SERPONG, ULTIMAGZ.com – Syncrhonize Fest 2026 tidak hanya menjadi ruang bagi musisi untuk menampilkan karya-karya mereka, tetapi juga ruang untuk menyuarakan segala hal yang menjadi keresahan mereka. Pada hari pertama, Efek Rumah Kaca yang membuka acara, berkolaborasi dengan KontraS dan Jakarta 32 untuk menyuarakan permasalahan politik yang telah dan sedang terjadi di Indonesia.
Sebelum bermain di Panggung Forest, Efek Rumah Kaca memulai dengan permainan akustik, dengan lagu-lagu yang mengangkat isu politik seperti “Mosi Tidak Percaya” dan “Di Udara”. KontraS dan komplotan Jakarta 32 ikut serta memeriahkan dengan membawa berbagai macam media cetak propaganda untuk merespons isu yang diangkat.
Baca juga: Synchronize Fest 2026: Suara Bergema, Isu Tragis Dibawa
Setelah penampilan akustik, komplotan Jakarta 32 bersama KontraS menampilkan penampilan seni. Penampilan seni tersebut dapat terjadi setelah pihak KontraS menghubungi Jakarta 32 untuk berkolaborasi di awal penampilan Efek Rumah Kaca. Penampilan tersebut dilakukan oleh kelompok Ramuan Fatima, satuan mahasiswi yang kerap menyuarakan isu seputar kekerasan seksual dan juga advokasi.
![Mural kritik sosial buatan kolektif Jakarta 32°C yang ditampilkan di Synchronised Fest 2026 Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, pada Jumat (16/10/2026). [foto id=”384″]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/JKT32_Isi-300x169.png)
Penampilan seni dari Jakarta 32 merespons segala hal yang telah terjadi atau masih terjadi di Indonesia, mengikuti konsep Efek Rumah Kaca dan KontraS yang membawa Aksi Kamisan ke dalam Synchronize. Fokus pesan penampilan Jakarta 32 diakui memang sedikit berbeda, dengan fokus pada isu kebakaran hutan, akses pendidikan, serta kekerasan seksual yang banyak terjadi di ruang-ruang seperti festival.
Baca juga: Melankolia di Priuk: Showcase Dongker di Plaza Kalibaru
“Pada konteks hari ini, kami menyuarakan apa yang sebenarnya kami rasakan atau apa yang kami lihat. Jadi, mungkin memang sedikit berbeda dengan teman-teman yang ada aksi saat Efek Rumah Kaca tampil. Karena kami bertanya kembali, apa sih yang paling urgent pada saat ini? Bisa tentang kebakaran hutan, akses pendidikan, atau kekerasan seksual yang terjadi di ruang-ruang festival,” balas Duta yang juga merupakan bagian dari Jakarta 32 saat ditanya mengenai konteks respons dari Jakarta 32.
Setelah penampilan seni, Efek Rumah Kaca lanjut menampilkan beberapa lagu mereka, termasuk salah satu lagu yang akan menjadi soundtrack untuk film Laut Bercerita yang akan segera rilis. Mulai dari “Cinta Melulu”, “Kenakalan Remaja Di Era Informatika”, dan dibuka dengan “Putih” yang menyentuh banyak penggemar.
Penulis: Muhammad Khairan Ananta Nugroho
Editor: Kezia Laurencia, Reza Farwan
Foto: Gabri Perboire Wilhelminho Ringgi Sengga
Sumber:
![Penampilan Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca di Forest Stage Synchronize Fest 2026, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026). [foto id=”384″]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/ERK_Cover.png)
![Kerumunan penonton di District Stage Synchronize Fest 2026, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, Sabtu (17/10/2026). [foto id=”384″]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/Synchro-Day-2_Cover.png)
![Seseorang melakukan crowdsurfing di tengah kerumunan penonton di Forest Stage Synchronize Fest 2026 yang berlangsung di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, DKI Jakarta, pada Jumat (16/10/2026). [foto id=”384″]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/Synchro-Day-1_Cover-350x250.png)
![Seorang penonton mengenakan balaclava saat konser Dongker bertajuk “Melankolia di Priok” di Plaza Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, DKI Jakarta, Sabtu (10/10/2026). [foto id=”384″]](https://ultimagz.com/wp-content/uploads/Dongker-Cover-350x250.png)
