SERPONG, ULTIMAGZ.com – Wes Anderson tidak punya akun TikTok. Ia juga bukan influencer maupun kreator konten. Namun demikian, namanya menjadi tagar yang ditonton lebih dari 622 juta kali di TikTok. Konten tersebut dipenuhi foto dan video dengan palet warna pastel, komposisi yang simetris, serta properti antik yang tersusun rapi. Lantas, bagaimana seorang sutradara bisa tanpa sengaja menciptakan tren besar di media sosial?
Awal Karier Wes Anderson
Sutradara kelahiran Houston, Texas pada 1969 ini mulai mengenal dunia film sejak kecil. Melansir imdb.com, ia gemar menulis lakon dan membuat film bersama saudara-saudaranya. Saat berkuliah di University of Texas di Austin, Anderson bertemu dengan Owen Wilson. Dari pertemuan tersebut, karier perfilman Anderson pun mulai berkembang.
Baca juga: Sunrise on the Reaping: Kembalinya Serial Populer Hunger Game
Debut Anderson sebagai sutradara dimulai lewat Bottle Rocket (1996). Film bertema perampokan ini memang tidak laku secara komersial. Meski demikian, film tersebut berhasil menarik perhatian sutradara besar, salah satunya Martin Scorsese. Setelah itu, Anderson terus berkarya dan membangun gaya khasnya. Beberapa filmnya antara lain Rushmore (1998), Fantastic Mr. Fox (2009), Moonrise Kingdom (2012), The Grand Budapest Hotel (2014), The French Dispatch (2021), dan Asteroid City (2023), dilansir dari liputan6.com.
Karakteristik Film Wes Anderson
Lalu, apa yang membuat sutradara kelahiran Texas ini berbeda dari sutradara lain? Para kritikus menyebutnya sebagai seorang auteur, yakni sutradara yang gaya pribadinya begitu kuat. Oleh karena itu, setiap filmnya terasa memiliki ciri khas yang sama.
Ada tiga elemen utama yang membentuk karakteristik film Anderson. Pertama, komposisi yang simetris. Melansir frame.io, sinematografer tetap Anderson, Robert Yeoman, menggunakan pita ukur untuk memastikan kamera berada tepat di pusat arsitektur. Akibatnya, presisi ini terlihat di hampir setiap cuplikan filmnya.

Kedua, palet warna yang unik. Setiap film garapan Anderson memiliki skema warnanya sendiri. Misalnya, warna merah muda di The Grand Budapest Hotel atau biru dan hijau di Moonrise Kingdom. Skema warna ini bukan sekadar dekorasi. Selain itu, warna juga berfungsi untuk menyampaikan emosi dan suasana cerita, dilansir dari artmajeur.com.

Terakhir, cara penyampaian dialog yang datar dan teatrikal. Melansir studiobinder.com, tokoh-tokoh Anderson berbicara dengan ritme teratur dan ekspresi yang minim. Dengan demikian, terciptalah dunia yang terasa seperti keluar dari buku fiksi bergambar.
Tren “Wes Anderson Style” yang Merebak
Dari layar lebar, ciri khas Anderson kemudian merambah ke genggaman jutaan orang. Tagar #WesAnderson di TikTok dipenuhi video perjalanan, foto keseharian, hingga sesi foto pasangan. Menariknya, hampir semua konten tersebut meniru tiga ciri khas Anderson. Melansir dari bostonglobe.com, komunitas daring bernama Accidentally Wes Anderson yang didirikan Wally dan Amanda Koval sejak 2017 kini memiliki hampir dua juta pengikut di Instagram. Bahkan, komunitas ini telah menerbitkan dua buku, terakhir pada Oktober 2024.
@avawillyumsWith a good imagination, everything is symmetrical. Let a girl day dream! #wesanderson♬ Wes Anderson-esque Cute Acoustic – Kenji Ueda
Kreator konten Ava Williams merekam perjalanan keretanya dengan ciri khas Wes Anderson (TikTok/@avawillyums)
Baca juga: Tengah Ramai, Mari Lihat Empat Ciri Khas Film Wes Anderson
Tidak hanya itu, gaya ini juga merambah ke dunia fotografi profesional. Mulai dari sesi foto keluarga hingga konsep foto pranikah, semuanya mengadopsi ciri khas Anderson sebagai inspirasi. Sebagai contoh, fotografer Liz Seabrook bahkan menerbitkan buku berjudul Shoot Like Wes: A Practical Guide to Creating Your Own Wes Anderson Photography pada Juni 2025, dilansir dari luminous-landscape.com.
Anderson tidak mengejar tren dan tidak bermain media sosial. Ia pun tidak pernah berusaha menjadi ikon budaya populer. Justru sebaliknya, konsistensinya dalam membangun dunia visual yang unik membuatnya relevan lintas generasi. Pada akhirnya, gaya yang ia bangun selama puluhan tahun itu menjadi inspirasi bagi jutaan orang di seluruh dunia.
Penulis: Aurelia Lisbeth Angelica
Editor: Reza Farwan
Foto: Disney
Sumber: artmajeur.com, bostonglobe.com, frame.io, imdb.com, indexmagazine.com, liputan6.com, luminous-landscape.com, studiobinder.com




