SERPONG, ULTIMAGZ.com – Setelah membeli laptop baru yang masih bersih, mulus, dan polos, hal pertama yang mungkin akan dilakukan atau dipikirkan beberapa orang adalah menempelkan stiker di permukaannya. Tidak hanya untuk estetika, beberapa orang memaknai penempelan stiker pada laptop sebagai media untuk berekspresi atau menyuarakan sesuatu. Di sisi lain, masih banyak juga orang yang memilih untuk tidak menempelkan stiker pada laptop mereka dengan berbagai alasan. Stiker pada laptop menjadi hal yang menarik, melihat bagaimana media sekecil itu dapat merepresentasikan kepribadian atau ketertarikan sang pemilik.
Dari Propaganda Menjadi Media Ekspresi Individu
Stiker merupakan lembaran kertas yang dapat ditempel di berbagai hal. Stiker juga menjadi media cetak yang mudah untuk diproduksi, disebarkan, dan digunakan. Stiker sering sekali menjadi media propaganda atau media promosi bagi berbagai komunitas, usaha, hingga kolektif. Mengutip Bodden dan Awcock (2024), stiker menawarkan klaim politik yang lebih kecil, halus, dan tampak mudah diabaikan jika dibandingkan dengan protes dan aktivitas klaim politik lainnya. Namun, yang tidak disadari adalah stiker telah menjadi metode perlawanan yang digunakan oleh berbagai spektrum. Menjadikannya media yang murah, mudah, dan berisiko rendah untuk mengekspresikan diri atau menyuarakan pendapat.
Baca juga: Memahami Disabilitas Taktampak: Apa Arti di Balik Lanyard Bunga Matahari?
Stiker yang dulu sering kali digunakan sebagai media propaganda politik, kini digunakan sebagai media representasi individu. Layaknya busana atau penampilan, kepribadian dan ketertarikan seseorang terkadang terlihat pada visual stiker yang digunakannya. Mulai dari kata-kata inspiratif atau humoris, hasil desain yang unik, sampai simbol protes menunjukkan bahwa stiker dapat menampung berbagai pesan. Hal ini diakui oleh Gustaf, mahasiswa Teknik Komputer 2024 Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Gustaf mengakui bahwa stiker yang ditempel pada laptopnya memang ditujukan untuk merepresentasikan kepribadian, ketertarikan, hingga cerita emosional yang disukainya.
“Itu bisa, aku setuju banget (bahwa stiker dapat mencerminkan kepribadian dan ketertarikan seseorang). Secara tidak langsung stiker laptop ku merepresentasikan kepribadian atau ketertarikan sih. Salah satu yang paling aku suka, stiker dari production house teman, kata-kata nya humoris,” ujar Gustaf ketika diwawancarai ULTIMAGZ mengenai stiker laptopnya pada Selasa (10/03/2026).
Sebagai Representasi Diri Dan Jejak Aktivitas Kampus
Dalam lingkungan kampus, seorang mahasiswa dapat dikenali melalui penempelan stiker pada laptopnya. Sebagian orang memilih untuk memenuhi permukaan laptop mereka dengan banyak stiker yang saling bertumpuk. Tampilan yang ramai ini biasanya mencerminkan karakteristik seseorang dengan energi yang meluap dan kreativitas yang bebas.
Di sisi lain, ada juga yang menempelkan stiker dengan selektif. Biasanya hanya satu atau dua buah dan ditempatkan dengan posisi yang rapi. Bagi beberapa orang, satu stiker sudah dianggap cukup untuk mewakili identitas mereka secara jelas dan terkurasi. Seperti yang diakui Angel, mahasiswa Strategi Komunikasi 2024, yang lebih menyukai stiker yang ditempel rapi di laptop.
“Aku lebih suka yang rapi sih, lebih enak dilihat, dan terkesan formal dan professional aja, apalagi kalau sering dipakai untuk presentasi di kelas,” ujar Angel ketika diwawancarai ULTIMAGZ pada Jumat (13/03/2026).
Beberapa juga melihat stiker sebagai semacam penanda kenangan, seperti dari acara organisasi, konser band indie, hingga hadiah dari teman. Seperti yang dirasakan oleh mahasiswi Komunikasi Strategis 2024, Tiffany, yang menganggap semua stiker yang ia tempelkan sebagai penanda kenangan di berbagai kegiatan kampus.
“Ada yang dari organisasi, kepanitiaan, dari kakak tingkat, dan juga kebersamaanku dengan teman-teman kelas, semua menjadi kenanganku terhadap mereka,” ujarnya ketika diwawancarai ULTIMAGZ pada Kamis (12/03/2026).
Hal serupa juga dirasakan oleh Erwin, mahasiswa Strategi Komunikasi 2024 pada Kamis (12/03/26). Ia mengatakan bahwa stiker dari organisasi yang ia ikuti merupakan sebuah kebangaan tersendiri. Ini membentuk semacam kolase visual yang menggambarkan pikiran yang aktif, dinamis, dan keinginan untuk mengekspresikan berbagai sisi kepribadian dalam satu ruang kecil.
Aktivisme, Kebebasan Berekspresi, dan Bersuara
Melansir vice.com, banyak mahasiswa yang melihat stiker lebih dari sekadar hiasan, melainkan sebagai media ekspresi pribadi yang menampilkan isu-isu yang dianggap penting. Di tengah suasana kelas yang sibuk, stiker tentang pemberdayaan perempuan, kepedulian lingkungan, atau bahkan pernyataan politik menjadi cara untuk menyampaikan rasa ketertarikan mereka tanpa harus mengatakannya.
Hal ini bisa dilihat sebagai bentuk ekspresi sosial yang sederhana, tetapi terus hadir. Setiap kali laptop dibuka, pesan yang menempel di laptop ikut dilihat oleh orang lain. Dengan memilih stiker dari pandangan atau komunitas tertentu, mahasiswa juga sekaligus menegaskan hubungan mereka dengan kelompok tersebut, misalnya kelompok penggemar K-pop dan anime.
Bagi Adel, mahasiswi Manajemen 2024, stiker yang ditempelkan di laptop juga menjadi suatu media kebebasan berekspresi, terutama tentang kesukaan dan ketertarikannya.
“Aku merasa laptop itu seperti ruang pribadi. Waktu itu, pernah ada fase lagi into (menyukai) K-pop. Jadi, nempelin stiker K-pop dengan desain yang lucu dan estetik itu nambahin mood (suasana hati) bagus,” ujar Adel ketika diwawancarai ULTIMAGZ pada Kamis (12/03/2026).
Tak hanya tentang kesukaan, stiker sering kali beralih fungsi menjadi media aktivisme yang kecil, tetapi bisa dilihat banyak orang. Lewat perpaduan simbol dan tulisan yang menggugah, stiker menjadi visual untuk menyebarkan pesan penting, yang terkadang melekat dengan ranah politik atau kebebasan berekspresi.
Stereotipe Pemilik
Dari hasil wawancara yang dilakukan ULTIMAGZ, rata-rata responden setuju dan mengakui bahwa stiker pada laptop sering sekali merepresentasikan kepribadian atau ketertarikan sang pemilik. Mengutip Rumsey dan Harcourt (2005), jenis pekerjaan dan kelompok sosial dapat dibedakan berdasarkan penampilan mereka, baik penampilan fisik, busana, ataupun barang-barang yang mereka bawa. Dengan begitu, stiker yang cukup dianggap remeh tidak disadari bisa menjadi media kecil yang menentukan impresi seseorang bahkan sebelum bertemu secara langsung.
Namun, stereotipe yang didasarkan stiker laptop memang tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Beberapa responden juga mengatakan bahwa mereka terkadang menempel beberapa stiker hanya untuk mengisi ruang atau bingung harus menempel stiker di mana lagi selain laptop.

Dari Mereka yang Memilih untuk Tidak
Memang tidak semua orang menempel stiker pada laptop, beberapa memiliki alasan tersendiri untuk membiarkan laptop mereka tetap polos. Salah satu alasannya adalah untuk menjaga kebersihan dari laptop itu sendiri, seperti yang dikatakan oleh Jarvis, mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) 2024. Jarvis merasa bahwa menempelkan stiker pada laptop sama saja dengan mengotori laptop, terutama ketika stiker sudah mulai usang dan bekas dari stiker sulit dibersihkan. Bagi beberapa orang seperti Jarvis, merepresentasikan kepribadian atau ketertarikan tidak perlu dengan menempelkan stiker pada laptop, tetapi cukup melalui penampilan seperti busana dan wallpaper gawai yang bisa menjadi alternatif yang cukup baik.
Baca juga: Seiko dan HUF: Ketika Waktu Tidak Hanya Berharga, Tapi Penuh Gaya
“Alasan utama tidak menempelkan stiker di laptop adalah karena takut kotor dan membekas pada laptop. Menempel stiker di laptop sebenarnya bukan hal yang buruk atau tidak baik, tetapi aku memilih laptop yang bersih saja. Sudah pernah mencoba mengumpulkan stiker untuk ditempel, tetapi memang belum rela saja. Orang-orang yang menempelkan stiker di laptop, aku melihat mereka (memiliki) banyak relasi dan sering berkegiatan, punya hobi juga,” ucap Jarvis ketika ditanya ULTIMAGZ pada Selasa (10/03/2026) mengenai laptopnya yang tidak ditempel stiker satupun.
Stiker pada laptop telah bertransformasi menjadi visual tentang siapa kita, apa yang kita lalui, dan apa yang kita pedulikan. Meskipun stereotipe yang muncul dari tempelan stiker tidak selalu akurat, kesan yang ditinggalkannya tetap menjadi faktor penentu impresi seseorang. Jadi, apakah laptop Ultimates saat ini penuh dengan tumpukan kenangan organisasi atau Ultimates lebih memilih membiarkannya polos dan bersih?
Penulis: Muhammad Khairan Ananta Nugroho dan Zalfa Zahiyah Putri Wibawa
Editor: Celine Valleri
Foto: Febrian Dwianto, Tiffany Michiko P.
Sumber:
vice.com, Bodden, S., & Awcock, H. (2024). Stuck up, peeled off, covered up, shared and scribbled out: Doing ordinary politics with political stickers. GeoHumanities, 10(1), 131–149.
https://doi.org/10.1080/2373566X.2024.2339848, Rumsey, N., & Harcourt, D. (2005). The psychology of appearance. Open University Press.





wah menarik banget sama orang yang di foto ganteng