“Eating Disorder”, Pola Makan Berantakan dengan Risiko Tinggi

Ilustrasi eating disorder. (Foto: flo.health)
Ilustrasi eating disorder. (Foto: flo.health)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Eating disorder merupakan salah satu penyakit yang menganggu kondisi kesehatan mental seseorang sehingga ia memiliki obsesi yang tidak sehat dengan makanan, olahraga, atau bentuk tubuh. Gangguan makan ini terjadi ketika seseorang memiliki pola makan yang berantakan dan biasanya tidak sehat seperti melewatkan jam makan, berpuasa dalam jumlah yang tidak wajar, atau makan terlalu banyak.

Dilansir dari eating-disorders.org.uk, kebanyakan orang dengan eating disorder memiliki kepercayaan diri yang rendah dan pendapat yang perfeksionis. Terutama terkait bagaimana mereka harus berpenampilan dan mencapai berat badan ideal. Kebutuhan mereka untuk menjadi sempurna sering kali meluas ke area lain dalam kehidupan.

Menurut Jillian Lampert selaku direktur strategi untuk program Emily, melaporkan bahwa setiap 62 menit setidaknya satu orang meninggal karena gangguan makan ini yang berarti 23 orang per harinya. program Emily (The Emily Program) yang diusung oleh Lampert merupakan pengobatan gangguan makan yang dipersonalisasi untuk remaja, dewasa muda, dan dewasa.

Bagi Lampert, gangguan makan harus ditanggapi dengan serius dan ditangani secara profesional, seperti penyakit fisik atau mental lainnya. Maka dari itu, ia membangun program Emily untuk menawarkan perawatan psikologis, nutrisi, medis, dan psikiatris. Masalahnya, gangguan makan memiliki tingkat kematian tertinggi kedua dari semua penyakit mental.

“Eating disorder itu nyata, serius dan bisa diobati. Mereka tidak halus atau penyakit kesombongan, mereka adalah penyakit berbasis otak yang tidak membeda-bedakan. Namun, ada banyak harapan dan alasan untuk optimis,” kata Lampert.

Terdapat beberapa faktor risiko yang diketahui mampu meningkatkan kemungkinan terjadinya eating disorder. Faktor pertama adalah kondisi emosional. Eating disorder sering dikaitkan dengan masalah fisiologis (bentuk fisik) serta emosional, termasuk stres, depresi, kecemasan, dan harga diri yang rendah. Namun, ini tidak berarti bahwa semua orang dengan gangguan makan menghadapi penyakit mental lainnya. Pasalnya, setiap orang memiliki pergumulan emosional masing-masing.

Faktor kedua adalah lingkungan sekitar, terutama tekanan untuk menyesuaikan diri dengan cita-cita tubuh ideal. Penyebab dalam faktor ini termasuk ejekan, penindasan, dan body-shaming. Media terkadang juga selalu menampakkan standar tubuh yang tidak realistis. Lingkungan tidak bersahabat seperti inilah yang mengarahkan seseorang kepada gangguan makan melalui citra tubuh yang dibuat media.

Faktor selanjutnya adalah ciri-ciri kepribadian. Terdapat hubungan antara karakter seseorang dan risiko mereka dalam mengembangkan gangguan makan. Asosiasi ini terlihat pada ciri-ciri kepribadian tertentu, seperti kesulitan dalam mengelola dan mengekspresikan emosi, kebutuhan akan kontrol, kepercayaan diri yang rendah, dan perfeksionisme.

Maka dari itu, Lampert mengatakan, mereka yang mengalami eating disorder perlu berani berbicara karena suara dan cerita mereka sangat penting. Ia pun menyarankan untuk pergi ke rumah sakit demi meminta bantuan dokter sebagai upaya untuk membantu. Lampert menegaskan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang harus dipermalukan.

“Pemulihan membutuhkan latihan, kesabaran, dan menemukan cara untuk hidup dan bekerja dengan diri Anda sendiri dengan cara yang mungkin belum pernah Anda lakukan sebelumnya,” jelasnya.

 

Penulis: Alycia Catelyn

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: flo.health

Sumber: eating-disorders.org.uk, ntst.com, tirto.id