungi.com

Sumber: smithsonianmag.com, medicalnewstoday.com, drugs.com